DIY Kekurangan Nakes, Lulusan Poltekkes Usai Diwisuda Langsung Tangani COVID-19

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

clock
google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi nakes. Foto: Ajeng Dinar Ulfiana/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi nakes. Foto: Ajeng Dinar Ulfiana/REUTERS

Sejumlah rumah sakit di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mulai mengeluhkan kekurangan tenaga kesehatan (nakes). Banyak nakes di rumah sakit terpapar corona sehingga harus jalani isolasi mandiri.

Sekda DIY Kadarmanta Baskara Aji menjelaskan pihaknya sudah mendapat laporan dari rumah sakit soal kebutuhan nakes.

"Jadi memang laporan dari rumah sakit nakes terpapar cukup banyak," kata Aji saat zoom dengan wartawan, Selasa (29/6).

Melihat kondisi ini, Pemda DIY telah berkomunikasi dengan Kemenkes. Nantinya nakes lulusan Poltekkes Yogyakarta akan terjun tangani corona sesaat setelah diwisuda.

"Kemarin sudah koordinasi Kemenkes nanti lulusan dari Poltekkes Yogya akan coba rekrut tidak untuk seluruh Indonesia tapi bisa dipusatkan ke Yogyakarta," ujarnya.

"Semoga pembicaraan kita dengan Kemenkes sudah mengerucut lalu bisa diterjunkan. Lulusan baru setelah wisuda bisa langsung kita terjunkan menangani COVID-19 di rumah sakit dan maupun shelter di DIY," ujarnya.

Sekda DIY Kadarmanta Baskara Aji. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Sebelumnya, Direktur Utama RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Mohammad Komarudin menjelaskan sebanyak apa pun membuka kamar baru akan percuma apabila jumlah nakes tidak memadai. Di rumah sakitnya, ada 45 orang terpapar corona.

"Staf, dokter, fisioterapi, sampai Sabtu kemarin 45 orang (positif) pagi ini saya dapat laporan beberapa positif antigen dan sedang nunggu PCR," ujar Komarudin saat Zoom dengan wartawan, Senin (28/6).

Untuk menambal kebutuhan nakes, dia sudah mengundang 40 nakes untuk magang. Namun dari jumlah itu hanya 14 yang datang.

kumparan post embed

"Pagi hari ini sudah kita aktifkan (nakes baru tersebut). Belum mencukupi kalau kita aktifkan ruang-ruang lain. Kalau kita dapat tenaga tambahan, kita bisa optimalkan ruang-ruang," ujarnya.

Direktur Rumah Sakit Panti Rapih Triputro Nugroho menjelaskan sejak Mei ini setidaknya 31 pegawai terpapar corona. Mereka merupakan dokter, perawat, hingga pegawai administrasi.

"Dari awal Mei kemarin ada 31 yang harus isolasi. Terdiri 6 dokter, sisanya petugas administrasi dan Perawat. Mereka isolasi di rumah sakit khusus tenaga-tenaga kita. Gejala tidak berat, sebagian isoman di rumah," kata Triputro.

Dia menjelaskan banyak kasus nakes terpapar karena klaster keluarga. Usai sembuh pun tugas sudah menanti. Mereka kembali ke rumah sakit dan merawat pasien-pasien corona.

"Kondisi teman-teman yang isolasi berangsur baik dan tidak ada yang berat. Nanti setelah isolasi akan bekerja kembali dan ini (kasus) mempengaruhi layanan kita," katanya.

RSUP Dr Sardjito mengalami hal yang tak jauh berbeda. Direktur Utama RSUP Dr Sardjito Rukmono Siswishanto menjelaskan di bulan Februari hingga Mei nakes yang terpapar sekitar 30an orang.

Namun di Bulan Juni melonjak ada 204 orang pegawai yang terpapar. Memang tidak semua merupakan nakes.

"Di Bulan Juni Sumber Daya Manusia (SDM) kita yang terpapar 204 orang. Dari 204 itu sebagian besar non nakes, disusul perawat dan dokter spesialis. Yang paling banyak memang tenaga non nakes, itu situasi SDM yang terpapar," kata Rukmono.

Dari jumlah tersebut 185 di antaranya menjalani isolasi mandiri di rumah. Lalu 15 orang menjalani isolasi di fasilitas isolasi rumah sakit. Dan 4 rawat inap di rumah sakit karena kondisi gejala berat.

Sejauh ini pihaknya sudah merekrut 143 nakes untuk menjadi relawan. Mereka terdiri dari dokter, bidan, hingga perawat.

embed from external kumparan