Konflik Thailand-Kamboja: Apa Dampaknya bagi Stabilitas Regional Asia Tenggara?

Sarjana Ilmu Hubungan Internasional
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Lailamsaum Muthiillah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa waktu terakhir, media sosial ramai membahas konflik Thailand-Kamboja. Banyak masyarakat yang bertanya dan menilai bahwa ketegangan antara kedua negara tersebut tidaklah penting karena tidak bersifat urgensi. Namun apakah benar konflik yang terjadi tidak menganggu stabilitas regional?
Latar Belakang Konflik Thailand-Kamboja
Konflik diawali pada 13 Februari 2025 ketika wisatawan asal Kamboja menyanyikan lagu kebangsaan di kuil Prasat Ta Moan Thom yang berada di area perbatasan sengketa kedua negara. Menurut Thailand hal tersebut merupakan tindakan yang tidak pantas, mengingat kuil berada di wilayah Thailand.
Kekerasan antara kedua negara pun pecah pada 24 Juli 2025, dengan mengerahkan persenjataan dan serangan udara. Perang tersebut telah menelan korban jiwa sebanyak 50 warga sipil dan 20 tentara Kamboja, dan 13 warga sipil Thailand tewas serta 62 warga terluka. Selain itu 200.000 penduduk yang berada di wilayah konflik harus dievakuasi.
Ketegangan antara Thailand dan Kamboja telah menjadikan konflik tersebut berskala tinggi dan bersifat mengancam stabilitas regional karena telah menelan korban jiwa, pengungsi, dan melibatkan pihak eksternal untuk membatasi dan mencegah konflik semakin meluas.
Sejarah Singkat Konflik Thailand-Kamboja
Konflik yang terjadi antara Thailand dan Kamboja diawali pada tahun 1907 yang mana saat itu Komisi Delimitasi Campuran Prancis-Siam (kini Thailand), menggambarkan peta batas negara untuk menjadikan wilayah tersebut milik Kamboja. Namun Thailand tidak setuju dengan aturan yang ditetapkan, Thailand menilai bahwa perbatasan diatur dari sepanjang garis aliran sungai diantara kedua negara.
Konflik berlanjut pada tahun 1962 saat Mahkamah Internasional (Internasional Court of Justice/ICJ) memberikan kuil Khao Phra Viharn atau Preah Vihear, namun Thailand terus mempertahankan klaim atas wilayah sekitar kuil, sehingga menimbulkan eskalasi konflik di kawasan tersebut dan menimbulkan ketidakpastian hukum.
Ketegangan antara Thailand dan Kamboja memuncak pada tahun 2008, ketika Kamboja mengajukan kuil Preah Vihear sebagai situs Warisan Dunia UNESCO. Hal tersebut memicu Thailand untuk memperburuk wilayah sengketa dan terjadi bentrokan bersenjata secara berulang.
Dampak Konflik Terhadap Stabilitas Regional Asia Tenggara
Jika perselisihan antara Thailand dan Kamboja terus berlanjut, akan sangat beresiko bagi Asia Tenggara dalam menghadapi adanya ketidakstabilan politik, ekonomi, dan kemanusiaan yang semakin meluas, seperti:
Ancaman Terhadap Stabilitas Kawasan
Dua negara anggota ASEAN yang saling bermusuhan menggunakan senjata dapat melanggar prinsip dasar organisasi yaitu perdamaian, stabilitas dan kerja sama regional. Adanya konflik maka arus perdagangan lintas batas terganggu, negara tetangga khawatir akan konflik yang dapat meluas, memungkinkan muncul efek domino dari konflik lain.
Risiko Polarisasi Politik Regional.
Jika negara besar seperti China, AS, dan Rusia ikut memberi dukungan militer, dapat memicu perang semakin besar.
Gangguan Ekonomi
Asia Tenggara merupakan wilayah yang memiliki rantai pasok ekonomi yang saling terhubung satu sama lain, hal ini ditakuti karena akan mengganggu pariwisata dan investasi, serta menghambat pasar wilayah.
Krisis Kemanusiaan dan Meningkatnya Migrasi.
Konflik antar wilayah dapat menimbulkan lonjakan arus pengungsi ke negara tetangga seperti pada kasus Myanmar Rohingya, kemudian dapat menciptakan beban sosial dan ekonomi di perbatasan wilayah negara yang berselisih, lalu adanya ancaman perdagangan, penyelundupan, serta eksploitasi manusia.
Apabila konflik Thailand dan Kamboja tidak dapat diselesaikan melalui jalur diplomatik, maka hal ini dapat berdampak di luar perbatasan kedua negara. Asia Tenggara adalah kawasan yang dikenal relatif stabil, namun berpotensi untuk menghadapi ketegangan politik yang dapat mengancam perdamaian regional.
Stabilitas kawasan Asia Tenggara merupakan kepentingan bersama. Sebab itu mengapa perselisihan Thailand-Kamboja harus menjadi peringatan bagi negara-negara ASEAN untuk tidak lagi bersikap pasif pada konflik serupa. Meskipun bersifat soft diplomacy, tetapi pendekatan ini tidak mengurangi efektivitas dalam menjaga stabilitas regional, melalui dialog dan musyawarah, mengutamakan kerja sama antarnegara anggota, dan menjaga perdamaian di kawasan Asia Tenggara. Sesuai dengan slogan “one vision, one identity, one community”, yang mana bukan hanya slogan diplomatik, tetapi juga komitmen yang tulus antar negara anggota untuk menjaga perdamaian regional.
