Tentang Kampung Apung, Nasib Masyarakat dan Kerinduan Akan Air Bersih
·waktu baca 4 menit

Air bersih menjadi barang mahal bagi Warga Kampung Apung, Kapuk Teko, Muara Angke, terutama yang berdomisili di daerah Kalideres dan Cengkareng, Jakarta Barat. Sebab di sana kualitas airnya keruh dan tidak layak konsumsi.
Sehingga, warga sekitar terpaksa menggunakan air galon/isi ulang ataupun air tangki yang diperjualbelikan di sekitar kawasan tersebut untuk memenuhi suplai air bersih.
Warga telah melaporkan masalah itu ke Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. Politisi PDIP itu lalu memerintahkan Pemkot Jakarta Barat untuk segera menyalurkan bantuan air bersih.
“Air PAM juga enggak masuk. Ketika air keluar bening, tapi 20-30 menit kemudian keruh dan tidak bisa dikonsumsi,” demikian laporan yang disampaikan kepada Pramono saat peninjauan lahan di RS Sumber Waras, Jakarta Barat, Senin (27/10). Menurutnya, setidaknya ada 2 RT yang terdampak.
Wali Kota Jakarta Barat, Uus Kuswanto, yang hadir bersama Pram, membenarkan laporan tentang kondisi kampung itu. Ia akan segera menindaklanjuti keluhan itu.
“Segera saya koordinasi dengan PAM untuk dikirimkan air bersih. Karena memang betul untuk Cengkareng dan Kalideres, kekurangan air bersih dan akses PAM masih dalam proses. Insyaallah dalam waktu dekat nanti masuk,” ujarnya.
Sambil menunggu pemasangan jaringan air selesai, Pemkot Jakbar akan mengirimkan suplai air bersih dari PAM ke warga terdampak.
Kondisi Kampung Apung
kumparan mendatangi Kampung Apung Kapuk Teko pada Senin (27/10) untuk mengetahui kondisi di wilayah tersebut. Terlihat dinding-dinding MCK warga tampak menguning akibat endapan air kotor.
Saat air sumur ditimba, tercium aroma karat yang cukup menyengat. Warga pun harus menampung air itu di ember atau bak mandi yang perlahan berubah warna menjadi cokelat kekuningan.
Ketua RT 10, Rudi (55), mengatakan air tanah di kampungnya sudah tidak bisa digunakan untuk memasak sejak pertengahan 1990-an. Ia menduga kualitas air menurun karena terkontaminasi limbah dari kawasan industri di sekitar wilayah tersebut.
“Nah, (tahun) 90 pertengahan itu udah sama sekali nggak bisa digunain buat masak. Jadi udah mungkin bahasanya terkontaminasi. Sama mungkin ada bahan-bahan kimia dari perusahaan-perusahaan di sekitar sini gitu kan,” kata Rudi saat ditemui di lokasi.
Ia menjelaskan, meski tampak bening saat baru ditimba, air tersebut akan berubah warna setelah diendapkan.
“Nanti dia kelihatan kayak ada serbuk kuning. Kayak besi gitu, iya. Kayak besi gitu kuning-kuning begitu. Di ember aja yang buat nimba itu kelihatan. Tanah air-tanahnya tuh berkarat gitu,” ujarnya.
Ia mengatakan, di wilayahnya terdapat sekitar 200 kepala keluarga (KK), dengan lebih dari 100 rumah. Dari jumlah itu, sekitar 120 warga sudah ber-KTP DKI Jakarta, sementara sisanya pendatang dari luar daerah yang menetap di kampung tersebut.
“Dari PAM saya pengajuan untuk instalasi PAM. Kita minta. Nanti ya mudah-mudahan sih nanti kan Pak Pram itu ngomong. Mungkin boleh dibilang janji nanti akan masuk PAM gitu kan,” katanya.
Mandi Air Sumur Keruh, Beli Air untuk Konsumsi
Kesulitan air bersih ini membuat warga hanya menggunakan air sumur yang keruh untuk mandi dan mencuci. Sementara untuk minum dan memasak, mereka membeli air pikul
“Kalau untuk air minum, air masak kita harus beli air isi ulang, air gerobak. Makanya dari dulu banyak warga itu minta pengajuan PAM,” kata Rudi (55), Ketua RT 10 Kampung Apung, Senin (27/10).
Harga air pikul kini mencapai Rp6.000 hingga Rp7.000 per pikul. Dalam sepekan, rata-rata warga menghabiskan dua sampai lima pikul air untuk kebutuhan rumah tangga.
Dulu Air Tanah Bisa Diminum
Kampung Apung di Kapuk Teko, Kalideres, Cengkareng, Jakarta Barat dulunya merupakan areal persawahan hingga empang yang subur. Kini, sekitar 200 Kepala Keluarga yang ada di sana sebagian besar tinggal di rumah-rumah terapung.
Ketua RT 10 Kampung Apung, Rudi (55), mengenang pada masa kecilnya di tahun 1980-an, kawasan itu masih asri dan penuh sawah. Air tanah pun masih bisa diminum langsung dari sumur.
“Air tanah dulu tahun 80 saya masih minum. Saya main lari-larian di sawah-sawah gitu kan. Ketemu sumur, saya timba. Dulu ada padasan di pinggir sumur buat wudu, saya buka, minum. Itu masih enak airnya,” kenang Rudi.
Namun kondisi itu berubah drastis saat banjir mulai rutin menggenangi kampung menjelang 1990. Air pun tak lagi surut hingga kini mencapai kedalaman dua sampai tiga meter di beberapa rumah.
Warga pun berinisiatif menguruk tanah dan membangun rumah panggung agar bisa tetap bertahan.
Hal serupa disampaikan Usman (60), warga asli Kampung Apung yang sudah tinggal di kawasan itu sejak lahir. Ia masih ingat masa-masa ketika kampungnya kering dan bisa dijadikan tempat bermain anak-anak.
“Dulu mah tahun 80-an ya enak. Kita bisa lari ke sana kemari. Karena mah air semua. Itu kuburan masih kering,” katanya.
Kini, genangan air menjadi pemandangan sehari-hari di Kampung Apung. Warga berharap pemerintah dapat menata kembali wilayah tersebut agar lebih layak huni, termasuk penyediaan fasilitas umum yang masih minim.
