Kumparan Logo

5 Cara Mendukung Teman yang Sedang Berduka saat Pandemi COVID-19

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi mendukung teman yang sedang berduka. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mendukung teman yang sedang berduka. Foto: Shutter Stock

Akhir-akhir ini kita mungkin sering mendengar kabar duka yang datang dari teman, keluarga, atau berita di media. Kabar duka itu tentu saja terasa menyedihkan, apalagi ketika terjadi kepada sahabat atau kerabat yang baru kehilangan orang tersayangnya.

Sebagai teman yang baik, alangkah indahnya jika kita memberikan dukungan kepada mereka yang tengah bersedih. Namun, ketika hal itu terjadi, beberapa dari kita mungkin merasa bingung dan takut kalau ucapan serta dukungan yang kita berikan justru akan membuatnya semakin sedih.

kumparan post embed

Agar kamu tidak bingung, berikut kumparanWOMAN telah merangkum beberapa cara tepat mendukung dan menghibur teman yang sedang berduka saat pandemi COVID-19. Mengutip situs Help Guide, simak informasinya di bawah ini.

1. Pahami situasinya

Ilustrasi mendukung teman yang sedang berduka. Foto: Shutter Stock

Berhadapan dengan teman yang sedang berduka memang bukan perkara yang mudah. Jika kamu salah langkah, alih-alih membuat perasaannya lebih baik, bisa jadi ia malah akan semakin sedih, stres, dan depresi. Bahkan, tidak menutup kemungkinan bahwa kondisi itu bisa membuat hubungan pertemanan kamu akan semakin buruk.

Itulah sebabnya, hal pertama yang perlu kamu lakukan adalah menempatkan diri pada situasi tersebut. Caranya, pahami diri kamu sebagai suporter atau orang yang mendukung dan membantu teman kamu. Bukan menempatkan diri seolah kamulah yang sedang menghadapi kesedihan tersebut. Ini dikhawatirkan malah akan membuat kamu jadi lebih emosional dan meluapkan perasaan berduka dengan cara berlebihan.

Intinya, rasa simpati dan empati tetap dibutuhkan. Akan tetapi, tetap dalam batas sewajarnya. Di sisi lain, kamu juga tidak perlu membandingkan perasaan sedih yang dihadapi teman dengan apa yang kamu alami. Ini karena setiap orang mengekspresikan rasa sedih dengan cara yang berbeda-beda.

2. Luangkan waktu untuk ada di sampingnya ketika ia membutuhkan

Ilustrasi mendukung teman yang sedang berduka. Foto: Shutter Stock

Beberapa orang yang sedang berduka biasanya membutuhkan waktu untuk menyendiri. Namun sebagai makhluk sosial, pada akhirnya ia juga butuh orang lain untuk bangkit dari kesedihan tersebut. Itu artinya, kehadiran kamu juga dibutuhkan agar ia bisa menjadi lebih kuat. Akan tetapi, pastikan agar kehadiran kamu ada di waktu yang tepat.

Jika teman kamu ingin menyendiri, beri ia waktu untuk meluapkan rasa sedihnya. Tapi terkadang, ada juga teman membutuhkan sosok kamu, tetapi tidak enak hati atau enggan untuk mengungkapkannya. Karena itu, alangkah baiknya untuk kamu mengawasinya dari jauh dan ada di sampingnya ketika ia sudah mulai membuka diri.

kumparan post embed

3. Ketahui apa yang harus dikatakan kepada seseorang yang sedang berduka

Ilustrasi mendukung teman yang sedang berduka. Foto: Shutter Stock

Sering kali kita merasa bingung harus berkata apa saat teman kita sedang berduka. Kebingungan itu muncul karena kita takut akan mengatakan hal-hal yang justru membuatnya semakin terpuruk.

Situs Help Guide menyebutkan, ada beberapa tips yang bisa kamu ikuti dalam memulai percakapan, menunjukkan rasa duka, hingga memberi dukungan kepada teman yang sedang berduka, seperti:

  • Ucapkan rasa duka dengan bahasa yang sederhana, seperti: “Turut berduka ya atas kepergian…..” Selanjutnya kamu bisa memberikan harapan baik untuk dirinya, misalnya: “Aku harap kamu tabah dalam menghadapi ini.”

  • Biarkan teman kamu menceritakan kesedihannya. Kamu mungkin akan mendengar dia terus mengulang perkataan yang sama, jadi hadapi dengan sabar. Perlu diingat bahwa mengulang dan menceritakan apa yang teman kamu rasakan terkadang membantu mengurangi rasa sedihnya. Kamu hanya perlu diam dan mendengarkannya.

  • Tanyakan mengenai perasaannya saat ini, sebagai contoh: “Apakah sekarang kamu sudah merasa lebih baik?” Jika teman kamu belum merasa lebih baik, beri tahu padanya bahwa tidak apa-apa jika ia ingin menangis untuk meluapkan rasa sedih.

4. Tawarkan apa yang bisa kamu lakukan untuk membantunya

Ilustrasi Pertemanan Foto: Pixabay

Semua orang membutuhkan bahu untuk bersandar atau uluran tangan sebagai pertolongan di masa sulit. Kamu pun bisa menjadi sosok yang diandalkan oleh temanmu. Apalagi cukup sulit bagi mereka yang sedang berduka untuk meminta bantuan. Karena mereka menganggap bahwa hal itu akan menjadi beban bagi orang lain.

Oleh sebab itu, kamu pun bisa menawarkan bantuan kepada mereka. Beberapa bantuan praktis yang bisa kamu tawarkan; misalnya membantu mengurus acara pemakaman, mengurus konsumsi, hingga membantu mengurus pekerjaan rumah tangga (seperti membersihkan rumah atau mencuci piring) untuk sementara waktu.

Tapi perlu diingat, sebelum memberikan bantuan tersebut, ada baiknya kamu untuk menanyakan terlebih dahulu bantuan apa yang benar-benar ia butuhkan ya. Ini bertujuan agar bantuan yang kamu berikan benar-benar bermanfaat baginya.

kumparan post embed

5. Beri dukungan berkelanjutan

com-Ilustrasi pertemanan. Foto: Shutterstock

Dukungan juga sebaiknya berlanjut setelah acara pemakaman selesai ya Ladies! Misalnya menemani sahabat melakukan hal-hal menyenangkan untuk mengalihkan pikirannya, membantu mengurus acara pengajian, dan masih banyak lagi.

Dukungan ini bisa berlanjut dalam hitungan bulan maupun tahun. Intinya, tunjukkan niat baik bahwa dia tidak sendirian melalui masa-masa terberatnya. Hindari juga mengucapkan “Kamu kuat” atau kalimat sejenisnya yang bisa membuat temanmu merasa harus menyembunyikan perasaan sebenarnya.

Selain itu, waspadai juga bila setelahnya dia menunjukkan tanda-tanda depresi. Jika dia kesulitan untuk mengatasi rasa sedih dan kembali beraktivitas dengan normal, kamu bisa menanyakan padanya apakah dia butuh bantuan psikolog atau tidak.

Jelaskan padanya, bahwa dampak berduka terlalu lama tidak baik untuk kesehatan dan kehidupannya secara menyeluruh. Kemudian, jelaskan juga bahwa meminta bantuan psikolog bukan pilihan buruk sehingga ia tidak perlu merasa malu atas kondisinya.