Ratusan Dokumen China Bocor, Buktikan Adanya Kamp Konsentrasi Xinjiang

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Hotan Vocational Kamp Learning Center. Foto: Marcia Audita/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Hotan Vocational Kamp Learning Center. Foto: Marcia Audita/kumparan

Berbagai bukti bermunculan soal adanya kamp konsentrasi warga muslim Uighur di Xinjiang, China. Setelah sebelumnya lembaga HAM mengangkat testimoni para saksi, kini media Amerika Serikat mendapatkan bocoran dokumen yang jadi bukti keberadaan kamp tersebut.

Koran New York Times (NYT) pada edisi akhir pekan mengaku menerima lebih dari 400 dokumen internal pemerintah. NYT menyebut, dokumen itu diserahkan oleh seorang pejabat politik China yang berharap Presiden Xi Jinping bertanggung jawab atas penahanan massal.

Sebelumnya penyidik PBB dan lembaga HAM mengatakan ada setidaknya 1 juta warga Uighur di Xinjiang yang ditahan di kamp konsentrasi. Di kamp ini mereka dicekoki kecintaan terhadap Partai Komunis dan menanggalkan aturan agama Islam dengan dalih deradikalisasi. AS dan berbagai negara mengecamnya.

Di antara dokumen China yang bocor terdapat pidato internal Xi yang disebut cikal bakal berdirinya kamp di Xinjiang. Dalam salah satu pidatonya tahun 2014, Xi menyerukan agar China melawan terorisme, menyusul serangan milisi Uighur di Xinjiang yang menewaskan 31 orang.

kumparan post embed

Sejak lama, wilayah Xinjiang memang rawan separatisme. Wilayah tersebut memanas dengan berbagai konflik antara warga Uighur dan etnis Han yang dipicu isu diskriminasi dan kesenjangan sosial.

Xi dalam pidatonya menyerukan perjuangan sepenuhnya untuk melawan terorisme dan separatisme menggunakan "organ-organ kediktatoran". Menurut Xi, memberantas teroris dengan senjata tidak akan mempan, cara yang ampuh adalah menguras isi pikiran mereka.

"Metode yang digunakan kamerad kita saat ini sangat primitif. Tidak ada senjata yang jadi jawaban atas parang besar, kepala kapak, dan senjata besi yang dingin," kata Xi.

"Kita harus keras kepada mereka, dan menunjukkan bahwa tidak ada ampun sama sekali," lanjut dia.

Sebelum mendirikan kamp konsentrasi, berkedok pusat pelatihan dan pendidikan, Xi bahkan telah mengantisipasi akan adanya kecaman dari masyarakat internasional. Dalam pidato tertutup yang transkripnya diperoleh NYT, Xi menyerukan pejabatnya untuk mengabaikan semua kecaman tersebut.

"Jangan takut jika musuh merengek atau jika musuh memfitnah citra Xinjiang," kata Xi.

Pidato Xi ini diejawantahkan dengan keras oleh oleh Chen Quanguo, pemimpin baru Xinjiang pada 2016. Dalam sebuah dokumen, Chen yang sebelumnya memimpin Tibet - wilayah sarang separatisme selain Xinjiang - memerintahkan pejabatnya untuk "mengumpulkan semua orang yang seharusnya dikumpulkan".

kumparan post embed

Di bawah Chen, kamp konsentrasi diperluas dan indoktrinasi digencarkan. Dalam pidatonya pada Agustus 2017, Chen mengatakan "Pusat transformasi, pelatihan pendidikan, dan vokasi" adalah "praktik terbaik" dari mewujudkan target Xi di Xinjiang.

Bungkam Mahasiswa Uighur

Selain kecaman internasional, China juga menganggap mahasiswa Uighur akan jadi hambatan bagi proyek "deradikalisasi" mereka. Dalam salah satu bocoran dokumen disebutkan, mahasiswa Uighur yang berkelana di seantero China bisa jadi masalah jika mereka protes dan menyebarkan penangkapan anggota keluarga di Xinjiang.

Apalagi jika mahasiswa ini sudah menyinggungnya di media sosial, berpotensi menyulut keresahan. Bocoran dokumen ini menjadi bukti lainnya adanya pengumpulan massa di wilayah otonomi tersebut.

"Mahasiswa yang pulang dari wilayah lain di China punya jaringan sosial di seluruh negeri. Saat mereka menyuarakan opini tidak benar di WeChat, Weibo, dan media sosial lainnya, dampaknya akan meluas dan sulit dihapuskan," bunyi salah satu dokumen.

Untuk mengatasi hal ini, China juga sudah punya antisipasi. Polisi China akan mendatangi mahasiswa Uighur tersebut dan mengatakan anggota keluarga mereka berada di kamp untuk membersihkan pikiran tidak sehat.

kumparan post embed

Lama atau tidaknya mereka berada di kamp, akan tergantung dari sikap mahasiswa tersebut, termasuk tidak menyebarluaskan masalah ini. Dalam sebuah dokumen, dipaparkan contoh-contoh jawaban yang bisa diberikan pejabat kepada para mahasiswa, di antaranya berbunyi:

"Kepala mereka telah terinfeksi oleh pemikiran-pemikiran tidak sehat".

"Kebebasan hanya mungkin terwujud jika virus pikiran ini dihapuskan dan mereka dalam kondisi sehat".

Belum ada tanggapan langsung dari pemerintah China soal bocoran NYT. Namun sebulan terakhir isu kamp konsentrasi Xinjiang telah beberapa kali ditanggapi oleh pemerintah China.

Pada awal November lalu, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Geng Shuang, sekali lagi menyampaikan bantahan pemerintah soal tuduhan adanya kamp konsentrasi di Xinjiang.

Dia bahkan mengatakan Amerika Serikat mencoba mencemari citra China lewat fitnah pelanggaran hak asasi di Xinjiang. Geng menjelaskan, kamp-kamp yang ada di Xinjiang adalah pusat pelatihan kerja, bukan tempat indoktrinasi.

Tahanan di kamp pendidikan politik di Lop County, Prefektur Hotan, Xinjiang. Foto: Dok. media.hrw.org

"Seperti yang berulang kali kami katakan, masalah Xinjiang di China adalah masalah dalam negeri China. Masalah terkait Xinjiang bukan soal etnis, agama, atau hak asasi manusia," kata Geng seperti dikutip dari situs Kementerian Luar Negeri China.

Dia mengatakan, pusat pelatihan dan pendidikan yang didirikan di Xinjiang telah berhasil mengurangi kekerasan di wilayah itu.

"Sebagai wilayah yang pernah dijangkiti terorisme, Xinjiang tidak mengalami kekerasan teroris satu pun selama hampir tiga tahun. Ini adalah cara terbaik untuk menghargai hak asasi manusia," ujar Geng.