COVID-19 Masuk Gelombang 3: XBB Ada di Jateng; Kasus DIY Naik 10 Kali Lipat
·waktu baca 4 menit

Kasus COVID-19 di Indonesia mengalami kenaikan. Pemicu kasus COVID-19 meningkat akibat ada subvarian baru.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut, saat ini ada tiga subvarian baru. Salah satu varian yang mendominasi di Indonesia, yakni varian BQ1.
"Jadi memang sekarang kasusnya naik disebabkan varian baru. Varian baru ada tiga, BA2.75, XBB dan BQ1. Yang banyak di Indonesia adalah BQ1, banyak di Eropa dan Amerika dan XBB ada di Singapura," kata Budi kepada wartawan di Surabaya, Rabu (9/11).
Budi mengatakan, subvarian baru itu penularannya sangat cepat. Hal itu yang mengakibatkan ada lonjakan kasus.
"Orang sudah divaksin, sudah kena, cepat juga tertular. Dan masuk RS (rumah sakitnya) juga sedikit di atas BA2.75 bulan Agustus kemarin," ujarnya.
Kasus COVID-19 Akan Terus Meningkat
Budi menjelaskan, pasien COVID-19 yang dirawat mencapai 24.000 orang sejak bulan Oktober 2022. Sementara pasien bergejala ringan dan berat ada 10.000 pasien dan yang meninggal 1.300 orang.
Itu untuk yang berat saya kaget, 40 persen belum vaksin atau 70 persen belum booster. Yang meninggal dari 1.300 itu 50 persen belum vaksin dan 80 persen belum booster," jelas Budi.
Lebih lanjut, menurut Budi, kasus COVID-19 di Indonesia akan terus meningkat. Dia menilai saat ini sudah masuk gelombang ketiga lonjakan COVID-19. Dia menyebut, kasus terbanyak subvarian baru ini ada di kota besar.
Varian XBB Terdeteksi di Jateng
Subvarian Omicron XBB telah ditemukan di Jawa Tengah. Total ada 6 kasus yang ditemukan berdasarkan hasil tes whole genome sequencing (WGS).
"Ada di Jawa Tengah, ada (subvarian XBB)," ujar Ganjar kepada wartawan di Hotel Gumaya, Semarang, Rabu (9/11).
Ganjar mengatakan, perlu pengetatan aktivitas masyarakat di tengah kenaikan kasus COVID-19. Ia meminta masyarakat kembali disiplin menerapkan protokol kesehatan dan melakukan vaksin penguatan atau booster.
"Perlu pengetatan. Pengetatannya sebenarnya ada dua. Satu masker, kedua booster. Kemarin sempat agak kosong booster-nya, maka kita realokasi untuk menolong kabupaten yang agak rajin untuk booster. Kemarin alhamdulillah sudah dikirim lagi untuk booster, sekarang kita genjot," jelas Ganjar.
Anggota DPR Soroti Lonjakan Kasus COVID-19
Anggota Komisi IX DPR Fraksi PDIP, Rahmad Handoyo, mengingatkan lonjakan penyebaran COVID-19 yang cukup signifikan dalam beberapa bulan terakhir tidak boleh diremehkan. Ia mengimbau masyarakat agar tetap mematuhi protokol kesehatan dan segera melakukan vaksinasi.
“Penyebaran COVID-19 melonjak lagi. Jumlah pasien yang harus dirawat meningkat, termasuk jumlah kematian ikut meningkat. Dalam beberapa bulan terakhir banyak saudara-saudara kita yang meninggal. Ironisnya dari data yang kami terima, lebih dari 32% dari jumlah pasien yang saat ini dirawat di rumah sakit berstatus belum divaksin sama sekali,” kata Rahmad dalam keterangan tertulis, Rabu (9/11).
Rahmad mengatakan, sampai saat ini hanya ada dua cara melawan COVID-19. Pertama dengan menerapkan protokol kesehatan, yakni berperilaku hidup bersih dan sehat, mencuci tangan, memakai masker, hingga menjaga jarak sebagai cara terhindarkan penularan. Kedua dengan cara vaksinasi untuk menekan hospitality rate.
“Melihat lonjakan penyebaran COVID-19 belakangan ini, saya ingin mengingatkan kembali betapa penting dan bermanfaatnya protokol kesehatan dan vaksinasi. Dengan vaksinasi, khususnya dosis lengkap dan booster bisa mencegah pasien penderita gejala berat, bahkan mengurangi risiko kematian,” katanya.
Kasus COVID-19 di DIY Meningkat 10 Kali Lipat
Kasus COVID-19 di DIY mengalami lonjakan. Kebanyakan kasus yang terjadi adalah orang tanpa gejala (OTG).
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X (Sultan HB X) mengatakan, jika dihitung kenaikan kasus corona di DIY mencapai hampir 10 kali lipat.
"Tidak sampai 1 bulan tambah dari 180 berapa sudah 1.258 [kasus COVID-19 aktif di DIY), kan sudah 10 kali lipat, masyarakat kan enggak terasa [kenaikan ini]," kata Sultan di Kepatihan Pemda DIY, Rabu (9/11).
Dijelaskan Sultan, lonjakan kasus ini tidak hanya terjadi di DIY saja tetapi juga di seluruh Indonesia. Terlebih, saat setelah akhir pekan kasus akan mengalami kenaikan.
"Tidak mungkin kami [pengetatan] akan tapi itu kan semuanya naik semua se-Indonesia naik semua, bukan hanya Yogya saja. Tapi kelihatan begitu [setelah] weekend munggah (naik)," katanya.
