News
·
25 Agustus 2020 17:00

Cerita Wali Santri soal Permasalahan di Pondok IBBAS Kairo

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Cerita Wali Santri soal Permasalahan di Pondok IBBAS Kairo (288022)
Ilustrasi santri. Foto: Shutterstock
Pondok Ibnu Abbas (IBBAS) di Kairo, Mesir, saat ini tengah menjadi sorotan. Hal itu bermula dari konflik Pondok IBBAS dengan sejumlah wali santri dari Indonesia.
ADVERTISEMENT
Pondok IBBAS Kairo merupakan bagian dari Pondok Pesantren IBBAS di Serang, Banten. IBBAS mengirimkan santrinya mulai dari tingkat SMP hingga SMA ke Mesir agar bisa melanjutkan kuliah di Universitas Al Azhar, Kairo.
Selain itu, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) juga sedang mengusut konflik itu bersama sejumlah kementerian lembaga terkait. Sebab, Dit. PWNI Kemlu menerima laporan pada Juli 2020 terkait Pondok IBBAS yang diduga melakukan pelanggaran dalam pengiriman santri Indonesia ke Mesir.
Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kemlu, Judha Nugraha, mengatakan hasil penelusuran sementara, diduga ada penyalahgunaan visa para santri Pondok IBBAS Kairo.
"Pihak Ibbas ditenggarai tidak mengurus visa pelajarnya di Mesir, bahkan beberapa di antaranya sudah overstayer," kata Judha saat dikonfirmasi, Senin (24/8).
ADVERTISEMENT

Konflik IBBAS Berdasarkan Keterangan Wali Santri

kumparan kemudian menelusuri sumber konflik ini kepada sejumlah wali santri Pondok IBBAS Kairo. Salah satu wali santri yang meminta identitasnya dirahasiakan memberikan sedikit kronologi mengenai konflik itu.
Menurutnya, kasus ini sebenarnya sudah berjalan sejak lama. Hanya saja, baru-baru ini mencuat ke publik setelah mereka 'ribut' dengan pihak IBBAS terkait ancaman terhadap santri yang ingin pindah. Ia menuturkan, pihak IBBAS selalu menghalang-halangi dan melarang kepindahan anak mereka.
"Para wali santri sudah mencoba berkoordinasi dengan Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Mesir, KBRI hingga Kemlu untuk meminta perlindungan," jelasnya.
Sejumlah pertemuan bersama juga sudah digelar. Dalam pertemuan pertama, pihak IBBAS hadir namun dalam pertemuan lanjutan mereka memutuskan menolak hadir.
ADVERTISEMENT
Selain masalah itu, dia mengungkapkan masih ada masalah lain di Pondok IBBAS Kairo. Mulai dari pihak IBBAS yang tidak pernah mau mendengarkan masukan wali santri, lalu pengelolaan program pembelajaran yang tidak baik dan pengawasan terhadap santri yang kurang baik.
Ia juga mengatakan, biaya per bulan terhadap santri di Kairo dinilai tinggi dan bermasalah.
"Setiap bulan iuran itu selalu naik mulai dari mulanya Rp 2,5 juta per bulan hingga menyentuh Rp 4 juta," kata wali santri itu.
Meski begitu, disebutkan masih ada juga sisi positif di Pondok IBBAS Kairo. Salah satunya, lokasi asrama santri itu berada di kawasan elite.

