Untitled Image

Tapa Arjuna dan Awal Puasa di Tanah Jawa

28 April 2020 11:03
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Perupaan lakon Karna Tandhing, salah satu momen paling menentukan dalam Perang Baratayudha. Di sisi kiri, Karna mewakili Kurawa maju dengan Prabu Salya sebagai kusirnya. Di sisi kanan, Arjuna ditemani Prabu Kresna dari Dwarawati. Dalam pertempuran itu, Arjuna mengalahkan Karna dengan Panah Pasopati. Foto: Dok. Gunawan Kartapranata/CC BY-SA 3.0 via Wikimedia Commons
zoom-in-whitePerbesar
Perupaan lakon Karna Tandhing, salah satu momen paling menentukan dalam Perang Baratayudha. Di sisi kiri, Karna mewakili Kurawa maju dengan Prabu Salya sebagai kusirnya. Di sisi kanan, Arjuna ditemani Prabu Kresna dari Dwarawati. Dalam pertempuran itu, Arjuna mengalahkan Karna dengan Panah Pasopati. Foto: Dok. Gunawan Kartapranata/CC BY-SA 3.0 via Wikimedia Commons
Puasa adalah barang lawas di nusantara. Laku menghindari makan, minum, hubungan seksual, bahkan tidur pada beberapa waktu tertentu, sudah jamak dilaksanakan sebelum Islam masuk ke Nusantara.
Jenis puasa juga bermacam-macam. Di Jawa, masyarakat mengenal puasa mutih (menghindari konsumsi apa pun kecuali nasi dan air putih); patigeni (tak makan jua minum dan mengurung diri dalam ruangan tanpa pencahayaan apapun); ngrowot (tak makan apa pun kecuali buah-buahan); ngebleng (tidak makan tidak minum tidak tidur); dan sebagainya.
“Orang Jawa sudah biasa melakukan hal ini. Puasa merupakan instrumen yang bersifat universal,” ujar Turita Indah Setyani, pengajar di Program Studi Jawa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia kepada kumparan, Jumat (24/4).
Bisa jadi, kata Turita, kewajaran laku puasa itu pulalah yang membuat tuntutan satu bulan puasa yang disyariatkan Islam menjadi tidak berat-berat amat untuk dilakukan.
“Macam-macam puasanya orang Jawa, sudah biasa. Itu sudah dilakukan, sehingga hakikat puasa itu masuk (ke tradisi Jawa),” ujar Turita.
Dan seperti pada penyebaran Islam secara umum, terutama di Jawa, peran Walisongo (Wali Sembilan) diceritakan cukup sentral dalam memperkenalkan ibadah puasa Ramadhan. Khususnya, tentu saja, adalah Sunan Kalijaga.
Sunan Kalijaga (Raden Mas Said). Foto: Dok. Wikimedia
zoom-in-whitePerbesar
Sunan Kalijaga (Raden Mas Said). Foto: Dok. Wikimedia
Menurut Turita, setiap dari Walisongo memiliki cara yang berbeda-beda dalam menyebarkan agama Islam di Jawa.
Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) dan Sunan Ampel, misalnya, memilih pendekatan teologis dengan turun ke masyarakat dan menyampaikan dasar serta nilai Islam. Sementara Sunan Giri berdakwah dengan pendekatan ilmiah, yaitu dengan membikin pesantren dan pelatihan.
Sunan Kudus dan Sunan Gunung Jati berdakwah dengan pendekatan kelembagaan di Kesultanan Demak dan Cirebon, sedangkan Sunan Muria dan Sunan Drajad memilih pendekatan sosial dengan menjadi rakyat jelata.
“Yang terakhirlah yang kemudian menggunakan pendekatan kultural, yaitu Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang. Mereka menyadari budaya sudah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat Jawa, sehingga pendekatan yang digunakan diwujudkan dengan keahlian masing-masing,” jelas Turita.
