Menelusuri 402 Km, Menjelajah Sisi Lain Jepang (2)
·waktu baca 9 menit
Artikel ini merupakan lanjutan perjalanan kumparan sejauh 402 km menjelajah sisi lain Jepang di wilayah San’in pada hari ketiga dan seterusnya.
Bagi yang tertarik membaca cerita di perjalanan sebelumnya, bisa lihat di artikel berikut:
Hari Ketiga
Kuil Daisenji
Setelah sarapan dan check out dari hotel kami di pinggir Pantai Kaike Onsen, kami melanjutkan perjalanan ke Gunung Daisen. Gunung berapi yang tingginya 1.729 meter ini dinobatkan sebagai gunung dengan puncak terbaik ke-3 di Negeri Sakura oleh media Jepang, NHK.
Gunung Daisen yang artinya ‘Gunung Agung’ telah disembah oleh masyarakat lokal selama berabad-abad. Mereka juga mempercayai Gunung Daisen adalah perwujudan Kagutsuchi-no-mikoto atau Dewa Api.
Tapi perjalanan kami bukan untuk mendaki gunung. Tujuan kami adalah Kuil Daisenji yang terletak di kaki Gunung Daisen. Kuil Buddha ini dibangun sejak abad ke-7 dan memegang pengaruh besar sampai abad ke-14.
Kuil ini juga menjadi pusat pelatihan bagi para biksu yang memegang keyakinan asketisme, dan pada masa kejayaannya membawahi sekitar 100 kuil Buddha lain di Daisen serta dijaga oleh 3.000 ‘pasukan’ biksu.
Saat ini, Kuil Daisenji menjadi gerbang awal bagi para pendaki yang ingin menuju Gunung Daisenji. Musim pendakian biasanya berlangsung pada Juni-Oktober. Sedangkan saat musim dingin, Gunung Daisen banyak dikunjungi untuk olahraga ski.
Tiket masuk ke Kuil Daisenji sebesar 300 yen atau sekitar Rp 33 ribu untuk dewasa, dan 200 yen atau sebesar Rp 22 ribu untuk anak-anak.
Daisen Makiba Milk no Sato
Bukan cuma itu wisata di Gunung Daisen. Melipir sekitar 10 menit, kami tiba di Daisen Makiba Milk no Sato. Ini adalah peternakan sapi perah yang luas di kaki Gunung Daisen.
Di sana ada toko yang menjual berbagai makanan dan minuman, atau oleh-oleh olahan susu sapi. Sajian yang selalu diburu di sana adalah es krim susu sapinya seharga 300 yen atau sekitar Rp 44 ribu.
Semakin spesial karena bisa menikmati es krim sambil lihat pemandangan Gunung Daisen atau Kota Yonago dan Laut Jepang dari ketinggian. Suasana hati adem dan tenang banget waktu ke sana.
Tenang, masuk ke tempat ini tidak dipungut biaya, kok.
Jalan Mizuki Shigeru
Puas makan es krim, kami turun lagi ke Kota Sakaiminato yang jaraknya 36 km dan waktu tempuh perjalanan sekitar 1 jam. Kali ini, kami berhenti di Jalan Mizuki Shigeru. Itu adalah nama jalan yang didedikasikan untuk Mizuki Shigeru, pencipta manga yokai (hantu) GeGeGe no Kitarō.
Yap, kalau di Hokuei semua berbau Detektif Conan, di Sakaiminato dipenuhi patung karakter-karakter di Kitaro. Jalan Mizuki Shigeru membentang sepanjang 800 meter dari Stasiun Sakaiminato sampai ke Museum Mizuki Shigeru. Di sepanjang jalan itu, terdapat 177 patung perunggu soal Kitaro.
Ketika itu kami tidak mengunjungi museum karena sedang direnovasi dan baru dibuka kembali pada April 2024.
Di sepanjang jalan itu, terdapat sejumlah toko makanan dan oleh-oleh bertema Kitaro. Kami juga mampir ke Chiyomusubi Sake Brewery untuk melihat proses pembuatan sake. Ini sekaligus menjadi titik terakhir wisata kami di Prefektur Tottori.
Taman Yuushien
Selesai menyusuri Jalan Mizuki Shigeru, kumparan dan rombongan bergegas menuju Taman Yuushien. Taman ini ada di Pulau Daikonshima, Prefektur Shimane, sebuah pulau di tengah Danau Nakaumi yang airnya payau. Nakaumi merupakan danau terbesar kelima di Jepang.
Dalam perjalanan menuju ke lokasi, kami melewati Jembatan Eshima Ohashi. Jembatan ini terkenal dengan julukan ‘roller coaster’, karena tanjakannya nampak curam.
Namun, ketika kumparan melewatinya, rasanya tidak begitu menyeramkan. Jembatan ini sekaligus menjadi batas wilayah antara Prefektur Tottori dan Shimane.
Usai perjalanan selama sekitar 20 menit, kami sampai di taman yang luasnya 40 ribu meter persegi ini.
Taman Yuushien tertata rapi dengan lanskap tradisional Jepang di mana ada kolam, air terjun, sungai, jalan berbatu, serta bunga-bunga berbagai musim. Daya tarik utama taman ini adalah koleksi 250 jenis bunga peoni.
Harga tiket masuk taman ini berbeda-beda tergantung musim. Kisarannya 800 yen atau sebesar Rp 88 ribu (regular season), sampai 1.400 yen atau sekitar Rp 153 ribu (best season) untuk dewasa. Sedangkan untuk anak-anak harganya setengah dari tiket masuk orang dewasa.
Taman Yuushien menjadi tempat wisata terakhir yang kami kunjungi di hari itu. Kami lalu semakin menuju ke timur untuk istirahat di Kota Matsue.
Hari Keempat
Kastil Matsue
Berangkat dari hotel sekitar pukul 09.00 waktu setempat, mobil yang kami tumpangi menuju ke pusat Kota Matsue. Tujuan utama kami ke Kastil Matsue. Selama perjalanan, kami menyusuri jalanan di samping Danau Shinji.
Shinji adalah danau terbesar ketujuh di Jepang yang airnya juga payau seperti Nakaumi, sehingga mendukung beragam kehidupan laut. Sejauh mata memandang, banyak nelayan yang sedang mencari kerang shijimi.
Sekitar 20 menit perjalanan, ternyata kami tak langsung menuju Kastil Matsue, melainkan ke sebuah tempat yang isinya baju-baju tradisional Jepang. Rupanya, itu adalah tempat penyewaan kimono atau yukata, Horikawa Komachi.
Kami bertiga, kumparan bersama jurnalis senior asal Korsel dan influencer dari Australia, diminta bersalin menggunakan kimono yang kami pilih sendiri. Menurut informasi, biaya sewa kimono itu sekitar 6.000 yen atau sekitar Rp 654 ribu.
Setelahnya kami mampir sejenak ke bekas rumah Lafcadio Hearn, seorang jurnalis asal Yunani yang mendedikasikan hidupnya menulis berbagai literatur soal Jepang.
Baru kemudian kami menuju Kastil Matsue. Kastil ini dibangun pada tahun 1607 dan merupakan salah satu dari 12 kastil asli yang tersisa di Jepang dan satu-satunya di kawasan San’in. Pada 2015, kastil ini ditetapkan sebagai harta nasional Jepang bersama 4 kastil lainnya.
Berada di atas bukit dan dikelilingi parit yang lebar dan tembok tebal, Kastil Matsue sengaja dibangun sebagai benteng pertahanan jika terjadi perang.
Berfoto di Kastil Matsue dengan kimono serasa membawa kami ke zaman kerajaan Jepang. Kami pun masuk ke dalam kastil yang lantai dan sekelilingnya masih menggunakan kayu. Pengunjung harus mencopot alas kakinya untuk masuk ke dalam. Perlahan-lahan kami menaiki tangga kastil yang cukup curam untuk naik ke lantai paling atas.
Sesampainya di atas, kami disuguhi pemandangan yang luar biasa. Dari atas kastil, kita bisa melihat secara luas pemandangan Kota Matsue dan Danau Shinji.
Tempat ini wajib sekali dikunjungi buat yang mau merasakan zaman kerajaan Jepang. Tiket masuknya 680 yen atau sebesar Rp 74 ribu untuk dewasa, dan 290 yen atau sekitar Rp 32 ribu untuk anak-anak.
Buat yang mau keliling Kastil Matsue pakai perahu di sungai Kyobashi selama 50 menit juga bisa. Biayanya 1.600 yen atau Rp 175 ribu untuk dewasa, dan 400-1.300 yen atau sekitar Rp 45 ribu-Rp 142 ribu untuk anak-anak sampai siswa SMA.
Matsue Vogel Park
Keluar dari Kastil Matsue, kami kembali lagi ke Horikawa Komachi untuk
bersalin lagi pakai baju biasa. Setelahnya, kami menyusuri lagi jalanan di samping Danau Shinji menuju Matsue Vogel Park.
Layaknya Yuushien, Matsue Vogel Park juga memiliki taman dengan jumlah sekitar 1.000 bunga yang mayoritas berjenis begonia dan fuchsia.
Bedanya, Matsue Vogel Park yang luasnya 32 hektare ini lebih menonjolkan aneka spesies burung. Ada lebih dari 400 burung dari 90 spesies berbeda seperti penguin, elang, burung hantu, dan beragam burung danau serta musim tropis.
Wisata di sini cocok buat anak-anak, karena bisa kasih makan sama lihat berbagai atraksi burung. Mulai dari penguin, elang, dan burung hantu
Tiket masuk di sini sekitar 1.160 yen atau Rp 127 ribu untuk dewasa, dan 580 yen atau sekitar Rp 64 ribu untuk anak-anak.
Izumo Taisha
Berkeliling Matsue Vogel Park selama sekitar 1 jam, kami kemudian semakin menuju ke timur Jepang. Sekitar 40 menit perjalanan, kami tiba di Kuil Agung Izumo Taisha.
Ini adalah kuil tempat ibadah pemeluk agama Shinto di Jepang. Izumo Taisha merupakan salah satu kuil tertua yang sudah berdiri belasan abad dan paling dihormati di Jepang, serta sudah masuk daftar harta nasional.
Izumo Taisha dipercaya sebagai tempat tinggal bagi dewa Okuninushi yang disebut sebagai pencipta tanah Jepang. Ia juga dikenal sebagai dewa hubungan baik dan pernikahan.
Konon, setiap tahun pada bulan ke-10 kalender Lunar, dewa-dewa dari seluruh Jepang berkumpul di Izumo Taisha. Sehingga pada periode tersebut dikenal sebagai Kamiarizuki, atau bulan para dewa dan dirayakan dengan festival Kamiari.
Berkunjung ke Izumo Taisha yang magis tak perlu mengeluarkan biaya alias gratis. Namun, jika ingin masuk ke Museum Kuno Izumo di dekat Izumo Taisha untuk mengetahui sejarah mitologi Izumo, pengunjung cukup bayar 310 yen atau sekitar Rp 34 ribu bagi dewasa, dan 100 yen atau Rp 11 ribu untuk anak-anak.
Usai dari Izumo Taisha, kami pun berjalan di Shinmon Dori Street. Di sana terdapat berbagai restoran, kafe, dan toko oleh-oleh. Yang paling banyak dijual adalah berbagai macam sumpit premium yang bisa ditulis dengan nama pembeli. Puas jalan-jalan, kami kembali ke penginapan.
Hari Kelima
Mercusuar Hinomisaki
Setelah sarapan di penginapan dan berkemas, kami berjalan ke parkiran di Stasiun Izumoshi. Dari situ, kami menuju Mercusuar Hinomisaki. Sekitar 30 menit perjalanan naik turun bukit, kami sampai dan disambut hujan rintik.
Mercusuar Hinomisaki berada di semenanjung yang menghadap Laut Jepang. Mercusuar ini dibangun pada tahun 1903 dan masuk daftar 100 mercusuar paling historis di dunia. Dengan tinggi mencapai 43,65 meter, Mercusuar Hinomisaki merupakan mercusuar tertinggi di Jepang dan kawasan Asia Timur.
Masuk ke dalam mercusuar, pengunjung harus melepas alas kaki. Setelahnya, perlu menaiki 163 anak tangga melingkar untuk sampai di atas mercusuar.
Lelah menaiki anak tangga terbayar ketika berada di atas dengan melihat pemandangan Laut Jepang dan perbukitan sekitar. Bagi yang ingin melihat matahari terbenam, ini adalah salah satu spot terbaik.
Berkunjung ke sini tidaklah mahal, cukup membayar 300 yen atau sebesar Rp 33 ribu untuk siswa SMP sampai dewasa, sedangkan anak-anak gratis.
Di dekat mercusuar, juga terdapat Kuil Hinomisaki yang bisa dikunjungi dengan berjalan kaki sekitar 600 meter.
Mercusuar Hinomisaki menjadi tempat wisata terakhir kami di San’in. Ditemani hujan lebat, kami langsung menuju Bandara Yonago. Sesampainya di bandara, rombongan berpisah. kumparan menuju Tokyo untuk transit sebelum ke Jakarta.
Total selama 5 hari berada di San’in, kami menempuh perjalanan darat sekitar 402 km.
Buat yang mau masuk banyak tempat wisata kayak di atas, lebih baik beli tiket terusan di aplikasi Discover Another Japan. Aplikasi ini dikelola oleh San’in Tourism Organization. Beli tiket terusan jadi lebih hemat daripada beli tiket satuan di tiap tempat wisata.
Yuk, main ke San’in!
