Mengapa Kita Begitu Keras pada Diri Sendiri?

Mahasiswa Psikologi UIN Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Mutiara Safitri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kamu melakukan kesalahan kecil lalu terus memikirkannya berulang kali? Mungkin ketika kamu membuat keputusan yang kurang tepat, atau tidak berhasil mencapai target yang sudah direncanakan. Kesalahan itu mungkin sudah berlalu, tetapi suara di dalam kepala terus mengingatkannya. Kita menyalahkan diri sendiri, merasa tidak cukup baik, bahkan mempertanyakan kemampuan yang sebenarnya kita miliki.
Menariknya, sikap seperti ini sering kali hanya kita tunjukkan kepada diri sendiri. Ketika orang lain mengalami kegagalan, kita cenderung memberi dukungan dan pengertian. Kita mengatakan bahwa setiap orang pasti pernah berbuat salah dan masih memiliki kesempatan untuk memperbaikinya. Namun ketika kesalahan itu dilakukan oleh diri sendiri, standar yang kita gunakan sering kali berubah menjadi jauh lebih keras. Mengapa hal ini bisa terjadi?
Ketika Diri Sendiri Menjadi Kritikus Terbesar
Menurut konsep self-compassion (belas kasih diri) yang dikemukakan oleh Neff (2003, dalam Karinda, 2020), banyak orang cenderung menghakimi diri sendiri ketika menghadapi kegagalan atau kesulitan. Alih-alih memberikan pengertian, kita justru sibuk menyalahkan diri sendiri atas apa yang telah terjadi.
Kritik terhadap diri sendiri memang terkadang dianggap sebagai cara untuk menjadi lebih baik. Namun jika dilakukan secara berlebihan, kritik tersebut justru dapat membuat seseorang semakin terpuruk, merasa tidak berharga, dan sulit bangkit dari kesalahan yang dialaminya. Akibatnya, kesalahan yang sebenarnya wajar dapat terasa jauh lebih besar daripada kenyataannya.
Merasa Hanya Diri Kitalah yang Gagal
Saat mengalami kegagalan, tidak jarang kita merasa seolah-olah hanya kita yang mengalami hal tersebut. Kita melihat orang lain tampak berhasil menjalani hidupnya, sementara diri sendiri terus bergulat dengan berbagai kekurangan.
Padahal, salah satu komponen penting dalam self-compassion adalah common humanity, yaitu kesadaran bahwa kesalahan, kegagalan, dan ketidaksempurnaan merupakan bagian dari pengalaman manusia yang dialami oleh banyak orang. Setiap orang pernah merasa kecewa pada dirinya sendiri. Setiap orang pernah melakukan kesalahan yang ingin diperbaiki. Menyadari hal ini dapat membantu kita melihat bahwa kegagalan bukanlah tanda bahwa kita lebih buruk daripada orang lain.
Terjebak dalam Kesalahan yang Sama
Pernahkah kamu terus memikirkan satu kesalahan yang sudah lama terjadi? Dalam konsep self-compassion, kondisi ini berkaitan dengan kecenderungan untuk terlalu larut dalam emosi negatif yang muncul akibat suatu peristiwa. Akibatnya, perhatian kita hanya tertuju pada kesalahan tersebut hingga sulit melihat situasi secara lebih seimbang.
Kita menjadi sibuk memikirkan apa yang salah, tetapi lupa melihat apa yang masih bisa diperbaiki. Padahal, menerima bahwa kesalahan telah terjadi bukan berarti menyerah. Justru dengan menerima kenyataan secara apa adanya, seseorang dapat lebih fokus mencari langkah yang perlu dilakukan selanjutnya.
Belajar Bersikap Baik kepada Diri Sendiri
Bersikap baik kepada diri sendiri bukan berarti mengabaikan kesalahan atau mencari pembenaran atas perilaku yang keliru. Bersikap baik kepada diri sendiri berarti memperlakukan diri dengan pengertian yang sama seperti yang biasa kita berikan kepada orang lain ketika mereka sedang mengalami kesulitan.
Ketika mengalami kegagalan, mungkin kita dapat bertanya pada diri sendiri: "Jika orang lain berada dalam situasi yang sama, apa yang akan saya katakan kepadanya?" Sering kali, jawaban yang muncul jauh lebih lembut daripada cara kita berbicara kepada diri sendiri.
Pada akhirnya, menjadi manusia berarti menerima bahwa kita tidak selalu sempurna. Kesalahan adalah bagian dari proses belajar, bukan bukti bahwa kita tidak berharga. Mungkin yang kita butuhkan bukanlah lebih banyak kritik terhadap diri sendiri, melainkan lebih banyak pengertian dan belas kasih untuk diri yang sedang berusaha bertumbuh.
________________________________________________
Oleh Mutiara Safitri dan Dr. Rachmat Mulyono, M.Si., Psikolog.
