Kumparan Logo

5 Cara Bersikap Egois dalam Arti yang Sehat, Biar Hidup Tak Banyak Drama

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi bersikap egois dalam arti yang sehat. Foto: Dok. Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bersikap egois dalam arti yang sehat. Foto: Dok. Shutterstock

Kapan terakhir kali kamu mengatakan “tidak” terhadap sesuatu yang memang tidak ingin kamu lakukan? Jika kamu merasa sudah terlalu lama tidak mengucapkan kata itu, mungkin sekarang waktu yang tepat. Terkadang, kamu memang perlu menjadi egois dalam arti yang lebih sehat, ya.

Michelle Elman, penulis buku baru The Joy of Being Selfish: Why you need boundaries and how to set them, juga mengatakan bahwa selama pandemi COVID-19, banyak orang mendambakan self care atau perawatan diri, tapi enggan memprioritaskan kebutuhan diri sendiri.

“Banyak orang benar-benar setuju dengan gagasan self love. Tetapi mereka tidak menyadari bahwa untuk benar-benar menciptakan waktu dan energi untuk melakukan hal-hal itu. Anda harus lebih egois,” ujar Elman kepada Today.

Lantas, bagaimana cara bersikap egois sebagai bentuk self care dan self love itu sendiri? Seperti dirangkum kumparanWOMAN dari Today, berikut ini beberapa caranya, Ladies.

kumparan post embed

1. Mengenali tanda-tandanya

Ketika sedang burn out atau mengalami stres berat karena pekerjaan, kamu perlu mengenali kondisi ini sebagai salah satu tanda untuk memprioritaskan diri sendiri.

Tanda lain yang juga perlu diperhatikan, yakni saat kamu merasa ada seseorang yang tidak bisa dipercaya, sehingga kamu enggan berinteraksi lebih jauh dengannya.

"Jika Anda terus-menerus merasa marah, Anda terus-menerus merasa kesal, itu adalah tanda peringatan bahwa batasan Anda terus-menerus dilanggar dan tidak diperkuat," kata Elman yang juga seorang life coach yang berbasis London, Inggris.

2. Pikirkan kembali definisi egois

Dalam definisi yang lebih sehat, kamu bisa menganggap egois sebagai bentuk dari menyuarakan apa yang kamu inginkan dan butuhkan. Dengan begitu, kamu menetapkan personal boundaries atau batasan pribadi demi kesehatan mental dan fisik.

Menurut Elman, banyak orang, terutama perempuan, merasa bersalah karena berterus terang atau berani mengatakan “tidak”, padahal mereka harus berhenti berpikir bahwa mereka akan menyakiti orang lain dengan melakukannya.

“Untuk menetapkan batasan atau menjadi egois, Anda benar-benar harus percaya bahwa Anda pantas mendapatkannya,” kata Elman.

3. Berlatih mengatakan “tidak”

Ilustrasi bersikap egois dalam arti yang sehat dengan mengatakan "tidak". Foto: Shutter Stock

Elman sempat membuat eksperimen yang ia sebut sebagai Year of No. Dia memutuskan untuk mengatakan "tidak" terhadap apa pun yang tidak ingin dia lakukan, tanpa harus memberikan alasan.

Awalnya, mengatakan “tidak” terasa canggung baginya. Namun, menjelang akhir tahun, hal itu menjadi kebiasaan dan dia masih menerapkannya sampai sekarang. “Hanya karena Anda diundang ke sesuatu acara tidak berarti Anda wajib hadir,” katanya.

Menurutnya, seseorang perlu mempelajari kapan harus mengatakan “tidak” dan kapan harus mengatakan “ya”. Agar terasa lebih nyaman, kamu bisa berlatih mengatakan “tidak” kepada orang asing terlebih dahulu. Kemudian, kamu bisa mencobanya dengan teman atau keluarga.

kumparan post embed

4. Buang rasa bersalah atau takut tidak disukai

Alih-alih merasa bersalah, Elman sering merasa lega atau bangga setelah mengatakan “tidak”. Ia juga mengatakan bahwa ada miliaran orang di dunia ini dan tidak mungkin semuanya bisa menyukai kamu.

Menurutnya, personal boundaries tidak akan membuat orang-orang yang tulus berinteraksi denganmu meninggalkanmu. Sebaliknya, orang yang berusaha mengambil keuntungan darimu yang akan meninggalkanmu.

5. Beri tahu orang lain ketika mereka telah melewati batas

Kebanyakan dari kamu mungkin memilih diam, saat terlibat dalam pembicaraan mengenai topik yang tidak nyaman dengan teman-teman. Kamu barangkali juga membiarkan komentar yang menyakitkan menumpuk di dalam diri.

Menurut Elman, diam memang perlu. Kamu tidak harus berpartisipasi dalam percakapan yang membuat kamu merasa tidak nyaman. Namun, bila orang lain sudah melewati batas, kamu dapat mengatakan, "Bisakah kita mengubah percakapan menjadi sesuatu yang lebih menarik?"

kumparan post embed