Turita Indah Setyano, dosen Sastra Jawa Universitas Indonesia. Foto: Dok. FIB UI
zoom-in-whitePerbesar
Turita Indah Setyano, dosen Sastra Jawa Universitas Indonesia. Foto: Dok. FIB UI
Sebelum berbicara panjang lebar tentang bagaimana Kalijaga menyebarkan Islam dengan wayang dan lakon carangannya (lakon bikinan, kisah wayang di luar pakem India seperti Mahabharata atau Ramayana), perjalanan Kalijaga menjadi seorang waliyullah sendiri penuh dengan simbolisme. Sebuah perjalanan menjadi pribadi yang baru, menuju kemampuan spiritual yang lebih tinggi.
Kalijaga adalah anak Adipati Tuban, Tumenggung Wilatikta. Ia lahir dengan nama Raden Mas Said pada 1450. Namun, terbalik dengan nama besar yang ia sandang, kehidupan mudanya justru dihabiskan sebagai begal dan penjudi. Pertemuannya dengan Sunan Bonang yang kelak akan menjadi gurunya pun, awalnya, bertujuan untuk membegal sang Sunan.
Diceritakan Clifford Geertz dalam The Religion of Java (1960), suatu hari Raden Mas Said melihat Sunan Bonang, seorang Arab, berjalan di Tuban. Raden Mas Said tidak mengenal orang tersebut. Namun, ia bisa melihat Sunan Bonang memakai pakaian yang bagus dan perhiasan-perhiasan mahal. Bahkan, kepala dari tongkat jalannya terbuat dari emas.
Kemudian, Raden Mas Said mencegat dan meminta Sunan Bonang menyerahkan harta dan tongkatnya, atau nyawa menjadi bayarannya.
“Mengapa? Perhiasan ini tidak ada apa-apanya, lihat sekelilingmu!” kata Sunan Bonang.
Raden Mas Said terheran-heran saat melihat sekelilingnya. Ia melihat pohon-pohon di sekelilingnya berubah emas dan berbuah intan perhiasan. Seketika, keinginannya untuk merampok Sunan Bonang hilang dan berganti keinginan untuk berguru.
Syahdan, Sunan Bonang mau mengajari Raden Mas Said rahasia ilmunya dengan satu syarat: Mas Said harus menunggu di pinggir sebuah sungai sampai Sunan Bonang kembali. Mas Said menunggu, menunggu, dan menunggu sembari bertapa.
Waktu berlalu dan berlalu. Semak dan pepohonan bertumbuh di sekelilingnya, peri-peri menggoda, dan lelembut serta memedi datang mengganggu. Raden Mas Said tetap dalam tapanya. Beberapa tahun berlalu, dan Sunan Bonang kembali ke bantaran kali itu.
Sunan Bonang tahu Mas Said telah menjadi pribadi lain lewat tapanya. Dari fragmen cerita itulah Mas Said kemudian dipanggil dengan julukan Sunan Kalijaga (kali = sungai, jaga = menjaga). Ia selanjutnya mengikuti jejak Sunan Bonang menyebarkan agama Islam di Jawa.
Wayang. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Wayang. Foto: Shutterstock
Berbeda dengan Walisongo lain yang berfokus pada golongan Jawa santri (Sunan Giri) dan priyayi (Sunan Gunung Jati dan Kudus), Sunan Kalijaga mendekat pada mereka yang abangan. Dus pendekatan yang diambil adalah secara kultural, terutama melalui gamelan, tembang, dan wayang.
Pada yang terakhir diperlukan penyesuaian. Wayang yang ada pada masa itu, menurut Turita, berbeda dengan apa yang kita lihat sekarang.
“Sultan Demak waktu itu, Raden Patah, meminta Sunan Kalijaga untuk menyempurnakan bentuk wayang. Karena wayang pada masa Hindu-Buddha itu menyerupai orang. Sementara pada waktu Islam masuk, kan tidak boleh itu (menyerupai manusia),” terang Turita.
Selain mengubah bentuk wayang menjadi wayang kulit yang kita kenal sekarang, dibuat pula beberapa penyesuaian dan lakon carangan agar masyarakat lebih mudah mengidentifikasi diri dengan ajaran-ajaran Islam yang relatif berbeda dengan yang selama ini mereka kenal.
Penyesuaian yang dilakukan misalnya mengubah kisah tokoh Drupadi, yang sebelumnya berpoliandri dengan menikahi kelima Pandawa, menjadi istri Yudhistira saja.
“Lakon carangan ini untuk menyampaikan yang utama dari Islam, yaitu rukun Islam. Dengan lakon carangan, karakter setiap Pandawa menjadi simbol kelima rukun Islam,” jelas Turita.
Misalnya saja, Yudhistira yang memiliki pusaka berbentuk Jamus Kalimasada, yang sebetulnya adalah simbol sekaligus pelesetan dari kalimat syahadat. Bima menjadi persimbolan dari salat lima waktu. Si kembar, Nakula dan Sadewa, menjadi simbol dari zakat dan berhaji.
Untuk puasa, lakon carangan yang dipilih untuk mengenalkan konsep puasa dalam Islam adalah lakon Arjuna Tapa di Gunung Indrakila.
Ilustrasi. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi. Foto: Shutterstock
Alkisah, demi mendapat anugerah dari Hyang Widhi, Arjuna berangkat bertapa ke puncak Gunung Indrakila. Arjuna tahu, anugerah tersebut akan berguna bagi dirinya dalam mengarungi bahtera kehidupan.
Di tengah perjalanan yang terjal dan berliku, muncul sesosok babi hutan raksasa dengan perut yang sangat besar. Babi tersebut mengejar, menyeruduk, dan menanduk Arjuna sampai kewalahan. Baru, ketika Arjuna melengkungkan busur dan melepas anak panahnya ke perut besar babi hutan, babi tersebut tewas seketika.
“Wujud babi hutan itu sendiri merupakan simbol. Disampaikan bahwa babi hutan itu pemakan segala dan sebagainya. Itu simbol keserakahan,” kata Turita.
Perjalanan Arjuna berlanjut. Puncak gunung semakin dekat, namun rintangan kembali menghalang. Ular berkepala dua datang, mengejar, mematuk, dan melilit tubuh Arjuna. Ditarik ekor, kepalanya mematuk. Dijerat satu kepala, kepala lain menyerang dari belakang. Arjuna sempat kelimpungan.
Tapi tentu bukan Arjuna namanya kalau takluk dengan terkaman ular. Ia berhasil lepas, menjauh tak seberapa, dan melepas dua mata panah sekaligus yang menancap di kepala ular. Keduanya muspra dan barulah Arjuna bisa melanjutkan perjalanan.
“Ular itu simbol dari rasa dengki, rasa iri, yang dapat melilit, membelenggu manusia,” jelas Turita. Kepala dua adalah simbol dari bahayanya orang iri, yang bisa bermulut manis di depan kita namun tega menikam dari belakang.
Arjuna melanjutkan perjalanan, namun pergumulannya dengan babi dan ular berkepala dua membuatnya letih. Ia beristirahat sebentar dan mandi pada sebuah telaga yang jernih. Di tepiannya, Arjuna menemukan sebuah gua yang sangat besar. Seperti ujian yang bertubi-tubi, dari dalam goa keluar raksasa berwajah merah yang marah karena Arjuna berani mandi di telaga miliknya.
Wayang kulit Pandawa Lima. Foto: Ferio/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Wayang kulit Pandawa Lima. Foto: Ferio/kumparan
Pertempuran Arjuna dan raksasa yang sakti mandraguna tak terelakkan. Kali ini Arjuna betul-betul kewalahan. Panah yang jadi keahliannya tak mempan. Semakin keras dipukul kepalanya, raksasa justru semakin besar dan kuat. Arjuna hampir kehilangan akal, sadar bahwa apa yang ia hadapi tidak akan selesai dengan jurus-jurus fisik biasa.
Arjuna melompat ke belakang. Ia duduk bersila, menangkupkan tangan, memusatkan pikiran dan berserah diri kepada Hyang Widhi. Degup jantungnya turun dan melambat. Kemarahan dari pertempurannya dengan raksasa perlahan padam.
