Kumparan Logo

Mengenal Lempeng Laut Maluku Pemicu Gempa 7,1 M

kumparanSAINSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
 Gempa Tektonik 7,1 Magnitudo di Maluku Utara Foto: Daryono Bmkg
zoom-in-whitePerbesar
Gempa Tektonik 7,1 Magnitudo di Maluku Utara Foto: Daryono Bmkg

Pada Kamis (14/11) malam, pukul 23.17 WIB, Maluku Utara diguncang gempa berkekuatan 7,1 magnitudo (M). Akibatnya, ratusan warga di kota Manado, Ternate, Gorontalo, hingga Minahasa Utara, panik berhamburan ke luar rumah untuk mencari dataran yang lebih tinggi, karena guncangan gempa ini diiringi dengan peringatan dini tsunami dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG).

Menurut BMKG, jenis gempa yang terjadi di Maluku adalah gempa tektonik. Ini karena pusat gempa berada di tengah lautan, tepatnya di koordinat 1,67°LU dan 126,39°BT pada kedalaman 73 km, berjarak 137 km barat laut Jailolo, Maluku Utara.

Kepala Mitigasi dan Gempa Bumi BMKG, Daryono menjelaskan, gempa yang terjadi di Maluku disebut juga sebagai gempa intraslab. Zona gempa Laut Maluku ini terletak di antara Busur Sangihe dan Halmahera, membentang dari arah utara ke selatan, dan didasari oleh zona subduksi ganda (double subduction) yang menukik ke bawah Pulau Halmahera di sebelah timur, dan ke bawah Busur Sangihe di sebelah barat.

“Zona subduksi ini membentuk kemiringan ganda yang tidak simetris. Slab Lempeng Laut Maluku di bawah Busur Sangihe menukik hingga kedalaman 600 kilometer. Sedangkan di bawah Busur Halmahera, slab lempengnya relatif lebih dangkal, hanya kedalaman sekitar 300 kilometer,” papar Daryono, melalui pesan singkat kepada kumparanSAINS, Jumat (15/11).

Ilustrasi laut Maluku. Foto: Andreas Ricky Febrian/kumparan

Lebih lanjut Daryono mengatakan, subduksi ganda ini terbentuk akibat tekanan dari dua lempeng berbeda, yakni Lempeng Laut Filipina dari timur dan Lempeng Sangihe dari barat.

Akibat tekanan dari keduanya, terbangun akumulasi medan tegangan, hasil gaya kompresi pada batuan kerak samudera di bagian tengah Zona Tumbukan Laut Maluku (Molucca Sea Collision Zone). Di zona ini kemudian terbentuk jalur Punggungan Mayu (Mayu Ridge) yang ditandai dengan keberadaan Pulau Mayu.

Akumulasi medan tegangan di sepanjang jalur Punggungan Mayu ini yang memicu terjadinya dislokasi batuan dalam lempeng. “Di zona ini terdapat banyak sebaran pusat-pusat gempa bumi dengan mekanisme sesar naik, salah satunya peristiwa gempa yang terjadi tadi malam yang ditandai dengan mekanisme sesar naik (thrust fault),” papar Daryono.

Secara umum, menurut Daryono, kawasan laut Maluku merupakan zona rawan gempa dan tsunami karena terdapat banyak lempengan sesar aktif yang patut diwaspadai oleh masyarakat.

kumparan post embed