Konten dari Pengguna

Apa Saja yang Telah Kita Ketahui, dan Tidak, Setelah 7 Bulan Bersama Covid-19

Mely Santoso
Savvy science reader.
6 Agustus 2020 16:08 WIB
clock
Diperbarui 18 Agustus 2020 13:24 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Mely Santoso tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi

Preambule

ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Virus corona belum menjadi isu yang tidak hangat bagi baik mesin pencari, media massa, ataupun lini masa media sosial. Kasus positif di beberapa negara masih menunjukkan tren kenaikan. Sedangkan di beberapa negara lain, kasus baru sudah tidak bertambah seperti awal mula wabah terjadi. Indonesia termasuk dalam kategori pertama. Jumlah kasus sampai Rabu (05/08/2020) telah mencapai angka 116.871 dengan angka kematian sebanyak 5.452 dan angka sembuh berada pada 73.889.
ADVERTISEMENT
Pertambahan jumlah kasus positif perhari pun belum menunjukkan angka penurunan. Secara rata-rata, pertambahan jumlah kasus positif berada pada angka 1.000an setiap harinya. Lonjakan angka ini bisa jadi karena bertambahnya jumlah tes yang dilakukan atau juga bisa jadi karena pembukaan sektor publik yang dapat dikatakan terlalu buru-buru.
Cukup sampai sana kita membahas pertumbuhan kasus. Lebih lanjut, artikel ini akan membahas Covid-19 yang dituangkan dalam dua sub judul atau bagian. Pembahasan ini berakar dari dua pertanyaan, 1) Apa saja yang sebenarnya telah terjadi sampai hari ini? dan; 2) Apa saja yang telah kita ketahui, dan tidak, terkait pandemi ini?
Untuk menjawab pertanyaan pertama, maka dalam sub judul pertama kita akan sedikit merekap peristiwa kronologis dari akhir tahun 2019 sampai bulan Juli. Walau demikian, fakta yang dituliskan pun harus dipadatkan agar tidak terlalu panjang. Karena sebenarnya, hampir setiap hari selalu ada peristiwa terbaru terkait pandemi ini. Tidak semua bisa dituliskan. Hanya peristiwa kunci lah yang direkap dalam bagian pertama ini.
ADVERTISEMENT
Di sisi lain, untuk menjawab pertanyaan terkahir, maka sub judul yang kedua didedikasikan untuk merangkuman dari apa saja yang sains coba ungkap terkait misteri pandemi terburuk dekade ini. Pasalnya, setelah 7 bulan pandemi ini menyerang planet kita, masih banyak sekali hal yang belum diketahui.
Jika Anda, pembaca yang budiman, merasa sudah tidak perlu lagi menelaah peristiwa kronologis, Anda bisa melewatinya dan langsung ke bagian kedua tulisan tanpa harus takut terlewat satu fakta pun.
Untuk yang pertama, kita akan membicarakan kronologis. Tanpa perlu memperpanjang kata, mari kita telusuri apa saja yang telah terjadi.