Uniknya, semakin Arjuna mengheningkan cipta, raksasa yang melawannya berubah semakin kecil. Semakin amarah Arjuna padam, semakin kecil pula raksasa tersebut. Di akhir meditasi, raksasa tersebut sirna dan menghilang.
“Ternyata ini simbol. Raksasa itu ketika marah muncul, kemarahannya semakin besar. Dia simbol nafsu kemarahan dalam diri manusia. Kalau kemarahan dilawan dengan kemarahan juga, ia akan makin besar,” ujar Turita.
Sesampainya di puncak Gunung Indrakila, Arjuna bersemedi. “Pada saat itu, saking kuatnya semedinya, konon Swargaloka menjadi panas, terasa sampai di sana. Batara Indra mengetahui, Arjuna bertapa di Indrakila. Kemudian dia mengirimkan bidadari yang paling cantik untuk menggodanya,” kisah Turita.
“Ini nafsu juga sebetulnya kan, nafsu yang tertinggi, masalah perempuan. Dikirimkan bidadari Dewi Supraba untuk menggoda Arjuna waktu itu, godaan tertinggi dalam kehidupan,” kata Turita.
Tapi Arjuna tak tergoda. Dari situ, Arjuna diberi hadiah Panah Pasopati, yang kemudian bisa membunuh raksasa Niwatakawaca di Swargaloka, mengalahkan Karna dan Jayadrata pada cerita yang lain.
Diberikannya Pasopati juga punya arti simbolis. Pasu dalam bahasa Jawa kunonya disebutkan sebagai hewan, simbol dari nafsu. Pati adalah mati.
“Makanya dibilang puasa di situ, kalau kita kaitkan dengan Islam kan tidak makan, tidak minum, dan tidak boleh bersetubuh. Supaya apa? Supaya bisa mencapai hakikat puasa itu sendiri. Nah, di sini godaan itu tidak mempan terhadap Arjuna,” kata Turita.
Clifford Geertz. Foto: Dok. Kemendikbud
zoom-in-whitePerbesar
Clifford Geertz. Foto: Dok. Kemendikbud
Menurut Geertz, masih dalam The Religion of Java, laku pasa (puasa) adalah sebuah konsep yang dekat di kehidupan orang Jawa, apa pun golongannya—abangan, priyayi, maupun santri. Yang kemudian Geertz nilai berbeda adalah mengapa golongan-golongan tersebut berpuasa.
Bagi abangan dan priyayi, puasa dipercaya menjadi jalan seseorang mendapatkan kemampuan spiritual tertentu—meski sekarang para pelakunya sudah sangat sedikit.
“Untuk mencapai sebuah kawruh, rasa paling sempurna, orang mesti memiliki kemurnian dalam tekadnya. Cara paling utama untuk mencapai kemurnian itu adalah, pertama, dengan menumpulkan keinginan individu, melepaskan diri dari kebutuhan fisik sehari-hari. Kedua, menarik diri secara disiplin dari hal-hal remeh dalam beberapa waktu tertentu. Disiplin itu diraih dengan berpuasa, tetap terjaga, dan menghindari keinginan seksual,” tulis Geertz.
Menurut Geertz, ada pergeseran makna puasa bagi kaum santri Jawa. Puasa tidak lagi hanya untuk meningkatkan kemampuan spiritual dan tujuan arkaik lainnya.
Seperti halnya saat ini, puasa sering kali dilakukan untuk tujuan klasik, yaitu untuk taat pada Tuhan, meningkatkan kontrol diri, dan “untuk mengetahui rasanya menjadi lapar dan memahami bagaimana rasanya menjadi si miskin yang tidak punya makanan untuk disantap.”
Tancep kayon.
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)
****
Yuk! bantu donasi atasi dampak corona.
Ramadhan ini sangat berbeda dan istimewa. Aktivitas ibadah, belajar, dan bekerja, semua dilakukan dari rumah. Dari rumah pula, saatnya kita tenang untuk mencapai menang.
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten