WHO Desak China Transparan soal Asal Usul Virus Corona
ยทwaktu baca 2 menit

Penyelidikan asal-usul pandemi COVID-19 di China terhambat karena kurangnya data awal mula penyebaran COVID-19 di China. WHO mendesak China lebih transparan.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, mereka memiliki utang tanggung jawab pada mereka yang terinfeksi, terdampak bahkan meninggal akibat COVID-19. Sehingga penjelasan asal usul COVID-19 harus ditemukan.
"Kami meminta China untuk transparan dan terbuka serta bekerja sama," kata Tedros dikutip Reuters, Jumat (16/7).
"Kami berutang kepada jutaan orang yang menderita dan jutaan orang yang meninggal untuk mengetahui apa yang terjadi," tambah dia,
Sementara Menteri Kesehatan Jerman, Jens Spahn, yang ikut melakukan pembicaraan dengan Tedros juga mendesak China untuk mengizinkan penyelidikan tentang asal-usul pandemi COVID-19 berlanjut.
Ini artinya juga akan ada lebih banyak informasi diperlukan.
Sebelumnya tim dari WHO telah menghabiskan empat minggu di sekitar Wuhan dengan para peneliti China pada awal 2021 untuk menyelidiki asal usul virus corona.
Ada beberapa hipotesis asal usul virus corona mulai dari kemungkinan ditularkan dari kelelawar ke manusia melalui hewan lain hingga kebocoran dari laboratorium di Wuhan.
China menilai, teori soal virus corona bocor dari laboratorium Wuhan adalah tidak masuk akal. China menegaskan untuk tidak mempolitisasi masalah ini sebab hanya akan menghambat penyelidikan.
Lebih lanjut, Tedros menyebut akan memberi penjelasan singkat kepada 194 negara anggota WHO pada hari Jumat mengenai studi fase kedua asal usul COVID-19 yang diusulkan.
"Kami berharap dapat bekerja sama dengan rekan-rekan China kami dalam proses itu dan direktur jenderal akan menguraikan langkah-langkah untuk negara-negara anggota pada pertemuan besok, pada hari Jumat," ujar Direktur Eksekutif WHO Mike Ryan.
Akibat COVID-19, seluruh negara mengalami keterpurukan termasuk Indonesia. Tercatat jumlah kasus positif COVID-19 global kini mencapai 189.501.484 orang. Sedangkan pasien meninggal mencapai 4.078.625 orang.
