Ada 36 Juta Sampah Terdampar di Pulau Terpencil Ini

Sebuah pulau kecil nan terpencil di Samudera Pasifik menderita timbunan sampah yang dibuang ke laut dan terdampar di tempat itu. Menurut para peneliti, ada sektiar 38 juta sampah di pulau tersebut.
Diberitakan Associated Press, Selasa (17/5), para peneliti mengatakan sebagian besar sampah di Pulau Henderson itu adalah plastik dengan beragam jenisnya. Di antaranya adalah mainan tentara, domino, sikat gigi, dan ratusan helm dengan berbagai bentuk, ukuran dan warna.
Menurut peneliti, jumlah sampah yang terdampar di pulau tidak berpenghuni ini adalah yang terbanyak di pulau terpencil lainnya di seluruh dunia.
Baca juga: Segitiga Bermuda dan Misteri yang Menyelimutinya

Pulau sepanjang 10 km dan selebar 5 km itu terletak di tengah-tengah antara Chile dan Selandia Baru dan masuk dalam salah satu situs warisan budaya UNESCO.
Kepala peneliti dari University of Tasmania, Jennifer Lavers, mengatakan pulau itu terletak di tengah pusaran arus samudera sehingga banyak sampah yang terdampar. Sampah-sampah yang terdampar di pulau ini dibuang dari berbagai wilayah di Amerika dan Asia.
Lavers dan enam peneliti lainnya tinggal di pulau itu selama 3,5 bulan pada 2015 ketika melakukan penelitian sampah. Mereka memperkirakan sampah di Henderson mencapai berat hingga 17,6 ton.
Baca juga: Dituduh Gay, Dua Pria Divonis Hukuman Cambuk di Aceh

Di antara sampah itu, kata Lavers, adalah mainan tentara plastik mirip seperti yang dimainkan kakaknya di awal 1980-an. Ada juga plastik motel dalam permainan Monopoli.
Sampah terbanyak adalah korek gas dan sikat gigi. Yang paling aneh ditemukannya adalah dot bayi.
Para peneliti pernah menemukan seekor penyu yang mati di pulau itu karena terjebak di jala nelayan yang dibuang ke laut. Dalam salah satu foto, terlihat keong di Pulau Henderson menjadikan botol kosmetik plastik sebagai cangkang.
Baca juga: Facebook Diancam Gara-gara Video Raja Thailand yang Memalukan

Peneliti memperkirakan ada 13 ribu sampah yang terdampar setiap harinya di pulau yang dikuasai Inggris itu. Lavers mengatakan, para peneliti terkejut dengan banyaknya sampah di lautan.
"Kita harus memikirkan lagi penggunaan plastik. Plastik adalah sesuatu yang dirancang bertahan lama, tapi terkadang hanya digunakan sesaat lalu dibuang," ujar Lavers.
