Konten dari Pengguna
Pecinta Teh, Waspada! Kebiasaanmu Minum Teh Berisiko Menyebabkan Anemia
24 Juli 2025 11:55 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Pecinta Teh, Waspada! Kebiasaanmu Minum Teh Berisiko Menyebabkan Anemia
Artikel ini membahas tentang bahaya minum teh bersamaan dengan makanan tinggi zat besi karena berpotensi menyebabkan anemia. Maraknya teh yang dijual di jalanan, membuat semua kalangan menyukai teh.Linda Berliany Gunadi Hidayat
Tulisan dari Linda Berliany Gunadi Hidayat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
KEGEMARAN MINUM TEH YANG SEMAKIN BERTAMBAH
Kekayaan sumber daya alam di Indonesia selalu menghasilkan berbagai produk yang dapat dinikmati langsung manfaatnya oleh masyarakat. Alam Indonesia bisa menjadi potensi tumbuhnya berbagai tanaman, khususnya tanaman perkebunan. Kondisi tanah yang subur, iklim yang subtropis, dan curah hujan yang cukup tinggi sangat memenuhi kriteria tumbuhnya tanaman perkebunan. Tanaman perkebunan yang banyak diminati salah satunya adalah teh. Orang Indonesia punya kebiasaan yang unik secara turun menurun dan hampir sama dengan setiap daerahnya yaitu kebiasaan minum teh. Minum teh sudah menjadi kegemaran orang Indonesia karena diminati oleh semua kalangan dan semua umur. Masyarakat biasanya minum teh bukan hanya saat ada perayaan, melainkan hampir setiap hari karena banyak dijadikan minuman yang menemani saat makan. Kita banyak melihat bahwa di tempat makan maupun pinggir jalan banyak yang berjualan teh dan disajikan sebagai minuman pendamping makan. Masyarakat pun banyak memilih teh karena merasa harganya paling ekonomis, praktis, dan bisa dijadikan minuman dengan makanan apapun.
ADVERTISEMENT
Menurut kebanyakan orang minum teh memberikan efek relaksasi karena aroma yang dihasilkannya, selain itu teh juga cocok dipadukan dengan makanan apapun karena rasanya yang cukup tawar. Kandungan didalamnya mempunyai banyak manfaat untuk kesehatan tubuh, “Hasil penelitian menunjukkan bahwa teh mampu mencegah serangan influenza, mencegah penyakit jantung dan stroke, menstimulir sistem sirkulasi, memperkuat pembuluh darah, menurunkan kolesterol dalam darah dan masih banyak penyakit lainnya yang mampu diatasi dengan teh”(Ariyana, D., 2021). Namun, Masyarakat banyak yang tidak menyadari bahwa ada penggabungan minum teh bersama beberapa makanan yang tidak baik dan bisa menimbulkan ketidakseimbangan sampai gangguan kesehatan. Salah satunya, bisa menyebabkan anemia.
ANEMIA DEFISIENSI BESI
Anemia adalah keadaan tidak normal dari kadar hemoglobin (Hb) darah. Keadaan ketika sel darah merah atau kadar hemoglobin dalam darah lebih rendah daripada kadar normal, ini disesuaikan dengan jenis kelamin dan umur. Hemoglobin bertugas untuk membawa oksigen dan berbagai gizi lain ke jaringan tubuh. Kadar Hb pada pria anemia yaitu kurang dari 13,5 g/dl sedangkan untuk perempuan kurang dari 12 g/dl (Muhayati, A., & Ratnawati, D., 2019). Anemia masih tergolong umum sebagai penyakit kekurangan darah, jenisnya dapat dibedakan berdasarkan dari penyebab dan pengklasifikasian cara pengobatannya. Salah satu jenis anemia yang sering ditemukan di berbagai negara adalah Anemia Defisiensi Besi (ADB) (Febriani, A. Y. U., 2021).