Pondok IBBAS Kairo Berkaitan dengan Yayasan IBBAS Serang

Salah seorang wali santri lainnya yang juga meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan, Pondok IBBAS Kairo dikelola oleh Yayasan IBBAS di Serang. Sementara pimpinan Yayasan IBBAS Serang disebutkan adalah Wijaksana Santoso.
ADVERTISEMENT
kumparan sudah berusaha meminta konfirmasi dari Wijaksana, namun Wijaksana belum mau memberikan konfirmasinya.
Wali santri itu menceritakan proses pemberangkatan anak mereka ke Kairo. Menurutnya, mereka hanya perlu membayar biaya keberangkatan Rp 28 juta dan diminta memberikan paspor.
"Setelah itu, santri diminta ikut pembekalan bahasa Arab kurang lebih selama 1 bulan di Yayasan IBBAS Serang," katanya.
Hanya saja, dia mengakui jika cara keberangkatan itu tidaklah resmi. Namun agar anaknya bisa melanjutkan pendidikan di Universitas Al Azhar Mesir, ia melakukan cara itu. Hingga saat ini, kuliah di Al Azhar masih menjadi idaman banyak santri Indonesia.
Ia mengungkapkan, visa yang digunakan anaknya saat tiba di Mesir bukanlah visa pelajar. Melainkan visa entry atau turis yang diurus oleh pihak Yayasan Ibbas sehingga setiap tiga bulan, harus diperbaharui.
ADVERTISEMENT
Sebelumnya, masalah visa ini juga sudah dijelaskan oleh Judha.
Selama berada di Kairo, ia mengatakan anaknya mengikuti pelajaran sebagaimana santri lainya.
"Ada mereka juga diasuh oleh lembaga. Namun ada juga pilihan jika santri tersebut ingin mandiri," kata wali santri itu.
Hingga saat ini, masih belum jelas berapa jumlah santri yang saat ini ada di Pondok IBBAS Kairo. Namun berdasarkan informasi pada Juli 2020, disebutkan kini hanya tersisa sekitar 40 santri.
Kemudian sempat ada kabar 12 santri IBBAS Kairo kabur. Terkait hal itu, wali santri memastikan jika mereka tidak kabur namun keluar secara baik-baik.
"Anak-anak kami yang 12 orang tidak kabur. Demi Allah. Istilah kabur ini kan versi dari IBBAS. Kami sudah membuat surat pernyataan untuk mengambil alih tanggung jawab pengasuhan dari IBBAS ke wali santri masing-masing. Hal ini sudah sesuai degan saran dan masukan yang di dapat dari KBRI. Serta sudah dapat surat dari kekeluargaan dan PPMI," kata wali santri itu.
ADVERTISEMENT
Meski ada konflik, para wali santri masih berharap agar kasus ini dapat diselesaikan dengan baik-baik dengan Pondok IBBAS.

Kemlu Masih Minta Keterangan dari Pihak IBBAS

Judha memastikan, Kemlu masih terus meminta keterangan dari pihak terkait dalam konflik ini. Termasuk memfasilitasi pertemuan virtual dengan wali santri dan KBRI Kairo untuk menerima pengaduan dan informasi lebih lanjut.
"Secara terpisah, KBRI Kairo telah memanggil pengurus IBBAS di Kairo untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut," ucap Judha.
Mereka juga sudah melakukan rapat bersama pada tanggal 28 Juli 2020 dan 24 Agustus 2020 untuk menentukan langkah lebih lanjut. Rapat dilakukan bersama kementerian dan lembaga terkait.
Cerita Wali Santri soal Permasalahan di Pondok IBBAS Kairo (288023)
Wijaksana Santosa, Pimpinan pondok pesantren Ibnu Abbas, Serang, Banten, memberikan keterangan pers mengenai pemberitaan media online maupun para pelajar yang berada di rumah binaan Mesir, Cairo (Rubinsir). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Klarifikasi dari IBBAS

Wijaksana Santosa memberikan klarifikasi terkait keterangan dari wali santri yang menyebut Pondok IBBAS berusaha menghalangi kepindahan anak mereka dari Kairo.
ADVERTISEMENT
Dalam hal ini, Wijaksana mengatakan sebenarnya sudah ada surat pernyataan yang dibuat bersama dengan wali santri sebelum pemberangkatan ke Mesir. Surat itu menurutnya harus dipatuhi oleh para wali santri.
"Mengacu kepada surat pernyataan orang tua yang bersedia anaknya di asuh di rumah IBBAS sampai lulus SMA Al Azhar dan jika melanggar pernyataan ini maka bersedia dipulangkan anaknya ke Indonesia. Jadi tidak benar kalau disebut menghalang-halangi apalagi melarang, yang ada mengembalikan kepada pernyataan yang sudah disepakati orang tua," kata Wijaksana dalam konferensi pers di Kantor Pengacara Hanasti dan Rekan, Tangerang Selatan, Sabtu (5/9).
Wijaksana juga mengaku keberatan dengan pernyataan salah satu wali santri yang menyebut IBBAS tidak pernah mendengar masukan mereka. Sebab selama ini dia mengklaim program pembelajaran di IBBAS sudah cukup baik dan terjadwal.
ADVERTISEMENT
"Bada subuh mendatangkan Syekh berskala internasional dari Mesir untuk Tahfiz Al-Quran bersama, bimbel bahasa Arab inti dengan guru Mahad Al Azhar Mesir, bimbel bahasa Arab dengan mahasiswa S2 Al Azhar yang lahir dan mukim di Mesir, belajar tajwid bersama Syekh dari Al Azhar, olah raga futsal seminggu sekali, rihlah berskala sesuai kebutuhan, program ramadhan dan lain-lain," ucap dia.
Sementara mengenai kemanan dan pengawasan para santri di Kairo, Wijaksana mengatakan pihaknya sudah menyiapkan satpam di luar asrama para santri. Kemudian di dalam asrama santri terdapat kamera CCTV.
"Santri tidak boleh keluar tanpa izin satpam di dalam dan harus mengisi buku kontrol keluar masuk gedung. Semua program ini sudah dipahami dan disepakati oleh santri dan wali santri sebelum berangkat ke Mesir," kata Wijaksana.
Cerita Wali Santri soal Permasalahan di Pondok IBBAS Kairo (288024)
Wijaksana Santosa, Pimpinan pondok pesantren Ibnu Abbas, Serang, Banten, memberikan keterangan pers mengenai pemberitaan media online maupun para pelajar yang berada di rumah binaan Mesir, Cairo (Rubinsir). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Klarifikasi Wijaksana soal Biaya Bulanan Santri yang Terus Naik

Wijaksana memberikan penjelasan mengapa biaya hidup para santri bulanan selama di Mesir terus naik. Padahal dalam kesepakatan biaya hidup bulanan hanya Rp 2,5 juta.
ADVERTISEMENT
Terkait hal itu, ia menyebut ada beberapa faktor yang menyebabkan biaya hidup santri bulanan terus naik.
"Bahwa biaya hidup disesuaikan dengan situasi dan kondisi perekonomian di Mesir. Bahkan IBBAS menggratiskan biaya sewa rumah dan biaya hidup beberapa santri karena faktor ekonomi (yatim dhuafa), biaya bimbel dan tahfiz pun diberikan keringanan sampai digratiskan bagi santri yang lemah ekonomi," ucap Wijaksana.
"Bahkan para santri sering diberi oleh guru maupun Syekh berupa makanan pernah juga dihadiahi uang mesir 200-300 EGP oleh Syekh di bulan Ramadhan. Ini bukan masalah justru solusi bagi masalah. Bahkan banyak di antara santri yang bermasalah keberangkatannya dibantu IBBAS karena IBBAS mengapresiasi semangat orang tua dan santri untuk menimba ilmu di Mesir," tutur dia.
ADVERTISEMENT
Wijaksana lantas mengatakan justru selama ini banyak wali santri yang terlambat membayar uang bulanan. Padahal para santri di Kairo harus makan dan IBBAS sering menutupi kekurangan itu dengan berbagai upaya agar para santri tetap bisa belajar dengan tenang tanpa kelaparan.
"Ini bukan masalah tapi solusi bagi masalah. Adapun iuran Rp 2,5 juta tidak pernah berubah hingga saat ini, kalaupun bertambah biasanya santri meminta tambahan uang saku, atau membeli pemanas air, atau membeli tempat tidur karena musim dingin, atau membayar bimbel bahasa, iuran tahfiz dan atau keperluan pribadi seperti selimut, jaket musim dingin dan lain-lain," kata dia.
Cerita Wali Santri soal Permasalahan di Pondok IBBAS Kairo (288025)
Kegiatan santri Pondok IBBAS di Kairo, Mesir. Foto: Dok. Istimewa
Wijaksana kembali menegaskan jika di Mesir tidak ada Pondok IBBAS Kairo. Sebab di sana hanyalah rumah binaan yang secara mandiri dikelola oleh wakil IBBAS yang dipercaya membantu para santri menjalani kegiatan yang sudah disepakati dalam hal ini diwakili oleh Ramdhan selaku keponakan Wijaksana yang merupakan mahasiswa di Universitas Al Azhar Kairo dan Nadia yang merupakan anak Wijaksana yang juga mahasiswa di Universitas Al Azhar.
ADVERTISEMENT
"Mengenai lokasi kenapa di kawasan elite, karena IBBAS ingin yang terbaik bagi santri dari berbagai sisi, kemanan, kenyamanan dan strategis," ucap Wijaksana.
Wijaksana juga tidak terima jika disebut pemberangkatan santri SMP dan SMA ke Mesir itu ilegal. Sebab ia mengklaim semua prosedur keberangkatan sudah mendapat rekomendasi dari KBRI bagian atase pendidikan ATDIK.
"Bahwa semua yang dilakukan IBBAS adalah legal mulai dari berangkat dengan invitation letter dari Mesir dan mendapatkan rekomendasi untuk belajar di Mahad Dirosah Khoshoh Al Azhar dari KBRI bagian atase pendidikan dan semua terdaftar di Mahad AL Azhar dan memiliki kartu pelajar, tasdiq dan visa pelajar. Bila tidak legal, tentunya otoritas Mesir/Kairo akan mendeportasinya," ucap Wijaksana
Terakhir, Wijaksana juga angkat bicara soal 12 santri yang keluar dari rumah binaan Mesir Kairo. Padahal wali santi menilai jika anaknya tidak kabur. Mengenai itu, ia tetap berpandangan 12 santri itu kabur.
ADVERTISEMENT
"Istilah kabur itu bagi santri yang pindah tanpa mendapatkan izin dari IBBAS maupun orang tuanya. Apa istilahnya kalau bukan kabur," tutur Wijaksana.