Aksi Protes Kematian George Floyd Menular, dari Prancis hingga Selandia Baru

Sepekan lebih sejak kematian George Floyd, protes masih saja berlangsung di hampir seluruh negara bagian Amerika Serikat.
Floyd telah membangkitkan kemarahan warga kulit hitam di Negeri Paman Sam. Pria yang tewas pada usia 46 tahun itu kini telah menjadi simbol perlawanan terhadap diskriminasi dan rasialisme.
Demonstrasi besar-besaran yang terjadi di AS rupanya turut menggugah negara lain melakukan aksi solidaritas serupa. Di sejumlah negara, nama George Floyd menggema. Tuntutannya satu: kesetaraan.
Lantas, negara mana saja yang ikut melakukan demonstrasi?
Prancis
Gerakan protes atas kematian Floyd menginspirasi warga Prancis untuk melakukan hal serupa. Mereka menuntut keadilan atas tewasnya pria keturunan Afrika, Adama Traore, di tangan polisi pada 2016 lalu.
Aksi awalnya dimulai pada Selasa (2/6) malam di luar gedung pengadilan utara Paris. Keesokan harinya, bentrokan pecah antara massa dengan polisi di Paris.
Insiden terjadi usai polisi berupaya membubarkan demo antirasialisme yang dihadiri kurang lebih 20 ribu orang. Upaya pembubaran dilakukan lantaran Prancis masih memberlakukan larangan berkumpul di atas 10 orang untuk mencegah penularan virus corona.
Selain di Paris, demo menentang rasialisme di Prancis juga terjadi di Lille, Marseille, dan Lyon.
"Kami tidak cuma bicara mengenai perjuangan keluarga Traore. Ini perjuangan untuk semua orang. Kami berjuang untuk George Floyd, dan berjuang untuk Adama Traore," kata kakak Traore, Assa Traore.
Inggris
Warga Inggris tak mau ketinggalan ikut menyuarakan antirasialisme. Aksi massa untuk pertama kali digelar pada Minggu (31/5) lalu.
Diberitakan Reuters, ribuan orang bergerak dari Alun-alun Trafalgar menuju Gedung Parlemen dan berakhir di depan Kedutaan Besar AS. Mereka meneriakkan "No justice, no peace" sebagai bentuk solidaritas kepada gerakan "Black Lives Matter" di AS.
Lima orang ditahan dalam aksi tersebut, tiga di antaranya karena melanggar lockdown virus corona dan dua karena penyerangan kepada polisi.
Aksi protes pun masih berlanjut setelahnya. Ribuan orang tumpah ruah di jalanan London pada Rabu (3/6) waktu setempat dan sejumlah demonstran sempat terlibat bentrok dengan polisi yang berjaga di luar kantor Perdana Menteri (PM) Inggris di Downing Street.
Jerman
Aksi protes atas kematian George Floyd juga menjalar ke kota Berlin, Jerman. Ratusan orang tampak berdemo di depan Kedutaan Besar AS sambil membawa poster bertuliskan "Keadilan untuk George Floyd", "Berhenti membunuhi kami", dan "Siapa berikutnya".
Dukungan terhadap keadilan untuk Floyd juga disampaikan pemerintah. Mereka menilai kematian warga Minneapolis itu mencengangkan sekaligus mengerikan.
Juru bicara Kanselir Jerman Angela Merkel, Steffen Seibert, menyatakan rasialisme bukan hanya menjadi masalah AS, melainkan persoalan di seluruh dunia, termasuk Jerman.
Selandia Baru
Di ujung benua, ratusan warga Wellington, Selandia Baru, turun ke jalan pada akhir pekan lalu. Mereka bergerak ke Kedutaan Besar AS sembari meneriakkan "Black Lives Matter".
Aksi damai juga dilakukan di beberapa kota Selandia Baru. Di Auckland, aksi ini diikuti sekitar 2.000 orang, berjalan menuju Kantor Konsulat Jenderal AS. Sebanyak 500 lainnya menggelar aksi di kota Christchurch.
Swedia
Pada Kamis (4/6), warga di Kota Stockholm, Swedia, tampak melakukan aksi protes selama beberapa jam. Serupa seperti negara-negara lainnya, mereka menyerukan adanya keadilan untuk Floyd sekaligus penghapusan rasialisme.
Meski demikian, pemerintah mengimbau aksi selanjutnya dilakukan secara online. Hal itu menyusul kondisi Swedia yang belum aman dari pandemi virus corona.
Meski tak menerapkan lockdown, pemerintah melarang warga berkumpul melebihi 50 orang di tempat publik agar tidak terjadi penularan massal virus Corona.
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)
***
Yuk! bantu donasi atasi dampak corona.