ADVERTISEMENT
Anemia Defisiensi Besi penyebabnya karena kandungan zat besi dalam darah berkurang sehingga pertumbuhan eritrosit terhambat dan mengakibatkan kurangnya kadar hemoglobin (Nugraha, P. A., 2022). Negara kita menempati kasus defisiensi besi yang tinggi, banyak kasus berasal dari wanita, wanita hamil, balita, dan remaja (Syahrir, Y., 2023). Menurut laporan WHO remaja putri termasuk dalam kelompok usia yang rentan mengalami anemia. Data yang dirilis oleh Riset Kesehatan Dasar 2018 untuk kelompok usia 15-24 tahun, menyebutkan prevalensi anemia mencapai 32%, dimana prevalensi anemia rematri sebesar 27,2%, sementara remaja pria sebesar 20,3%. Sementara berdasarkan laporan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi anemia remaja dengan rentang usia 15-24 tahun adalah sebesar 15,5%, di mana prevalensi anemia rematri sebesar 18%, sementara remaja pria sebesar 14,4%. Meskipun mengalami penurunan dibandingkan lima tahun lalu, namun angka 15,5% masih dinilai tinggi. Menurut WHO, angka kasus anemia 10% dari populasi termasuk tinggi (Yuniati, F., KM, M., & Mustary, S. K. M., 2025).
ADVERTISEMENT
Faktor–faktor umum yang menyebabkan anemia jenis ini yaitu kurangnya asupan zat besi yang tidak cukup dari makanan yang dikonsumsi, karena kebanyakan orang khususnya remaja hanya mementingkan makan tanpa melihat gizi di dalamnya karena hanya mengikuti tren di media sosial. Selain itu, kehilangan kronis bagi perempuan yang menstruasi bisa menjadi penyebab umum. Inilah mengapa anemia defisiensi besi lebih banyak diderita oleh perempuan. Pada ibu hamil faktor terjangkitnya anemia ini dikarenakan saat masa kehamilan kebutuhan zat besi ibu dan janin serta ibu menyusui meningkat. Faktor terakhir yaitu karena buruknya penyerapan zat besi diakibatkan adanya gangguan di usus halus atau terlalu berlebihan dalam mengkonsumsi zat yang mengandung fitat (kacang dan biji), kalsium secara bersamaan dengan makanan kaya zat besi dan konsumsi tanin (dalam teh) yang berlebihan (Royani, I., 2017).
ADVERTISEMENT
TANIN DALAM TEH MENYEBABKAN ANEMIA DEFISIENSI BESI
Saat ini, banyak penelitian yang membahas bahwa minum teh bersamaan makan bisa menjadi penyebab anemia. Setelah diteliti dari berbagai sumber ternyata, teh mengandung senyawa tanin. Tanin dalam teh dapat menghambat penyerapan zat besi dalam saluran cerna yang membuat anemia (kurang darah). Saat makan makanan yang mengandung zat besi dari produk nabati seperti sayur, kacang-kacangan, biji-bijian, dan buah-buahan. Kemudian zat besi dari produk hewani seperti daging merah, ayam dan ikan maka, tubuh akan mengalami penyerapan zat besi yang kurang maksimal karena tanin dapat mengikat zat besi pada makanan sehingga penyerapan Fe yang dilakukan oleh sel darah merah berkurang ( Nas Media Pustaka, 2023, hlm 12). Zat besi yang berkurang akan mengganggu pembentukan hemoglobin, sehingga ketika hemoglobin berkurang akan mengakibatkan anemia.
ADVERTISEMENT
World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa anemia merupakan 10 masalah kesehatan terbesar (Ibrahim, K. N., 2024). Dari pernyataan tersebut berarti anemia ini masih menjadi tantangan besar untuk dunia khususnya bagi negara kita, mengingat banyaknya masyarakat yang lebih gemar minum teh saat makan (Marina, M., 2015). Selain itu saat ini semakin banyak penjual es teh manis yang membuat banyak orang lebih memilih membelinya karena praktis dan mudah di dapat. Usaha yang bisa dilakukan untuk mengurangi kebiasaan minum teh berlebihan adalah dengan berhenti minum teh saat sedang makan khususnya ketika makan makanan yang mengandung zat besi tinggi, minuman bisa diganti dengan air mineral biasa atau minum air yang mengandung Vitamin C karena dapat meningkatkan penyerapan zat besi produksi nabati.
ADVERTISEMENT

