kumparan
25 Februari 2019 10:38

ITB Masuk 200 Besar Perguruan Tinggi Terbaik Asia Pasifik

Institut Teknologi Bandung (ITB)
Institut Teknologi Bandung (ITB). Foto: Facebook @institutteknologibandung
Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil masuk 200 besar perguruan tinggi terbaik di tingkat Asia-Pasifik berdasarkan rilis yang dikeluarkan Times Higher Education (THE) tahun 2019. THE merilis, dalam bidang emerging economies, ITB menduduki ranking ke-164 kampus terbaik se-Asia Pasifik.
ADVERTISEMENT
Metodologi yang digunakan THE dalam penentuan rangking kampus-kampus terbaik meliput aspek citations (30%), industry income (2,5%), international outlook (7,5%), research (30%), dan teaching (30%).
Atas pencapaian tersebut, Rektor ITB Kadarsah Suryadi menyampaikan rasa syukur. Kadarsyah juga mengucapkan terima kasih atas dukungan semua pihak, termasuk pemerintah melalui Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) yang telah memberikan bantuan dalam berbagai bentuk, baik pendanaan dan kebijakan.
“Kedua juga terima kasih kepada kawan-kawan internal di ITB karena berkat kerja keras semuanya ini bisa terwujud,” kata Kadarsah, Jumat (22/2), sebagaimana dilansir laman ITB.
Menurut Kadarsyah, tujuan utama majunya sebuah perguruan tinggi bukan hanya diukur pada ranking, melainkan pada proses continuous improvement atau perbaikan berkelanjutan. “Dan kita harapkan semoga semua perguruan tinggi di Indonesia maju bersama-sama dengan semangat world class university dan continuous improvement,” ujarnya.
ITB masuk 200 kampus terbaik se-Asia Pasifik
ITB masuk 200 kampus terbaik se-Asia Pasifik Foto: ITB
Tak hanya masuk rangking Asia Pasifik. Berdasarkan rilis pemeringkatan QS World University Rankings 2019, ITB dan masuk daftar 1.000 kampus terbaik dunia, tepatnya berada di rangking ke-359.
ADVERTISEMENT
Wakil Rektor bidang Riset, Inovasi dan Kemitraan ITB, Bambang Riyanto Trilaksono, mengatakan capaian yang diperoleh ini harus menjadi tantangan ke depan untuk terus melakukan peningkatan ranking baik dari skala Asia maupun dunia.
Menurut Bambang, dalam melakukan pemeringkatan, THE dan QS memiliki metodologi yang sedikit berbeda, tapi juga memiliki kesamaan. Misalnya, kesamaan yang menonjol adalah produktivitas dan kualitas dari riset dan publikasinya, sitasi, jumlah mahasiswa asing, dan jumlah dosen asing. Kriteria atau metodologi tersebut dipelajari oleh ITB untuk melakukan inisiatif melaksanakan suatu program yang mendukung pencapaian pada pemeringkatan itu.
"Misalnya kita melakukan program mengundang mahasiswa dari luar negeri untuk stay di ITB selama 2-3 minggu yang instruktur dari ITB dan dari luar. Kemudian kita juga mengundang scientist dari luar untuk stay di ITB dan melakukan riset bersama dengan dosen ITB," tuturnya.
ADVERTISEMENT
Dia menambahkan, saat ini ITB juga melakukan hibah riset kolaboratif dengan tiga kampus lain yaitu IPB, UGM dan Unair. Dengan riset kolaboratif ini diharapkan mampu meningkatkan publikasi jurnal Q1 dan meningkatkan sitasi ITB.
"Jadi kita mempunyai berbagai program untuk meningkatkan peringkat kita, tapi yang lebih fundamental daripada tujuan meningkatkan rangking, sebenarnya untuk peningkatan kualitas perguruan tinggi itu sendiri. Jadi bukan semata-semata untuk ranking tapi ingin meningkatkan kualitas," katanya.
Ranking seperti ini menurut Bambang bisa meningkatkan reputasi perguruan tinggi di dunia. Manfaatnya dapat memberikan informasi kepada calon mahasiswa baik dari dalam negeri maupun luar negeri yang akan kuliah di ITB.
"Biasanya peringkat yang baik akan memudahkan kita untuk berkolaborasi di dunia internatsional. Misalnya dalam kolaborasi riset, kolaborasi pendidikan dan inovasi. Mempermudah kita melakukan kerjasama dengan universitas," ujarnya.
ADVERTISEMENT
Hasil pemeringkatan universitas juga bisa menjadi evaluasi di tataran internal kampus. Misalnya dengan melihat bagian yang perlu diperbaiki dan menjadi kelemahan. "Bagian lemah itu kita perlu perbaiki dan kita tingkatkan," pungkasnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan