Waktu Seakan Berhenti di Afrika, Jutaan Orang Masih Teriak Kelaparan

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Kelaparan dialami 4,7 juta penduduk Sudan Selatan   (Foto: Reuters)
zoom-in-whitePerbesar
Kelaparan dialami 4,7 juta penduduk Sudan Selatan (Foto: Reuters)

Ini tahun 2017. Di tahun ini kehidupan masyarakat serba mudah, terutama dengan kehadiran internet. Apa-apa bisa didapatkan dengan cepat, termasuk makanan dan minuman.

Sejatinya seperti itu. Tapi mengapa hal demikian tidak terjadi di Afrika?

Di Afrika, khususnya di bagian timur Benua Hitam itu, waktu seakan berhenti. Seperti di tahun 1980-an, negara-negara Afrika saat ini tidak merasakan kemudahan yang diperoleh orang-orang di belahan bumi lainnya.

Di saat makanan dan minuman berlimpah di negara-negara lain, warga Afrika mengais tanah untuk mencari setetes air. PBB bahkan memperkirakan ada lebih dari 20 juta orang yang terancam menderita kelaparan di negara-negara Afrika dan Timur Tengah.

Baca juga: Dilema Ibu di Somalia, Memilih Anak Mana yang Bisa Makan

Anak penderita malnutrisi di Somalia (Foto: Reuters)
zoom-in-whitePerbesar
Anak penderita malnutrisi di Somalia (Foto: Reuters)

Sedikitnya ada 1,4 juta anak-anak yang terancam tewas karena kelaparan di Afrika. Kelaparan terparah terjadi di Nigeria, Somalia, Yaman dan Sudan Selatan.

Untuk warga Somalia, ini adalah kali kedua dalam enam tahun terakhir mereka mengalami bencana kelaparan. Tahun ini berdasarkan catatan PBB, ada 2,9 juta orang di Somalia yang kelaparan dan sangat membutuhkan bantuan makanan.

Menurut Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guteress yang mengunjungi Somalia pekan lalu, kelaparan di Somalia adalah dampak dari kekeringan, konflik, penyakit mematikan, dan peperangan melawan kelompok teroris al-Shabab.

Jumlah populasi Somalia sendiri hanya 10,5 juta, artinya lebih dari sepertiga warga negara itu kelaparan. Hanya dalam waktu 48 jam pekan lalu, 110 orang tewas di Somalia karena kelaparan dan penyakit yang menyertainya.

Baca juga: Kekeringan Tewaskan 110 Orang dalam Dua Hari di Somalia

Kelaparan di Sudan Selatan (Foto: Reuters/Siegfried Modola)
zoom-in-whitePerbesar
Kelaparan di Sudan Selatan (Foto: Reuters/Siegfried Modola)

Sebelumnya pada 2011, Somalia telah mengalami wabah kelaparan serupa. Saat itu sekitar 260 ribu orang di Somalia bagian selatan dan tengah meninggal dunia.

Guteress mengatakan, kehidupan ekonomi warga Somalia saat ini sangat melarat sehingga membutuhkan bantuan komunitas internasional dengan segera.

Pemandangan yang sama ditemui PBB di Sudan Selatan dengan 4,9 juta yang kelaparan, di Nigeria 1,8 juta orang, dan di Yaman warga kelaparan mencapai 14,1 juta orang.

Di Sudan Selatan, warga mencari aman dari perang sipil yang mendera dengan kabur dari rumah mereka, tinggal di pulau-pulau kecil di tengah rawa. Mereka hanya memakan eceng gondok dan rerumputan. Menurut PBB, 100 ribu orang di Sudan Selatan tinggal menunggu ajal jika kelaparan tidak segera diatasi.

Baca juga: Warga Sudan Selatan Bertahan Hidup Makan Eceng Gondok dan Rumput

Kekeringan melanda Ethiopia (Foto: Reuters)
zoom-in-whitePerbesar
Kekeringan melanda Ethiopia (Foto: Reuters)

Guteress mengatakan perlu dana sedikitnya Rp 51 triliun untuk mengentaskan kemiskinan di Sudan Selatan, Nigeria, Somalia dan Yaman. Namun yang diperlukan bukan hanya uang, tapi keamanan bagi penyaluran bantuan tersebut.

Pasalnya banyak ancaman bagi para penyalur bantuan kemanusiaan ke negara-negara itu. Banyak bantuan keamanan PBB yang jatuh ke tangan kelompok perlawanan, Guterres mengatakan perlu adanya kerja sama dengan berbagai pihak.

"Banyak insiden yang terjadi, banyak pertempuran dan masalah. Tapi ancaman genosida telah hilang, dan saya harap dengan kerja sama antara para pemimpin Afrika, Uni Afrika dan PBB, kami bisa bergerak ke arah yang tepat," kata Guteress.