Generasi Milenial Rentan Stres dan Gampang Diagnosis Diri Sendiri

Millennialverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi . Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi . Foto: Shutter Stock

Milenial adalah generasi muda yang lahir pada 1981-1995 atau yang sekarang menempati usia 24-39 tahun.

Sebagai generasi produktif, milenial ternyata rentan mengalami stres karena usia ini dinamis dan sangat mengikuti perubahan.

Menurut pakar kesehatan jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) dr. Damba Bestari, Sp.KJ, meski milenial gampang stres, tapi mereka memiliki fleksibilitas yang masih baik. Sehingga hal itu menjadi daya tahan mereka terhadap stres.

Dengan semakin banyak konten media sosial yang membahas kesehatan mental, hal itu dapat meningkatkan kesadaran generasi milenial terhadap kesehatan mental.

kumparan post embed

Tapi di sisi lain, hal tersebut juga bisa menjadi bumerang bagi mereka. Sebab semakin tinggi kesadaran akan kesehatan mental, banyak yang melakukan diagnosis sendiri (self diagnose).

Bahayanya bisa menyebabkan Cyberchondriasis atau khawatir berlebihan terhadap suatu penyakit, karena mencari info kesehatan melalui internet alih-alih langsung datang ke profesional.

“Meskipun saya psikiater tapi saya tidak mendiagnosis diri sendiri, jadi harus melalui konfirmasi orang lain. Sebab ada yang namanya distorsi kognitif atau unsur emosional yang cenderung melebihkan atau mengurangi gejala,” jelas dr. Damba.

kumparan post embed

Stres enggak selalu negatif

dr. Damba melanjutkan, stres adalah suatu kondisi yang menuntut seseorang menyesuaikan diri terhadap segala perubahan. Jadi sebenarnya bukan selalu hal yang negatif, tetapi juga bisa positif.

Stres adalah hal yang penting karena bisa menghasilkan zat kortisol dan adrenalin untuk melindungi diri agar tetap produktif.

“Misal saya disuruh mengisi webinar dengan peserta yang banyak, di situ saya ada stressor sehingga terpicu untuk menampilkan materi dengan sebaik mungkin,” jelas dia.

kumparan post embed

Namun, ketika stressor terlalu kuat maka mekanisme otak akan kacau sehingga menyebabkan gangguan. Gangguan itu tidak hanya ke masalah psikis atau mental tapi juga tubuh.

Dampak gangguan fungsi bisa setara dengan asma berat dan hepatitis B. Sementara stres atau pascatrauma setara dengan orang lumpuh.

dr. Damba berpesan, datang ke profesional seperti psikiater atau psikolog tidak harus saat sakit, namun jika hanya ingin mengobrol atau curhat itu juga diperbolehkan.

Selain profesional, ada orang lain yang dapat membantu seperti keluarga, teman, dan support group.