Tangis Habib Aboe Usai Diperiksa MKD soal 'Ulama dan Narkoba': Saya Minta Maaf

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Anggota Komisi III DPR, Habib Aboe Bakar Al-Habsyi usai diperiksa MKD DPR terkait pernyataan ulama dan pesantren Madura di pusaran narkoba pada Selasa (14/4/2026). Foto: Abid Raihan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Anggota Komisi III DPR, Habib Aboe Bakar Al-Habsyi usai diperiksa MKD DPR terkait pernyataan ulama dan pesantren Madura di pusaran narkoba pada Selasa (14/4/2026). Foto: Abid Raihan/kumparan

Anggota Komisi III DPR RI, Habib Aboe Bakar Al Habsyi, diperiksa Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR pada Selasa (14/4). Ia diperiksa terkait pernyataannya soal ulama dan pesantren di Madura yang disebut masuk dalam pusaran narkoba,

Habib Aboe menyampaikan permohonan maaf atas pernyataannya. Permohonan maaf itu diiringi tangis yang coba ia tahan saat berbicara dengan nada parau.

“Panggilan ini saya penuhi dengan baik, karena saya merasa bertanggung jawab atas apa yang saya katakan,” ucap Habib Aboe di Gedung DPR.

“Saya harus mengatakan saya minta maaf. Minta maaf yang dalam karena menurut saya memang bahasa saya terlalu globalisir dan salah. Sekali lagi saya minta maaf,” tambahnya.

Ia mengatakan, permohonan maaf itu ditujukan kepada para ulama dan kiai di Bangkalan, Sampang, Sumenep hingga Pamekasan.

“Pertama, saya menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada ulama, kiai, keempat wilayah tersebut, ya, keempat kabupaten tersebut,” ucap Habib Aboe.

“Serta seluruh masyarakat Madura dan tokoh-tokoh serta warganya secara menyeluruh, yang mungkin sangat merasa tersinggung atas pernyataan saya,” tambahnya.

instagram embed

Tak Ada Niat Menghina Ulama

Politikus PKS ini memahami pernyataannya menimbulkan persepsi yang seolah-olah menyudutkan ulama dan pesantren. Ia menegaskan tidak ada maksud seperti itu.

“Untuk itu saya menegaskan sekali, tidak ada niat sedikit pun, tidak ada niat sedikit pun saya untuk menghina, menyudutkan para ulama, nggak ada,” tegas Habib Aboe.

“Itu guru-guru yang saya cintai semua. Dan saya hormati dan saya hargai,” tambahnya.

Ia menjelaskan, pernyataannya merupakan bentuk keprihatinan atas temuannya terkait dugaan keterlibatan dalam kasus narkoba. Ia menyebut pernyataan itu dimaksudkan untuk meningkatkan kewaspadaan BNN, Polri, dan masyarakat.

“Maksud saya untuk mengajak semua pihak, termasuk lembaga pendidikan keagamaan untuk meningkatkan kewaspadaan dan perkuat upaya pencegahan. Namun saat ini cara penyampaian saya yang kurang tepat,” tutur Habib Aboe.

“Saya ulangi lagi pernyataan saya kurang tepat. Sehingga menimbulkan multitafsir,” tambahnya.

kumparan post embed

Bakal Segera Temui Ulama dan Kiai di Madura

Habib Aboe mengatakan, akan menemui para ulama dan kiai di Madura untuk menjelaskan pernyataannya.

“Ketiga, sebagai bentuk tanggung jawab saya, saya sudah mencoba mendatangi semua tokoh-tokoh ini. Dan sementara ini mungkin saya wakilkan dulu. Nanti saya akan berusaha mendatangi mereka semua sesuai kemampuan saya,” ujarnya.

“Saya ingin menegaskan bahwa ulama dan pesantren adalah pilar utama dalam menjaga moral dan akhlak bangsa. Dalam konteks pemberantasan narkoba saya justru memandang bahwa peran ulama sangat strategis sebagai garda terdepan dalam edukasi dan pencegahan,” lanjutnya.

Ia mengatakan kejadian ini menjadi pelajaran berharga baginya. “Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi saya untuk lebih berhati-hati dalam menyampaikan pandangan di ruang publik. Saya berkomitmen untuk terus menjaga etika, kehormatan, dan marwah sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia,” tegas Habib Aboe.

Rapat dengar pendapat (RDP) Komisi III DPR bersama Kepala BNN dan Ditipidnarkoba Bareskrim Polri di DPR, Selasa (7/4/2026). Foto: Abid Raihan/kumparan

Sebelumnya pernyataan Habib Aboe yang memicu polemik ini dilontarkan saat rapat dengar pendapat bersama Kepala BNN, Komjen Suyudi Ario Seto, serta Dirtipidnarkoba Bareskrim Polri, Brigjen Eko Hadi Santoso, di DPR, Selasa (7/4), terkait RUU Narkotika dan Psikotropika.

Kepada Suyudi dan Eko, Habib Aboe meminta BNN dan Polri mendalami dugaan keterlibatan ulama dan pesantren di Madura dalam bisnis narkoba.

“Contoh, Madura. Saya itu kaget, Pak, ulama sudah mulai ikut terlibat juga dengan narkotika, coba cek benar tidak? Pesantren-pesantren itu juga, Pak. Ini ada apa?,” ucap Habib Aboe.

Ia mengatakan ada ‘cuan’ besar dari bisnis narkoba sehingga menarik oknum ulama dan pesantren.

“Ternyata ada cuan di situ, Pak. Ada cuan di situ, cuan-nya banyak, bukan dikit,” tutur Habib Aboe.

“ Nah, saya khawatir yang bermain-main ini, ya maaf ya, saya, kita tidak tendensius, saya khawatir yang bermain ya yang punya posisi-posisi, Pak. Karena ini, atau pebisnis-pebisnis besar. Kita harus pikirkan itu daerah-daerah perbatasan, daerah-daerah pinggiran laut, dan sebagainya,” tambahnya.