kumparan
28 April 2019 15:32

PVMBG Jelaskan Penyebab Munculnya Lubang Raksasa di Sukabumi

Sukabumi Update
Lubang berukuran besar dengan kedalaman sekitar 12 meter di Kampung Legoknyenang RT 05/RW 02, Desa Sukamaju, Kecamatan Kadudampit, Sukabumi. Foto: Istimewa
Lubang raksasa kembali muncul di Sukabumi pada Minggu (28/4) sekitar pukul 04.00 WIB. Kali ini lubang yang muncul berukuran lebih besar dibanding lubang yang pernah terbentuk pada September 2018.
ADVERTISEMENT
Diameter lubang raksasa yang terbentuk kali ini adalah sekitar 16 meter dan kedalamannya adalah sekitar 12 meter. Adapun lubang yang terbentuk pada September lalu “hanya” memiliki diameter sekitar 6 meter dan kedalaman 10 meter.
Yang menarik, lokasi kedua lubang hanya berjarak sekitar empat meter. Keduanya sama-sama berada di wilayah persawahan Kampung Legoknyenang RT 05/RW 02, Desa Sukamaju, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi.
Tim dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMGB), unit dari Badan Geologi Kementerian ESDM, telah meninjau langsung ke lokasi terbentuknya lubang raksasa tersebut.
Kabid Mitigasi Gerakan Tanah PVMBG, Agus Budianto, menjelaskan bahwa di bawah kedua lubang tersebut terdapat sungai atau jalur air. Hal inilah yang, menurutnya, merupakan penyebab terbentuknya kedua lubang besar tersebut.
ADVERTISEMENT
“Kami sudah melakukan kajian di sana. Ternyata, jalur-jalur yang amblas itu di bawahnya dilewati oleh jalur air, jalur sungai,” kata Agus saat dihubungi kumparanSAINS, Minggu (28/4) siang.
Sukabumi Update
Lubang berukuran besar dengan kedalaman sekitar 12 meter di Kampung Legoknyenang, RT 05/RW 02, Desa Sukamaju, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi. Foto: Istimewa
Agus menjelaskan wilayah yang amblas di Sukabumi tersebut merupakan daerah dekat gunung api, yakni Gunung Gede dan Gunung Parango. Jadi tanah yang terbentuk di daerah tersebut merupakan produk vulkanik, seperti aliran piroklastik dan aliran lahar, yang sifatnya rapuh alias mudah lepas dan amblas.
Selain itu, di sana juga terdapat jalur air atau sungai. Ada aliran air atau sungai yang muncul di permukaan tapi kemudian seolah menghilang di suatu bagian tanah dan muncul kembali di bagian tanah yang lain.
“Dan air kan tetap jalan di bawah permukaan tanah yang porous (berpori). Begitu Curah hujannya tinggi, ya dia akan mudah menggerus (tanah di sekitarnya),” jelas Agus.
ADVERTISEMENT
Hal senada juga diungkapkan oleh Kapolsek Kadudampit, Iptu Agus Suherman. Menurutnya, lubang itu terbentuk sebagai dampak dari hujan deras yang terjadi di wilayah Kecamatan Kadudampit sejak Sabtu malam (27/4). Akibatnya, tanah di area persawahan itu mengalami longsor lalu membentuk lubang raksasa.
"Itu biasa ada yang longsor, kayak kejadian longsor membentuk lubang yang dulu pernah terjadi juga di sini. Lubang ini lokasinya dekat dengan lokasi lubang yang dulu," tuturnya, sebagaimana kumparanSAINS kutip dari Sukabumi Update.
Gunung Gede Pangrango
Gunung Gede Pangrango Foto: Wikimedia Commons
Penjelasan soal Bunyi Gemuruh sebelum Lubang Muncul
Sebelum lubang besar ini terbentuk, warga setempat sempat mendengar adanya suara gemuruh yang kemudian diikuti oleh dentuman keras. Agus Budianto mengatakan kepada kumparanSAINS itu adalah hal yang wajar.
ADVERTISEMENT
“Ya wajar. Jadi gini, kan tadi curah hujan tinggi, dan air yang mengalir jadinya menggerus tanah dengan cepat. Dan akhirnya ada tanah yang terbongkar. Bayangkan ketika cepat gitu, suaranya kan gemuruh. Begitu dia (tanahnya) ambruk, (bunyi) ‘Bemmmm’ gitu," papar Agus.
“Kalau airnya lambat, mungkin tanpa suara. Tapi begitu airnya cepat, dia langsung memberi hentakan seperti suara gemuruh,” imbuh lulusan Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut.
Agus menuturkan lebih lanjut bahwa jalur air yang menghilang di bawah tanah di lokasi tersebut memiliki lebar sekitar 10 hingga 15 meter dan panjang sekitar 40 hingga 50 meter. Jadi, masih ada kemungkinan akan munculnya amblasan atau lubang lain di lokasi tersebut, terutama saat atau setelah turun hujan deras atau hujan berintensitas tinggi.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan