Yang Dibutuhkan Warga Setelah Banjir Surut: Bantuan Bersihkan Lumpur

Banjir yang melanda Jabodetabek hingga Lebak, Banten, perlahan mulai surut. Meski begitu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Senin (6/1) mencatat masih ada 36.419 pengungsi yang bertahan di sejumlah titik.
Mereka memilih bertahan di pengungsian karena alasan beragam. Salah satunya tak sanggup membersihkan sampah sisa banjir dan lumpur yang mengendap. Apalagi di Lebak, Banten, ada warga yang kehilangan rumahnya karena hanyut diterjang banjir bandang.
Para korban banjir terpaksa tinggal di tempat-tempat pengungsian dan rumah kerabat yang selamat dari genangan air. Tercatat ada 1.200 korban banjir di Lebak yang membutuhkan bantuan makanan, pakaian, selimut, dan obat-obatan.
Di Jakarta, warga mengeluhkan tebalnya lumpur yang mengendap. Warga Teluk Gong, Penjaringan, Jakarta Utara, misalnya.
Mereka kekurangan alat kebersihan untuk mengumpulkan sampah, lumpur, dan berbagai barang yang terbawa saat banjir. Alat kebersihan seperti kain pel, sapu, sapu lidi, deterjen, hingga pembersih lantai habis terjual, warga kerja bakti seadanya.
"Iya, ini seadanya dulu. Karena listrik belum nyala, jadi sedapatnya dulu disikat saja," kata salah seorang warga, Agung, Minggu (5/1).
"Kalau sudah kayak gini, mah, bantuan alat kebersihan yang paling penting. Terutama pembersih, kayak karbol gitu, karena cepat habis dibeli orang kalau di warung," kata Agung.
Begitu juga keluhan yang disampaikan Rupaidah, warga Rawa Buaya, Jakarta Barat. Meski ia telah kembali ke rumah, namun Rupaidah tetap membutuhkan air bersih dan alat kebersihan.
“Sampahnya banyak,” kata Rupaidah.
Atau warga Kampung Pulo dan Kalideres, Jakarta Timur, yang hingga kini masih berjibaku membersihkan lantai rumah dari endapan lumpur. Mereka bergotong royong bersama petugas oranye mencuci pakaian, karpet, perabotan, hingga membersihkan gang.
“Ini juga masih banyak, semuanya pakaian, selimut habis kerendam ama lumpur,” ungkap Encu, salah seorang warga.
Tak hanya alat kebersihan, warga juga membutuhkan sembako, air bersih, dan pakaian layak pakai. Termasuk yang dikeluhkan Warga Kompleks Ciledug Indah, Tangerang --karena terdampak banjir cukup parah--, membutuhkan sejumlah bantuan tersebut termasuk obat-obatan dan dokter.
"Kalau bisa dokter datang dan keliling memeriksa langsung," kata salah satu warga, Muhrijat.
Menurut Muhrijat, warga masih membutuhkan persediaan makanan karena belum ada pedagang di sekitar rumah yang berjualan. Sedangkan bantuan berupa pakaian dibutuhkan karena banyak warga yang kehilangan pakaian dan tidak memiliki pakaian kering yang bersih.
Warga Ciledug Indah juga membutuhkan tenaga relawan. Pasalnya, tenaga warga dan pasukan oranye belum cukup untuk membersihkan jalanan kompleks dari lumpur.
"Fokus membuang sampah, 1 RT itu 6 truk saya hitung sampahnya. Jadi, armada kurang, tenaga kurang, soalnya yang punya rumah sudah cape. Malah ada yang ditinggal juga. Butuh relawan," ungkap Zul, warga lainnya.
Menengok Vila Nusa Indah, Bekasi, lumpur masih mengendap hampir 40 cm. Warga tidak sanggup membersihkan meski sudah dibantu relawan dan pasukan oranye. Mereka membutuhkan sumbangan alat kebersihan seperti air bersih, serokan, gerobak sampah, karbol, hingga disinfektan.
Terakhir, dampak banjir juga dirasakan SDN Penjagalan 05 Teluk Gong. Ribuan buku, rusak, termasuk buku baru yang akan digunakan di semester genap tahun 2020. Pemprov DKI sebelumnya mencatat ada 211 sekolah terdampak, dan 22.500 siswa menjadi korban.
Saat ini, 208 sekolah masih dalam tahap pembersihan pascabanjir. Sekolah membutuhkan uluran bantuan seperti buku, alat kebersihan, dan alat tulis, dan seragam layak pakai.
---
kumparan mengajak readers membantu warga yang terdampak musibah banjir dengan berdonasi lewat kumparanDerma. Mari, salurkan kebaikan sekarang!
Stori ini merupakan bagian dari campaign kumparanDerma. Ayo berderma sekarang.
Untuk info, saran dan kritik mengenai kumparanDerma, sila kirim ke cs.derma@kumparan.com.
