Matcha, Salt Bread, Lalu Apa Lagi? Mengapa Tren Makanan Cepat Berganti?

Mahasiswa Universitas Pamulang S1 Ilmu Komunikasi - Ketika semua pintu terasa tertutup, yakinlah masih ada pintu langit yang selalu terbuka untuk doa
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Nadia Muthmainnah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernah nggak, kamu melihat tren makanan yang tiba-tiba ramai di media sosial, lalu merasa penasaran dan ingin ikut mencobanya? Mulai dari matcha dengan warna hijau yang menarik hingga salt bread dengan aroma mentega yang menggugah selera, berbagai makanan viral seolah selalu punya cara untuk menarik perhatian. Namun, pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa tren makanan bisa berganti begitu cepat? Ketika satu makanan masih ramai dibicarakan, makanan baru sudah muncul dan kembali mencuri perhatian.
Fenomena seperti ini rasanya semakin akrab dalam kehidupan sehari-hari. Makanan yang sedang ramai dibicarakan bisa dengan mudah menarik perhatian banyak orang. Namun, ketika satu tren mulai terasa biasa, muncul lagi makanan baru yang mengambil alih perhatian.
Pertanyaannya, mengapa tren makanan bisa berganti begitu cepat? Apakah karena masyarakat memang semakin suka mencoba hal baru, atau karena media sosial membuat kita lebih mudah tertarik pada sesuatu yang sedang ramai?
Dari Matcha hingga Salt Bread, Tren Kuliner Terus Berganti
Dunia kuliner selalu menawarkan sesuatu yang baru. Namun, beberapa tahun terakhir, perkembangan media sosial membuat tren makanan semakin mudah menyebar dan dikenal banyak orang.
Matcha menjadi salah satu contohnya. Minuman berbahan teh hijau asal Jepang ini hadir dalam berbagai variasi, mulai dari matcha latte, strawberry matcha, hingga aneka kue dan dessert. Produk yang sebelumnya identik dengan kedai tertentu kini juga dapat ditemukan dalam berbagai bentuk dan pilihan.
Setelah itu, perhatian pencinta kuliner juga tertuju pada salt bread. Roti dengan cita rasa gurih dan aroma mentega ini menarik perhatian karena teksturnya yang renyah di bagian luar dan lembut di bagian dalam.
Popularitas kedua produk tersebut bukan sekadar pembicaraan di media sosial. Dalam artikel yang diterbitkan pada 29 September 2026, The Jakarta Post membahas bagaimana siklus popularitas tren makanan di Indonesia semakin pendek. Berdasarkan analisis terhadap lebih dari 30 tren makanan dan minuman, produk yang mencapai puncak pencarian pada 2024 dan sesudahnya cenderung bertahan di atas setengah dari puncak popularitasnya selama sekitar 12 minggu. Sebagai perbandingan, tren yang mencapai puncak hingga 2021 bertahan sekitar 30 minggu.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa tren makanan yang lebih baru cenderung kehilangan perhatian lebih cepat. Artinya, makanan viral bukan berarti akan terus populer dalam waktu lama.
Media Sosial Membuat Rasa Penasaran Semakin Besar
Salah satu hal yang membuat tren makanan cepat menyebar adalah kemudahan orang menemukan rekomendasi kuliner melalui media sosial. Kita tidak harus mencari informasi secara khusus. Cukup membuka TikTok atau Instagram, berbagai video makanan bisa muncul di linimasa.
Video dengan tampilan menarik, proses pembuatan yang memuaskan untuk ditonton, atau ulasan yang membuat penasaran dapat mendorong seseorang untuk mencari tahu lebih jauh. Apalagi jika makanan tersebut muncul berulang kali dari berbagai akun.
Pada akhirnya, makanan tidak hanya dinilai dari rasa. Tampilan, pengalaman membeli, cara penyajian, dan cerita di balik produk juga ikut membentuk daya tariknya.
