Riset: Anak Muda Merasa Prospek Kerja Semakin Suram karena Pandemi
·waktu baca 2 menit

Sebuah riset dari Health Foundation Inggris melaporkan, anak muda pesimistis terhadap prospek kerja dan kesehatan mental mereka akibat pandemi COVID-19.
Riset ini dilakukan dengan metode survei kepada 2 ribu anak muda di Inggris berusia 22-26 tahun.
Hasilnya, 86 persen responden menganggap kesempatan buat mengasah skill dan mendapatkan pekerjaan stabil semakin kecil. Sebanyak 86 persen juga merasa enggak bisa membangun networking yang dapat membantu masuk ke industri kerja.
Sementara, 54 persen mengaku pekerjaan yang mereka incar cuma menawarkan posisi kontrak. Tiga puluh lima persennya percaya sulit untuk menemukan pekerjaan dengan bayaran adil, dan diberikan kesempatan untuk berkembang.
Enggak berhenti di situ, riset juga mengungkapkan dampak pandemi terhadap kesehatan mental anak muda.
Sebanyak 80 persen responden setuju kondisi sekarang berdampak buruk pada mental, dan 69 persennya merasa makin sulit mendapatkan dukungan kesehatan mental.
Seperti yang dialami Nairn McDonald (25). Lulusan sarjana asal Skotlandia ini bilang, melamar kerja kini semakin sulit.
"Sebelumnya aku bisa sampai ke tahap wawancara. Tapi di pandemi ini, aku bahkan kesulitan buat mendapatkan tanggapan email. Ketika akhirnya dapat kabar dari perusahaan, mereka bilang aku sesuai kriteria tapi harus berkompetisi dengan orang yang baru di-PHK dan punya pengalaman kerja lima sampai 10 tahun," ceritanya, dilansir laman Health.
"Buat orang yang punya kecemasan sepertiku, mencari kerja di tengah pandemi telah mempengaruhi kesehatan mental. Berulang kali ditolak benar-benar sulit," lanjutnya.
Dukungan untuk Anak Muda Bisa Berkembang
Maka itu, Health Foundation menyarankan dukungan kepada anak muda semakin dibutuhkan untuk membantu mereka berkembang.
Sebab kegagalan untuk mengambil tindakan yang tepat, telah berisiko merusak kesehatan jangka panjang anak muda, serta prospek ekonomi mereka.
"Masalah-masalah ini jelas menjadi lebih akut setelah pandemi dan menunjukkan bahwa jauh lebih sedikit anak muda yang diberi kesempatan untuk berhasil. Sehingga lebih mungkin kesehatan jangka panjang mereka akan menderita sebagai akibatnya," terang Martina Kane selaku Policy and Engagement Manager Health Foundation.
