Menguak Praktik Ruwatan yang Sebabkan Anak Perempuan di Temanggung Meninggal

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rumah bocah di Temanggung, Jawa Tengah, yang meninggal karena diruwat. Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Rumah bocah di Temanggung, Jawa Tengah, yang meninggal karena diruwat. Foto: kumparan

Seorang anak perempuan berinisial ALH (7) ditemukan tewas di rumahnya di Desa Bejen, Kecamatan Bejen, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Jasadnya ditemukan pada Minggu (16/5) malam di sebuah kamar di rumahnya dengan kondisi tragis, hanya menyisakan tulang belulang dan kulit yang telah mengering.

Anak kelas 1 SD itu diduga tewas sejak 4 bulan lalu. Ia disebut menjadi korban praktik perdukunan yaitu ritual ruwatan (menghilangkan sial).

Kepolisian telah menyelidiki kasus tersebut. Kapolres Temanggung AKBP Benny Setyowadi belum bisa menyampaikan secara gamblang penyebab kematian korban.

"Dari penyelidikan awal ini, korban meninggal diduga korban KDRT. Tapi kepastiannya bagaimana kita masih menunggu hasil labfor dari Polda Jateng, setiap perkembangan akan kita informasikan," kata Benny, Selasa (18/5).

Kapolres Temanggung AKBP Benny Setyowadi. Foto: Heru Suyitno/ANTARA

Benny mengatakan polisi telah mengamankan 4 orang untuk mengungkap kasus ini. Dua orang merupakan orang tua korban dan dua lainnya ialah dukun yang mempengaruhi mereka untuk melakukan ritual tersebut.

"Kita amankan 4 orang atas nama M ayah kandung, S ibu kandung, H dan B yang merupakan dukun. Ada ritual atas bujuk rayu dari saudara H yang merupakan seorang dukun, juga atas saran B di mana melihat kondisi anak nakal dan kena pengaruh gaib," kata Benny.

Setelah menemui korban, dukun H menyarankan kepada kedua orang tua korban untuk dilakukan ruwatan karena ALH disebut sebagai keturunan genderuwo. Ia yakin bahwa korban dapat disembuhkan dari makhluk gaib dengan ritual tersebut.

kumparan post embed

Ritual dilakukan dengan membenamkan kepala korban ke dalam bak mandi berkali-kali sampai korban tidak sadarkan diri. Setelah itu, tubuh korban dibawa ke kamar hingga akhirnya meninggal dunia.

"Namun dukun H meyakinkan kedua orang tua AHL bahwa anaknya nanti akan hidup lagi," imbuhnya.

Karena alasan tersebut jasad ALH disimpan hingga berbulan-bulan. Beruntung paman dan bibi korban datang berkunjung hingga akhirnya dapat mengungkap peristiwa itu.

Hingga kini polisi belum menetapkan tersangka dalam kasus itu. Sementara jasad korban sudah dimakamkan usai dilakukan autopsi.

Ruwatan ALH bukan Budaya

Ahli budaya Sugeng Nugroho, mengatakan praktik tersebut bukan model ruwatan dalam Budaya Jawa. Tradisi Jawa juga tak mengenal adanya anak keturunan genderuwo.

kumparan post embed

"Menurut pendapat saya, praktik yang dilakukan oleh dukun tersebut bukan termasuk ruwatan. Budaya Jawa tidak mengenal model ruwatan seperti itu," ujar Sugeng kepada kumparan, Selasa (18/5).

Menurut sepengetahuan Sugeng, ada 40 jenis ruwatan, mulai dari manusia sial, ruwatan bumi, hingga ruwatan rumah.

Ia menegaskan, ruwatan karena anak nakal di Jawa tidak ada. Dalam tradisi Jawa, anak dikatakan sial di antaranya adalah anak satu-satunya (ontang-anting), dua anak laki-laki atau perempuan, anak lima laki-laki (Pandawa) atau perempuan semua (Pendawi).

"Itu untuk golongan anak yang dianggap sial sejak lahir," imbuhnya.

Cara ruwatan juga tidak seperti yang dilakukan dukun tersebut. Menurut Sugeng, peralatan yang harus disiapkan untuk menjalani ruwatan ialah kain mori berwarna putih, kain batik berbagai motif, umbi-umbian, dan hewan ternak.

Dalam pelaksanaannya, baisanya keluarga mempercayakan kepada dalang (wayang). Kemudian dibacakan mantra.

"Setelah itu kemudian yang bersangkutan dimandikan air bunga kemudian dipotong rambutnya. Sudah hanya itu," pungkasnya.

Pintar Ngaji

Alasan ALH nakal berbanding terbalik dengan yang disampaikan oleh kerabatnya. Ia justru dikenal sebagai anak yang pintar dalam mengaji. Bahkan, kerap menjadi juara dalam mengaji.

kumparan post embed

"Anaknya pintar kalau ngaji dapat juara terus. Ngajinya pinter pas akhirussanah itu dapat banyak hadiah," ucap kerabat keluarga korban, Sri (18/5).

Sri tidak habis pikir soal alasan orang tua ALH meruwat anaknya karena nakal.

"Iya apa sih nakalnya anak-anak umur segitu. Paling ya minta jajan enggak seberapa," ungkapnya.

Menurut Sri, kerabatnya itu termasuk orang yang mengerti ilmu agama. Apalagi anak sulung atau kakak perempuan ALH mengenyam pendidikan di salah satu pondok pesantren di Temanggung.

"Anaknya dua, perempuan semua. Satunya di pondok, sekarang dibawa mbahnya di Candiroto setelah adiknya dimakamkan," ungkapnya.

Keluarga ALH juga dikenal berkecukupan. Orang tuanya memiliki usaha jahit-menjahit.

"Kalau dibandingkan yang lain ya lumayan lah. Motor juga punya 3, punya alat jahit pakai dinamo semua. Orderan ya sudah banyak dan di mana-mana," jelas dia.

Namun, Sri telah menaruh curiga dengan orang tua korban sejak beberapa waktu lalu. Sikap mereka berdua terlihat berubah, seperti ada yang ditutup-tutupi.

"Ibunya penjahit, bapaknya kerja di karetan PTP. Rumahnya semua dikunci, enggak pernah menerima tamu, kalau mau berkunjung itu Whatsapp dulu," jelas dia.