Bagian I : Kronologi Covid-19 Global dan Indonesia

Desember 2019 – Januari 2020: Peristiwa yang tidak terduga

Ilustrasi virus corona. Sumber : CDC unsplash
Seperti yang telah kita ketahui, wabah ini dimulai pada akhir bulan Desember. Komisi Kesehatan kota Wuhan dan media massa Cina melaporkan adanya klaster kasus pneumonia baru dengan etiologi yang tidak diketahui (pneumonia of unknown cause/etiology). Pada saat itu, mungkin hanya sedikit orang yang memahami bahwa dampak yang disebabkan akan sampai seperti kondisi hari ini.
ADVERTISEMENT
Pada bulan Januari, kasus pneumonia dengan etiologi yang tidak diketahui ini mulai ditemukan di luar kota Wuhan seperti Hongkong. Tanggal 5 di bulan yang sama, WHO menerbitkan berita resmi tentang wabah dengan virus baru ini. Beberapa di dalamnya meliputi penjabaran tentang apa saja yang telah terjadi di Cina, panduan teknis untuk komunitas kesehatan, ilmiah, juga publik, dan juga tentang status pasien serta respon tenaga kesehatan masyarakat di Wuhan.
Lima hari kemudian, 10 Januari, WHO merilis pedoman teknis secara online yang berisi saran untuk semua negara tentang cara mendeteksi, menguji, dan mengelola kasus potensial, berdasarkan atas apa yang diketahui mengenai virus pada saat itu. Pedoman pengendalian infeksi dan pencegahan diterbitkan berdasarkan pengalaman dari SARS, MERS, dan beberapa virus pernapasan (Respiratory virus) yang telah diketahui.
ADVERTISEMENT
Kasus pertama di luar Cina ditemukan di Thailand tiga hari setelahnya atau 13 Januari. Sehari setelahnya, WHO menyebutkan bahwa penularan virus yang menyebabkan gejala seperti pneumonia ini mungkin ditularkan melalui manusia ke manusia. Misi kunjungan WHO ke Wuhan yang dilaksanakan pada tanggal 20-21 memastikan klaim penularan manusia ke manusia tersebut dan diumumkan sehari setelahnya.
23 Januari WHO mengadakan rapat Komite Darurat (Emergency Committee atau EC) untuk menilai apakah wabah pneumonia yang sedang dihadapi merupakan keadaan darurat kesehatan masyarakat yang harus mendapat perhatian internasional. Anggota independen dari seluruh dunia tidak mencapai suatu kesepakatan berdasarkan bukti yang ada pada saat itu. Mereka memutuskan untuk berkumpul lagi dalam 10 hari setelah menerima informasi lebih lanjut.
ADVERTISEMENT
Sayangnya, belum sampai 10 hari seperti yang telah disepakati sebelumnya, EC berkumpul lagi pada 30 Januari setelah terdapat laporan pertama penularan terbatas antar manusia dilaporkan di luar Tiongkok. Rapat itu menghasilkan persetujuan dan menetapkan bahwa wabah coronavirus baru tersebut - 2019-nCoV, merupakan singkatan dari 2019 Novel Coronavirus, istilah yang digunakan pada Januari sebelum Covid-19 - sebagai PHEIC (Public Health Emergency of International Concern).

Februari: “Malaikat maut” di luar Cina

Pada tanggal 2 Februari, Filipina melaporkan bahwa terdapat kasus kematian pertama yang disebabkan oleh 2019-nCoV. Kasus di filipina ini Filipina ini menjadi kematian pertama di luar Cina. Sehari setelahnya, WHO mengeluarkan rencana kesiapsiagaan dan respon strategis komunitas internasional untuk membantu melindungi negara-negara dengan sistem kesehatan yang lemah.
ADVERTISEMENT
Kasus kematian di Cina mencapai angka 1.000 pada tanggal 10. Penyakit pneumonia dengan etiologi yang tidak diketahui ini pun mendapatkan nama resmi sehari setelahnya sebagai Covid-19 (Coronavirus disease 2019). Pada tanggal 14, Prancis melaporkan kasus kematian yang disebabkan oleh Covid-19 dan itu merupakan kematian pertama di luar Asia.
Arab Saudi memberlakukan larangan umroh di tengah kekhawatiran Covid-19 pada tanggal 27. Sementara itu, AS melaporkan kasus kematian pertama pada tanggal 28.

Maret: Coronavirus visits wonderful Indonesia

Presiden Joko Widodo 4 Agustus 2020. Sumber: Laman Facebook Joko Widodo
Pemerintah Indonesia bahkan secara sombong mengatakan bahwa virus SARS-CoV-2 tidak bisa masuk ke Indonesia. Bahkan, terdapat wacana yang menggembar-gemborkan diskon pariwisata. Rencana pemberian insentif atau diskon pariwisata itu mungkin tidak akan pernah terjadi karena tidak cukup lama setelah kematian pertama di AS, pada 2 Maret, Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus positif Covid-19 pertama di Indonesia.
ADVERTISEMENT
Tak lama kemudian, kasus kematian pertama di Indonesia dilaporkan pada tanggal 11. Direktur Jenderal Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Kementerian Kesehatan, Achmad Yurianto, mengatakan bahwa kondisi pasien meninggal pada saat itu “Sudah parah yang disebabkan oleh penyakit yang sudah ada sebelumnya termasuk diabetes, hipertensi, hipertiroidisme, dan penyakit paru-paru obstruktif selama bertahun-tahun”. Ahmad juga menjelaskan bahwa pasien yang disebut sebagai “Kasus 25” tersebut meninggal sekitar pukul 2 siang pada hari Rabu setelah hampir 3 hari menerima perawatan.
Pada tanggal yang sama dengan kasus kematian pertama di Indonesia, WHO mendeklarasikan bahwa Covid-19 termasuk dalam kategori pandemi. Hal ini merupakan respon dari WHO melihat angka kasus yang telah naik 13 kali lipat di luar Cina yaitu sekitar 118.000 di 144 negara dan telah membunuh 4.291 orang yang terdampak.
ADVERTISEMENT
Dua hari setelahnya, yaitu pada 13 Maret, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 dibentuk. Berselang tiga hari setelahnya Presiden mengenalkan social distancing pada warga Indonesia dan di hari yang sama sekitar 100 orang Indonesia positif tertular Covid-19. 23 Maret wisma atlet resmi dijadikan rumah sakit darurat untuk pasien Covid-19 sedang pada akhir bulan, 31 Maret, presiden menandatangani draft PSBB.

April – Mei – Juni – Juli: Apa yang sebenarnya terjadi di Indonesia?

Pada awal bulan setelah pengumuman kasus positif pertama di Indonesia, pemerintah mengucurkan dana sebesar 405 triliun rupiah untuk tangani Covid-19 dalam negeri. Tanggal 6 April, Jakarta menjadi wilayah pertama yang disetujui melakukan PSBB disusul Depok, Bogor, dan Bekasi pada tanggal 11.
ADVERTISEMENT
Selang 1 bulan dari kematian kasus pertama, tepatnya pada tanggal ke-18, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyatakan bahwa jumlah korban meninggal akibat Covid-19 berjumlah sekitar 1000 orang. Keterangan IDI tersebut berbeda dari yang disampaikan Kemenkes yang pada saat itu menyatakan bahwa pasien meninggal berjumlah 535 orang.
Hari pertama puasa Ramadan tahun ini, 24 April, diwarnai dengan ditetapkannya larangan mudik oleh pemerintah. Sedang pada akhir bulan, pasien positif Covid-19 sudah mencapai 10.118 kasus dengan 792 orang meninggal dunia.
Selang satu bulan kemudian, 30 Mei, penularan Covid-19 yang terkonfirmasi mencapai angka 25.773 dengan kasus sembuh 7015 orang dan meninggal sebanyak 1573 orang. Sehari kemudian ketua Gugus Tugas merilis 102 wilayah di Indonesia yang termasuk dalam zona hijau. Penduduk yang tinggal di “wilayah hijau” ini dipersilahkan untuk produktif dan kembali beraktivitas.
ADVERTISEMENT
Tanggal 4 Juni Anies Baswedan membuka perkantoran dan ruang publik sebagai pertanda bahwa Jakarta telah mengakhiri masa PSBB dan memulai apa yang disebut sebagai PSBB Transisi. Sehari kemudian, kasus positif di Jakarta dilaporkan berada pada angka 12.000an angka ini merupakan jumlah kasus tertinggi saat itu sebelum akhirnya pada 26 Juni Jawa Timur menjadi provinsi dengan angka kasus positif terbanyak sampai hari ini (04/08/2020). Akhir bulan Juni, total kasus positif Covid-19 mencapai angka 56.385.
Bulan Juli merupakan bulan dengan penambahan jumlah kasus terbanyak per hari. Tanggal 9 Juli merupakan puncaknya dengan penambahan kasus positif sebanyak 2.000 kasus. Sampai pada akhir bulan Juli, kasus Covid-19 di Indonesia sendiri telah mencapai angka 100.000 yang menjadikannya terbanyak di Asia Tenggara.
ADVERTISEMENT

Bagian II : Apa yang telah kita ketahui tentang SARS-CoV-2 setelah selama ini “bersama”

Ilustrasi sebaran kasus Covid-19. Sumber : Martin Sancez, Unsplash
Jika di Indonesia pada akhir bulan lalu saja kasus terkonfirmasi positif berjumlah 100.000an, bagaimana jumlahnya secara global? Seperti yang telah Anda ketahui dengan melihat dari Google, sampai saat ini (04/08/2020) telah tercatat 18 juta lebih kasus positif. Angka tersebut menjadikan pandemi Covid-19 sebagai krisis kesehatan publik terburuk dalam setidaknya dua abad terakhir.
Sejak pertama kali kasus Covid-19 terjadi di akhir tahun lalu, para ilmuwan dan ahli dari berbagai macam keilmuan telah memberikan kemampuan terbaik mereka untuk memahami virus SARS-CoV-2. Penelitian tentang Covid-19 berlari begitu cepat. Hampir di semua portal publikasi ilmiah seperti Elsevier, Spring Nature, Sciencemag, dan juga National Library of Medicine, menyediakan “wadah” informasi khusus yang dibutuhkan untuk memahami Covid-19.
ADVERTISEMENT
Beberapa, atau bahkan kebanyakan hasil dari upaya penelitian tersebut dapat kita akses secara gratis. Dan karena sebagian dari virus yang menyebabkan pandemi ini masih misterius, penelitian yang hari ini terdengar sangat-sangat akurat bisa jadi terbantahkan saat ditemukan fakta baru yang lebih reliabel.
Sampai saat ini, ilmuwan setidaknya telah mempelajari bagaimana SARS-CoV-2 masuk dan membajak sel, bagaimana imunitas bekerja melawan virus tersebut, dan bagaimana virus ini membunuh orang yang mengidapnya. Berkat dari laju penelitian yang sangat cepat juga, sudah terdapat 200 lebih kandidat vaksin dan beberapa diantaranya sedang dilakukan uji coba.
Namun demikian, walau penelitian melaju cepat, pertanyaan baru yang muncul menjadikan pengetahuan tentang Covid-19 memiliki lubang. Beberapa hal tentang virus mungkin telah kita ketahui, tetapi masih banyak sekali hal-hal lain yang juga belum kita ketahui. Salah satu contohnya adalah kapan dan bagaimana pandemi ini akan berakhir. Sungguh, belum ada satu negara atau lembaga kesehatan manapun yang secara pasti mampu menjawab pertanyaan itu. Yang kita ketahui, pandemi ini mungkin akan berakhir ketika vaksin telah pasti dapat diinjeksi pada setiap orang. Sayangnya, proses pembuatan vaksin sendiri idealnya membutuhkan waktu yang sangat lama.
ADVERTISEMENT
Setelah merangkum kronologi Covid-19 global dan lokal, berikut adalah beberapa hal yang telah kita ketahui, dan tidak, tentang Covid-19.

Kita harus hidup lebih lama dengan menerapkan protokol kesehatan

Menggunakan masker dalam aktivitas sehari-hari masih menjadi hal yang keren. Sumber: Pixels.
Memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, dan melakukan protokol kesehatan lainnya masih menjadi peluang terbesar kita untuk menghentikan laju penyebaran Covid-19. Walaupun pada awal terjadinya pandemi terdapat beberapa perdebatan tentang protokol kesehatan, kebanyakan ahli sekarang telah sepakat bahwa semua orang harus mengenakan masker untuk melindungi dirinya dan orang lain dari infeksi virus.
Beberapa peneliti telah mengungkapkan bahwa masker yang sangat sederhana dapat menghentikan cipratan yang keluar dari mulut atau hidung orang yang terinfeksi. Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Nature pada April lalu, ilmuwan menunjukkan bahwa ketika seseorang yang terinfeksi influenza, rhinovirus, atau demam yang disebabkan oleh virus corona mengenakan masker, hal tersebut (penggunaan masker) diperkirakan hampir dapat menangkal 100 persen cipratan (droplets) yang mereka hirup.
ADVERTISEMENT
Bukti lain juga menemukan yang menyatakan bahwa beberapa jenis masker dapat melindungi seseorang dari kuman orang lain. Dikutip dari New York Times, masker N95 kualitas bagus disebut dapat menyaring setidaknya 95 persen partikel yang berdiameter 0.3 mikron saat dikenakan dengan benar. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa N95 mampu memblokir lebih dari 90 persen partikel virus, bahkan partikel virus yang lebih kecil atau seperlima virus corona.
Penelitian terkait lainnya juga menunjukkan bahwa masker bedah memblokir sebanyak 50 hingga 80 persen partikel masuk ke tubuh melalui pernapasan, sedangkan masker kain menangkal 10 hingga 30 persen partikel kecil.
“Mengenakan masker lebih baik daripada tidak sama sekali,” ujar Dr. Robert Atmar, spesialis penyakit menular di Baylor College of Medicine kepada New York Times. Ia juga mengatakan bahwa karena virus corona biasanya menginfeksi seseorang melalui mulut dan hidung, menutupi area ini berguna sebagai pertahanan pertama melawan virus.
ADVERTISEMENT
Mengenakan penutup wajah (face shield) juga akan mencegah Anda menyentuh wajah, yang merupakan cara lain virus corona dapat ditularkan setelah tangan Anda menyentuh permukaan. Ketika menggunakan masker dikombinasikan dengan mencuci tangan dan menjaga jarak, maka hal ini akan menurunkan resiko penularan atau tertular Covid-19. Jangan lupa juga untuk mencuci dan membersihkan masker yang telah digunakan.

