9 Merek Mobil Listrik Ini Wajib Penuhi TKDN Tahun Depan
·waktu baca 5 menit

Pemerintah melalui Peraturan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Nomor 6 Tahun 2023 Juncto Nomor 1 Tahun 2024, memberikan insentif bea masuk dan Pajak Penjualan Barang Mewah Ditanggung Pemerintah (PPnBM DTP) untuk mobil listrik yang diimpor utuh atau Completely Built Up (CBU).
Salah satu persyaratan untuk bisa memanfaatkan insentif tersebut adalah pabrikan harus menjalankan komitmen investasi. Bisa dalam bentuk menambah kapasitas produksi di fasilitas yang sudah ada, membangun pabrik baru, atau bekerja sama dengan perusahaan manufaktur pihak ketiga.
Terdapat enam perusahaan manufaktur yang menaungi sembilan merek di program tersebut. Mereka wajib merealisasikan lokalisasi produk mulai 1 Januari 2026 mendatang, sebab insentif impor mobil listrik CBU selesai pada 31 Desember 2025.
Berikut daftar produsen beserta nominal dan skema investasi di Tanah Air.
Citroen
Jenaman Perancis ini akan mulai lokalisasi model BEV mulai tahun di fasilitas perakitan milik Indomobil Group, yakni PT National Assemblers. Nilai investasinya sebesar Rp 105,71 miliar untuk perluasan kapasitas produksi mencapai 15 ribu unit per tahun.
Saat ini, Citroen telah memasarkan dua kendaraan listrik, meliputi Citroen E-C3 Electric yang saat ini diimpor dari India dan Citroen E-C4 Electric dengan basis produksi di Eropa.
Aion
Aion, merek mobil listrik Tiongkok yang berada di bawah payung Indomobil Group juga akan memasuki lini produksi di fasilitas yang sama. Total investasinya mencapai Rp 442,41 miliar dengan kemampuan produksi mencapai 25 ribu unit per tahun.
Anak perusahaan GAC ini telah memasarkan sejumlah model di berbagai segmen. Mulai dari Aion Y Plus, Aion V, hingga yang terbaru Aion UT.
Maxus
Masih dari PT National Assemblers dan Indomobil Group, Maxus sebagai penyedia mobil MPV mewah berpenggerak listrik juga siap melancarkan produksi lokalnya. Besaran investasi yang digelontorkan sebanyak Rp 21,32 miliar dengan kapasitas produksi 6 ribu unit per tahun.
Saat ini, Maxus Mifa 7 dan Maxus Mifa 9 telah melenggang di pasar otomotif nasional dengan relaksasi impor CBU dari China.
VW
Volkswagen juga telah menyiapkan lini produksi di PT National Assemblers untuk memproduksi lokal kendaraan listriknya. Salah satu yang menjadi ikonik tentu model ID. Buzz.
Besaran investasi VW di Indonesia berada di angka Rp 51,69 miliar dengan total kapasitas produksi 15 ribu unit per tahun.
PT National Assemblers telah memastikan bahwa fasilitas produksinya sudah siap beroperasi untuk memproduksi lokal empat jenama di bawah Indomobil Group.
BYD
Penguasa pasar mobil listrik di Indonesia, BYD juga tengah menyiapkan fasilitas produksi di Subang, Jawa Barat. Pembangunan pabrik baru ini memiliki nilai investasi sebesar Rp 11,26 triliun dengan kapasitas produksi 150 ribu unit per tahun.
Berdasarkan data Kemenperin, proses pembangunan per Mei 2025 telah mencapai 45 persen. Namun, BYD memastikan bahwa pabriknya di Indonesia akan sesuai dengan target, yakni mulai beroperasi pada awal 2026.
VinFast
VinFast telah mengucurkan dana investasi sebesar Rp 3,5 triliun untuk mendirikan basis manufaktur di Indonesia dengan kapasitas produksi 50 ribu unit per tahun.
Jenama asal Vietnam ini telah merampungkan 77 persen pembangunan fasilitas produksi per 18 Agustus 2025. Lokasinya terletak di daerah Purwakarta, Jawa Barat.
Geely
Geely menyasar strategi berbeda dengan dua pabrikan sebelumnya. Perusahaan asal China ini bekerja sama dengan perakitan umum untuk memproduksi produknya secara lokal di Indonesia.
PT Handal Indonesia Motor (HIM) telah menerima dana investasi dari PT Geely Motor Indonesia sebesar Rp 42,3 miliar. Status assembly Geely dengan kapasitas produksi 20 ribu per tahun sudah siap untuk dioperasikan.
Xpeng
Membawa merek Xpeng, PT Era Industri Otomotif mengadopsi strategi perakitan serupa dengan Geely. Bahkan, fasilitas produksinya pun mengandalkan PT Handal Indonesia Motor (HIM).
Jumlah kapasitas produksinya pun serupa di angka 20 ribu unit dan sudah siap beroperasi. Perbedaan dengan Geely terletak pada besaran investasi, Xpeng lebih besar di angka Rp 76,46 miliar.
GWM Ora
Terakhir, ada GWM Ora yang tergabung dengan Inchcape Group. Nantinya ia akan dirakit lokal bersama Haval Jolion di fasilitas produksi yang berlokasi di Wanaherang, Bogor, Jawa Barat.
Saat ini, penambahan kapasitas untuk GWM Ora telah mencapai 83 persen per Agustus 2025. Nominal investasinya sejumlah Rp 20,1 miliar dengan kapasitas produksi sebanyak 4.000 unit per tahun.
Secara keseluruhan, total investasi dari enam produsen ini mencapai Rp 15,5 triliun dengan total kapasitas produksi tahunan mencapai 305 ribu unit. BYD menjadi kontributor utama dengan berkontribusi sebesar 72 persen dari total investasi, serta 49,1 persen dari keseluruhan kapasitas produksi.
Peraturan Menteri Investasi Nomor 6 Tahun 2024 Juncto Nomor 1 Tahun 2024 mengatur subsidi bagi perusahaan yang melakukan impor CBU dengan komitmen investasi mendapatkan insentif Bea Masuk 0 persen dari tarif normal 50 persen. Selain itu, Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) juga dihapuskan, dari sebelumnya dikenakan sebesar 15 persen.
Wajib penuhi komitmen
Dalam peraturan yang sama, produsen penerima insentif harus mulai produksi lokal dengan kandungan TKDN minimal 40 persen, sejak 1 Januari hingga tahun 2026 berakhir. Kemudian, pada 2027 harus sudah meningkat menjadi 60 persen.
Peningkatan TKDN wajib dilanjutkan, hingga pada 2030 harus mencapai angka 80 persen. Perolehan ini bisa dicapai apabila para pabrikan meningkatkan kemampuan lokalisasi.
Adapun poin utama yang wajib dipenuhi oleh seluruh peserta program insentif impor mobil listrik CBU, yaitu pelunasan komitmen produksi 1:1. Artinya, setiap satu unit kendaraan impor yang telah terjual hingga 31 Desember 2025 sejak masa menerima insentif, wajib digantikan dengan satu penjualan atau produksi unit CKD dengan spesifikasi setara atau lebih, terhitung dari 1 Januari 2026 sampai 31 Desember 2027, sesuai dengan Pasal 2 Ayat 7 beleid serupa.
Baru pada 2028, perusahaan yang telah memenuhi komitmen tersebut bisa melakukan klaim dan pencairan bank garansi, semacam jaminan awal untuk mengikuti program insentif impor CBU.
