Jakpro: Kami Sudah 15 Kali Bertemu Seniman Bahas Revitalisasi TIM

PT Jakarta Propertindo (Jakpro) mengatakan pihaknya telah berkomunikasi dengan para seniman terkait revitalisasi Taman Ismail Marzuki (TIM). Komunikasi itu dalam bentuk focus group discussion maupun dialog terbuka lainnya.
Direktur Operasi Revitalisasi TIM, Muhammad Taufiqurrachman mengatakan, komunikasi dan sosialisasi dengan tokoh, perwakilan atau kelompok seniman telah dilakukan sejak lama, dan terus dilakukan hingga saat ini.
“Kita sudah melakukan sosialisasi sejak Februari 2019. Jadi bekerja sama dengan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), melakukan FGD. Kemudian ada sosialiasi ada juga dialog, menjelaskan tentang bentuk TIM yang akan dibangun di masa depan. Itu sudah kita tunjukkan,” ungkap Taufiq saat sesi dialog media Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Rabu (19/2).
“Lebih dari 10 sampai 15 kali kita komunikasi baik dengan Pak Taufik Ismail, Kemudian dengan Pak Embi C Noor, Pak Slamet Raharjo, kemudian Pak Danton,” tambahnya.
Taufiq mengatakan, pihaknya juga sudah melakukan komunikasi dengan perwakilan seniman yang beberapa hari lalu menyampaikan penolakannya ke DPR RI, yang diwakili oleh Radhar Panca Dahana.
Terkait masih kerasnya suara penolakan seniman yang tampak pada aksi seniman mendatangi DPR pada Selasa (18/2), Taufiq menyebut hal itu juga sudah ditindaklanjuti oleh Jakpro. Pihaknya langsung berkomunikasi dengan difasilitasi DPR.
“Kemudian Radhar Panca Dahana yang kemarin mendampingi DPR ini sudah bertemu dengan Pak Dwi Wahyu Daryoto Direktur Utama kita, di Fraksi PDIP diterima juga. Sudah kita jelaskan di sana dengan selengkap-lengkapnya,” kata Taufiq.
Taufiq mengatakan komunikasi antara Jakpro dengan para seniman di TIM akan terus dilakukan ke depannya. Ia memastikan, masukan dan saran dari para seniman akan terus didengar.
Diketahui, klaim Jakpro sejauh ini masih tak serupa dengan yang diperlihatkan para seniman. Seniman menyebut, mereka tak pernah dilibatkan dalam proses revitalisasi TIM tersebut.
Sementara itu, seniman di TIM menolak revitalisasi karena proyek tersebut dinilai akan berujung pada komersialisasi TIM, rumah bersejarah para seniman Indonesia itu.
Pimpinan Forum Seniman Peduli TIM, Radhar Panca Dahana, mengatakan, selama ini pihaknya merasa tak dilibatkan dalam pembahasan revitalisasi TIM.
Karena itu, Radhar mengatakan, pihaknya menolak revitalisasi yang dilakukan PT Jakpro sebagai pemegang proyek. Sehingga, ia meminta proyek itu untuk di moratorium sementara.
"Ini enggak ngajak ngomong sama sekali. Kita menolak, kita protes, kita pergi ke sana, kita ke DPRD, kita temui Plt deputinya, kita temui Jakpro, semua kita ketemu. Eh, malah dihancurin. Kita bilang moratorium, sementara dulu kita ngomong," kata Radhar di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (17/2).
"Berangkat dari satu kebijakan itu seperti komet yang menghantam bumi. Mendadak kita hancur berantakan. Tanpa ada kompromi, kayak ketetapan Tuhan aja. Enggak ada bicara sama sekali dengan kami, kebijakan itu. Tahu-tahu sudah diberlakukan," lanjutnya.