Kita juga mengetahui bahwa virus ini menyerang tipe demografi tertentu

Ilustrasi lansia. Sumber: CDC, Unsplash
Realitanya, secara biologis, semua orang berpotensi terinfeksi atau tertular virus corona. Hanya saja dengan menerapkan protokol kesehatan, kita menurunkan potensi penularan tersebut. Dan setelah beberapa bulan hidup bersama virus corona, kita juga mengetahui bahwa terdapat beberapa karakteristik orang yang berisiko terdampak Covid-19.
Karakteristik secara umum, tentu saja adalah mereka yang tidak menerapkan protokol kesehatan, dan secara sadar maupun tidak, berinteraksi dengan orang yang telah terinfeksi. Virus corona berukuran sangat kecil. Ukurannya sekitar 0.1 mikron yaitu lima kali lebih besar dari 0.02 mikron. Jangankan untuk melihat bentuk virus secara mata telanjang, terkadang kita bahkan kesulitan untuk melihat sisa cipratan dari bersin yang melayang di udara atau jatuh di permukaan. Dari ketidakmampuan kita melihat virus tersebut dengan mata telanjang, masker masih menjadi aksesoris yang sangat keren untuk digunakan.
ADVERTISEMENT
Usia juga menjadi karakteristik dari resiko terdampak Covid-19. Seperti yang telah banyak kita tahu, orang yang berusia antara 60 sampai 90 tahun lebih beresiko terdampak Covid-19 dibandingkan mereka yang berada pada rentang usia 0-59 tahun. Selain usia, melalui rekap data kasus Covid-19, ditemukan juga bahwa jenis kelamin juga turut berperan. Laki-laki memiliki resiko terdampak lebih besar dibandingkan perempuan. Mengutip dari visualisasi laman Information Is Beautiful, sebanyak 63% laki-laki meninggal akibat Covid-19 sedang 37 persen lainnya adalah perempuan.
Mayoritas orang yang terdampak Covid-19, atau sebanyak 80 persen, masuk dalam kategori pasien dengan gejala ringan. 13.8 persen lainnya termasuk dalam kategori parah (severe) dan 4.7 persen termasuk dalam kategori kritis. Dikutip dari Kompas, Juru bicara Satgas Covid-19, Achmad Yurianto, menyatakan bahwa, “Hampir 70 persen dari kasus positif Covid-19 dilaporkan memiliki gejala ringan.”
ADVERTISEMENT
Walau fakta-fakta tersebut telah banyak kita ketahui, sampai saat ini kita belum tahu pasti mengapa terdapat perbedaan resiko orang terdampak Covid-19. Mengapa sebagian orang merasakan sakit ringan sedangkan sebagian kecil pasien lain mengalami komplikasi yang mengancam jiwa?

Mengapa virus ini menyerang tipe demografi tertentu?

ADVERTISEMENT
Sayangnya, belum cukup banyak penelitian yang secara pasti dapat menjawab pertanyaan di atas. Hal ini masih menjadi misteri. Namun demikian, bukan berarti tidak ada pendekatan sains yang dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena tersebut.
Ada banyak faktor yang menyebabkan Covid-19 menyerang karakteristik orang tertentu. Para ahli mengatakan bahwa respons sistem imun (kekebalan) pasien terhadap infeksi virus menentukan tingkat keparahan penyakitnya. Jika sistem kekebalan menjadi overdrive (bekerja sangat keras) hal tersebut dapat memicu efek berbahaya. Bahkan dapat membahayakan paru-paru dan organ lainnya.
ADVERTISEMENT
Fungsi sistem kekebalan tubuh menurun dengan bertambahnya usia. Hal inilah yang menjadi penjelasan oleh banyak ilmuwan tentang mengapa kelompok lansia lebih berisiko tertular Covid-19. Penyakit yang telah ada sebelum terinfeksi Covid-19 juga menjadi resiko. Orang yang memiliki penyakit kardiovaskular, diabetes, sakit pernapasan kronis, dan kanker merupakan kondisi yang menyebabkan pasien Covid-19 lebih parah bahkan sampai meninggal.
Perbedaan resiko terdampak pada jenis kelmain memiliki faktor biologis laki-laki dan juga perilaku mereka. Pada faktor biologis, perbedaan paling mendasar terdapat pada level genetik dan juga sistem imun. Para ilmuwan mengatakan bahwa sistem imun wanita lebih kuat dibandingkan pria.
Pada faktor perilaku, sebuah artikel di laman National Institute of Health menjelaskan bahwa tingkat merokok dan minum yang jauh lebih tinggi pada pria dibanding wanita menjadikannya lebih beresiko terdampak Covid-19. Sebuah penelitian di Spanyol juga menyebutkan bahwa wanita memiliki sikap yang lebih bertanggung jawab terhadap Covid-19 dibandingkan pria.
ADVERTISEMENT
Kari Stefanson, ahli genetika dan kepala eksekutif DeCODE Genetics di Reykjavik, menyatakan bahwa, “Perbedaan dalam hasil klinisnya sangat dramatis,”. Seperti dikutip dari laman Nature, ia dan timnya mencari vrian gen manusia yang mungkin menjelaskan perbedaan ini. Sebuah studi (pre-print, belum peer-reviewed) yang dilakukan tim internasional juga mencoba menganalisa genom dari sekitar 4.000 orang Italia dan Spanyol. Mereka menemukan bahwa kaitan genetik dengan pasien Covid-19 yang masuk dalam kategori parah (severe). Orang yang mengalami gagal pernapasan lebih cenderung membawa satu dari dua vrian gen tertentu daripada orang yang tidak sakit.
Secara garis besar, masih dibutuhkan penelitian lanjutan dalam bidang biologi molekuler atau genetika untuk memahami bagaimana perbedaan gejala dan resiko ini berbeda pada manusia.
ADVERTISEMENT

Kita mengetahui hitungan penyebaran, tapi tidak dengan bagaimana virus ini menyebar

Ilustrasi cipratan cairan yang keluar dari mulut ketika seseorang bersin. Sumber : Tangkap layar dari video JAMA
Angka reproduksi dasar (R0), angka rata-rata yang digunakan untuk menandai penyebaran, Covid-19 berada sekitar 2 sampai 3. Huruf R merupakan lambang angka reproduksi virus atau rata-rata seseorang bisa menginfeksi orang lainnya. Jika R0 Covid-19 hari ini adalah 2, misalnya, hal ini berarti dari satu orang yang terinfeksi Covid-19, ia memiliki peluang menyebarkan virus pada dua sampai tiga orang sehat secara rata-rata.
Namun belakangan otoritas tidak lagi menggunakan istilah angka reproduksi dasar atau R-naught (R0) ini. Mereka mengganti istilahnya dengan Rt/Re yaitu angka reproduksi efektif. Rt/Re sendiri merupakan jumlah kasus baru yang tertular atau angka reproduksi setelah diterapkannya intervensi. Angka reproduksi efektif ini biasanya digunakan untuk mengevaluasi penyebaran penyakit.
ADVERTISEMENT
Databoks Katadata merangkum angka reproduksi efektif (Rt) terbaru di Indonesia dari Bonza pada Juni lalu. Saat itu ditemukan bahwa Sulawesi Selatan merupakan provinsi yang memiliki angka Rt tertinggi yaitu 1.59 sedangkan angka terendah didapatkan oleh provinsi Aceh dengan angat Rt 0.17. Walau mungkin perhitungan Rt ini telah berubah dengan sangat signifikan, hal yang ingin saya tekankan di sini adalah kita mengetahui hitung-hitungan dari penyebaran penyakit. Kita punya rumus matematikanya. Kita punya pemodelan dan prediksinya. Namun, hal yang tak kalah membuat ilmuwan bingung adalah menjawab pertanyaan bagaimana virus ini menyebar?
Jika dihadapkan dengan pertanyaan seperti itu, kita mungkin akan menjawab bahwa Covid-19 menyebar melalui cipratan cairan yang keluar dari mulut orang yang terinfeksi ketika mereka batuk, bersin, ataupun berbicara. Hal itulah yang menyebabkan kita harus menjaga jarak kepada siapapun selain juga karena semua orang berpotensi terinfeksi Covid-19 tentunya. Namun, belakangan beberapa ahli menuturkan bahwa Covid-19 juga menyebar melalui udara.
ADVERTISEMENT
Ketika sebuah virus dikatakan menular melalui udara (airborne) hal tersebut mengacu pada situasi di mana partikel yang mengandung mikroorganisme dapat tetap bertahan di udara untuk jangka waktu yang sangat lama. Salah satu contoh penyakit yang termasuk dalam kategori dapat menular melalui udara adalah campak. Bahkan R0 campak berada pada angka 12-18. Virus campak dapat bertahan di udara hingga dua jam.
Menetapkan apakah Covid-19 menular melalui udara atau tidak adalah proses yang lebih rumit. Beberapa ahli sepakat bahwa SARS-CoV-2 tidak dapat “berjalan” jauh atau tetap hidup di luar ruangan. Nemun demikian, terdapat bukti-bukti yang menunjukkan bahwa virus ini dapat menyebar ke sebuah ruangan dan, dalam sebuah eksperimen, bahkan dapat bertahan sampai 8 jam.
ADVERTISEMENT
Asumsi SARS-CoV-2 menyebar melalui udara sendiri sebenarnya belum “diakui” oleh WHO hingga pada Juli lalu, 200an lebih ilmuwan menuliskan “surat terbuka” dalam jurnal Clinical Infectious Diseases, yang di dalamnya berisi penjelasan tentang kemungkinan Covid-19 menular melalui udara. Surat tersebut pun akhirnya yang mengubah fokus WHO dan organisasi kesehatan lainnya yang selama ini fokus pada penularan virus melalui cipratan kecil dari mulut orang terinfeksi.
Pasalnya, penggunaan istilah airborne sendiri tidaklah lepas dari perdebatan. Salah satu perdebatannya adalah mengenai istilah aerosol dan cipratan (droplets). Kita akan membahas lebih lanjut tentang perdebatan tentang transmisi melalui udara ini di kemudian hari.

Meminimalisasi tangan untuk menyentuh permukaan dan wajah adalah hal bagus, tetapi kita juga tidak perlu terlalu takut

Ilustrasi mencuci tangan. Sumber: Ayoola Salako, Unsplash
Sebuah studi yang dipublikasikan bulan Maret di The New England of Medicine menemukan bahwa dalam kondisi laboratorium, virus dapat bertahan hingga tiga hari di beberapa permukaan seperti plastik dan baja, dan 24 jam di atas kardus. Studi lain menemukan virus di ventilasi udara kamar rumah sakit dan di komputer, pegangan tangan, dan gagang pintu.
ADVERTISEMENT
Banyak yang khawatir bahwa dengan menyentuh permukaan bekas tetesan orang terinfeksi, lalu menyentuh mulut, hidung, atau mata, mereka akan tertular virus.
Anda tentu harus tetap mengenakan masker, meminimaliasasi menyentuh wajah Anda jika berada di tempat umum, dan juga terus mengusahakan untuk rajin cuci tangan. Namun, penelitian yang telah kita sebutkan menguji virus, yang mereka maksud adalah jejak bahan genetiknya. Ilmuwan lain yang mengomentari studi ini mengatakan bahwa virus pada permukaan mungkin akan lebih cepat terdegradasi. Selain itu, Centers for Disease Control and Prevention sejak Maret juga telah menyatakan bahwa permukaan yang terkontaminasi bukanlah jalan utama penyebaran virus.
Menghirup cipratan atau tetesan yang keluar ketika batuk, bersin, bicara, atau yang lain dari orang terjangkit masih diperkirakan sebagai penyebab infeksi utama.
ADVERTISEMENT