kumparan
6 September 2019 16:24

Keren! Peringkat Daya Saing Pariwisata Indonesia Naik

com-Kementerian Pariwisata, Labuan Bajo Foto: Dok. Kementerian Pariwisata
Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) baru saja merilis Laporan Forum Ekonomi Dunia tentang Indeks Daya Saing Pariwisata 2019. Dalam laporan tersebut, tertulis daya saing pariwisata Indonesia pada 2019 berada di peringkat ke 40 dari 140 negara dengan skor 4,3 dari skala 7. Angka ini menunjukkan bawah peringkat Indonesia naik dari rangking 42 pada 2017 menjadi ke 40 pada tahun ini.
ADVERTISEMENT
Indeks daya saing ini terdiri dari empat sub index, yakni Enabling Environment (iklim yang mendukung), Travel and Tourism Policy and Enabling Conditiong (kebijakan dan kondisi yang mendukung pariwisata), Infrastruktur, dan Sumber Daya Alam dan Budaya. Empat sub-index ini kemudian memiliki 14 pilar lain dengan 90 indikator. Masing-masing pilar tersebut memiliki angka dan ukuran sendiri.
Menteri Pariwisata Arief Yahya saat mencoba menikmati fasilitas The Kaldera Nomadic Escape dengan view Danau Toba. Foto: Dok. Istimewa
Laporan Indeks Daya Saing Pariwisata 2019 ini punya lima temuan penting. Pertama, soal transportasi udara. Perbaikan infrastruktur transportasi udara menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada penambahan rute dan jumlah maskapai di masing-masing negara.
Kedua, keterbukaan internasional juga tercatat mengalami kemajuan. Pilar ini justru dipimpin oleh negara-negara berkembang. Ketiga, konektivitas digital ternyata menjadi satu hal yang penting bagi negara-negara yang ingin pariwisatanya maju. Konektivitas digital berkembang pesat seiring semakin banyaknya orang yang menggunakan internet.
ADVERTISEMENT
Keempat, laporan ini juga menunjukkan bahwa tren perjalanan murah makin meningkat secara global. Hal ini terlihat dari pilar Daya Saing Harga yang menunjukkan peningkatan persentase terbesar sejak 2017.
Candi Borobudur Foto: Dok. Kementerian Pariwisata
Terakhir, sektor pariwisata menjadi sektor yang semakin diprioritaskan oleh para pemangku kepentingan di seluruh dunia sebab sektor ini dinilai lebih menguntungkan. Hal ini terlihat dari beberapa negara yang menganggarkan dana lebih besar untuk mempromosikan sektor pariwisata mereka.
Di sisi lain, laporan Indeks Daya Saing Pariwisata juga memberikan sejumlah catatan. Pertama, di masa depan, permintaan layanan transportasi terutama untuk penerbangan, diprediksi akan lebih tinggi dibandingkan peningkatan kapasitas infrastruktur. Selain itu, pemerintah di masing-masing negara juga diminta untuk memperhatikan kelestarian aset budaya dan alam. Terutama bagi negara-negara yang menghadapi fenomena peningkatan kunjungan wisata (overtourism).
ADVERTISEMENT
Selain itu, meski sektor pariwisata menunjukkan perkembangan yang menggembirakan, di sisi lain fenomena deforestasi, polusi udara hingga ancaman kepunahan masih terus membayangi. Hal tersebut juga harus menjadi pekerjaan rumah bersama.
Lokasi proyek pembangunan KEK Mandalika. Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden/Kris
Jika dilihat dari 10 besar peringkat teratas, negara yang memiliki daya saing pariwisata terbaik merupakan negara-negara yang memang sudah lama jadi tujuan wisata. Mereka merupakan negara-negara maju yang punya daya dukung serta infrastruktur pariwisata yang amat modern. Peringkat pertama diraih oleh Spanyol yang mempertahankan posisinya seperti tahun lalu. Diikuti oleh Prancis, Jerman, Jepang, Amerika Serikat, Britania Raya, Australia, Italia, Kanada, dan Swiss.
Di kelompok negara Asia Timur dan Pasifik, peringkat daya saing pariwisata Indonesia lebih rendah daripada Singapura yang berada di peringkat ke 17, Malaysia 29, dan Thailand 31. Namun, daya saing wisata Indonesia lebih baik dibanding Vietnam yang ada di peringkat 63, Brunei Darussalam 72, dan Filipina 75.
ADVERTISEMENT
Dalam laporan tersebut disebutkan beberapa keunggulan pariwisata Indonesia. Pertama, Indonesia dinilai unggul dari sisi daya saing harga. Biaya hidup di Indonesia dianggap lebih murah ketimbang negara-negara lain. Untuk urusan ini, Indonesia berada di peringkat enam dengan skor 6,2 dari skala 7. Selain itu, Indonesia juga dinilai unggul dalam hal memprioritaskan pariwisata. Indonesia berada di peringkat 10 dengan skor 5,9 dari skala 7.
Namun, masih ada beberapa kelemahan pada pariwisata Indonesia. Untuk pilar kesehatan dan kebersihan, Indonesia berada pada peringkat ke 102, dengan skor 4,5 dari skala 7. Pada pilar kebijakan ketahanan lingkungan, hasilnya juga kurang baik. Indonesia ada di peringkat ke 135 dengan skor 3,5 dari skala 7. Selain itu untuk infrastruktur jasa wisata, Indonesia menempati peringkat ke 98 dari 140 negara. Skornya yaitu 3,1 dari skala 7.
ADVERTISEMENT
Padahal pemerintah Indonesia selama ini nampak begitu ambisius dalam membangun infrastruktur. Ternyata, segala daya upaya Indonesia masih belum mampu membawa pariwisata Indonesia melesat lebih tinggi. Nampaknya, ini yang harus jadi catatan bersama. Terlebih, pariwisata konon jadi sektor prioritas, bukan?
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan