Ahli Farmasi: Ivermectin untuk Antiparasit Hanya Boleh Dikonsumsi Sekali Setahun
ยทwaktu baca 2 menit

Penggunaan Ivermectin sebagai obat COVID-19 saat ini mulai banyak ditemukan di kalangan masyarakat. Dikhawatirkan, masyarakat pun membeli obat generik itu tanpa resep dokter.
Mengenai kekhasiatannya terkait COVID-19, obat ini belum bisa dibuktikan lantaran masih dalam tahap uji klinik. Namun, publik kadung banyak yang membeli hingga harga obat Ivermectin di toko online melambung.
Sejumlah orang juga menganggap obat itu membantu menyembuhkan sakit corona dan aman.
Menanggapi hal ini, Guru Besar Fakultas Farmasi UGM Prof Dr Zullies Ikawati,Apt mengatakan, pelabelan "aman" tersebut diberikan pada saat izin penggunaan Ivermectin sebagai obat parasit yang dikonsumsi hanya 1 kali dalam setahun, bukan obat COVID-19 yang menurut anjuran yang beredar harus dikonsumsi secara rutin dalam periode tertentu.
"Secara aman tuh gini, ini kan obat yang sudah beredar, kalau obat itu sama sekali baru itu kan kita pasti akan dievaluasi oleh BPOM dan itu obat lama, 1981 mulai di-approve FDA. Artinya pada saat itu orang melihat itu aman. Kalau enggak aman enggak bakalan dikasih izin," jelas Prof. Zullies kepada kumparan, Kamis (1/7).
Cuma waktu itu konteksnya penggunaan antiparasit, ya, satu kali setahun. Tapi, ketika dipakai untuk COVID dengan regimen atau dosis dan frekuensi yang berbeda, nah, itu menjadi concern.
-Prof Dr Zullies Ikawati
Sehingga, masyarakat belum bisa menganggap bahwa Ivermectin ini sepenuhnya aman untuk dikonsumsi sebagai obat corona, apalagi lebih dari anjuran pada awalnya. Untuk itu dilakukanlah uji klinik agar keamanannya dapat diketahui.
"Aspek keamanannya jadi berubah, menjadi aman atau enggaknya itu bisa berubah, nah itu yang harus dikaji. Nah, kalau sekarang sudah pada nyoba mungkin itu kebetulan (manjur). Tapi kan, memang ini aman, artinya ketika dievaluasi memang aman. Kalau enggak aman enggak bakalan di kasih izin (sebagai obat antiparasit), gitu," tambahnya.
Terkait maraknya masyarakat mengkonsumsi Ivermectin untuk obat COVID-19 tanpa resep dokter dan merasa baik-baik saja, Prof. Zullies mengatakan bahwa bisa jadi orang itu memang beruntung. Sebab, dengan data yang sedikit, belum dapat diketahui dengan pasti khasiat maupun efek samping dari Ivermectin.
"Ya, susah banget ngatur orang banyak, ya. Jadi kalau ini kan obat keras, harus dengan resep dokter. Kita belum punya data secara pasti. Ya kalau pas kebetulan ada yang menggunakan aman, ya memang kebetulan bejone mereka," ujar Prof. Zullies.
"Soalnya kebalikan kadang masyarakat yang nyari-nyari sendiri. Nah, itu ya siapa yang mau ngawasin? Kan, kalau ada apa-apa, ya, tanggung sendiri istilahnya," tutupnya.
Ivermectin sebagai obat antiparasit (cacingan) saat ini merupakan obat generik, artinya siapa pun boleh memproduksinya, tak perlu membayar hak paten kepada penemunya. Dengan demikian, harganya relatif murah. Sedangkan lisensinya dipegang oleh Merck, perusahaan farmasi di AS.