Kementerian Perdagangan RI, dalam siaran pers pembukaan TikTok FoodFest pada 26 September 2026, menyebutkan bahwa lebih dari enam juta konten kuliner dengan tagar seperti #Kuliner dan #JajananTikTok telah membantu membuat kuliner lokal viral dan dicari pembeli. Kementerian tersebut juga menyampaikan bahwa konten kuliner di TikTok tumbuh sebesar 52% dari tahun ke tahun.
Data ini memperlihatkan bagaimana platform digital dapat menjadi sarana penting untuk memperkenalkan produk kuliner kepada masyarakat. Bagi pelaku usaha, media sosial membuka peluang agar produk yang sebelumnya hanya dikenal di lingkungan tertentu dapat menjangkau konsumen yang lebih luas.
Namun, banyaknya konten makanan juga berarti konsumen terus berhadapan dengan berbagai pilihan baru. Ketika satu makanan mulai sering muncul, makanan lain bisa datang dan menawarkan pengalaman berbeda.
Ikut Mencoba karena Suka atau Takut Ketinggalan?
Pernah membeli makanan bukan karena benar-benar menginginkannya, tetapi karena hampir semua orang di media sosial sedang membicarakannya?
Kondisi ini menarik jika dikaitkan dengan fenomena Fear of Missing Out (FOMO), yaitu perasaan takut tertinggal dari pengalaman atau hal yang sedang dinikmati orang lain.
Dalam konteks kuliner, FOMO bisa muncul ketika seseorang melihat teman-temannya mencoba makanan viral, menyaksikan antrean panjang di sebuah gerai, atau menemukan banyak ulasan positif dari kreator konten. Ada keinginan untuk ikut merasakan pengalaman yang sama agar tidak merasa ketinggalan tren.
Meski begitu, tidak semua orang membeli makanan viral karena FOMO. Ada juga yang memang menyukai rasanya, tertarik mencoba resep baru, atau sekadar ingin mencari pengalaman kuliner yang berbeda.
Media sosial dalam hal ini dapat menjadi pemicu rasa penasaran, tetapi keputusan untuk membeli tetap dipengaruhi banyak hal, termasuk selera, harga, lokasi, dan kemampuan seseorang untuk mengeluarkan uang.
Karena itu, mengikuti tren kuliner sebenarnya tidak menjadi masalah selama dilakukan sesuai kebutuhan dan kemampuan. Mencoba makanan baru bisa menjadi pengalaman menyenangkan, tetapi kita juga tidak harus membeli semua yang sedang populer.
Viral Belum Tentu Bertahan Lama
Bagi konsumen, tren makanan yang cepat berganti mungkin terasa menyenangkan karena selalu ada sesuatu yang baru untuk dicoba. Namun, bagi pelaku usaha kuliner, kondisi ini menghadirkan tantangan tersendiri.
Ketika sebuah produk sedang viral, jumlah pembeli bisa meningkat karena banyak orang penasaran. Akan tetapi, mempertahankan minat konsumen setelah rasa penasaran itu hilang bukan perkara mudah.
Artikel The Jakarta Post pada September 2026 juga menyoroti perbedaan antara viralitas dan daya tahan sebuah produk. Popularitas dapat mendorong pembelian pertama, tetapi keputusan konsumen untuk kembali membeli biasanya berkaitan dengan pertimbangan yang lebih mendasar, seperti rasa dan harga.
Hal ini menjadi pengingat bahwa usaha kuliner tidak cukup hanya mengandalkan tren. Kualitas produk, harga yang sesuai, pelayanan, dan pengalaman pelanggan tetap perlu diperhatikan agar konsumen memiliki alasan untuk datang kembali.
Bagi usaha kecil, mengikuti tren juga perlu disertai pertimbangan yang matang. Menghadirkan menu baru bisa menjadi peluang, tetapi pelaku usaha tetap perlu memperhitungkan biaya bahan baku, minat konsumen, dan kemungkinan permintaan menurun setelah tren berlalu.
Di sisi lain, makanan yang tidak terlalu ramai dibicarakan di media sosial bukan berarti tidak memiliki peminat. Produk dengan rasa yang konsisten dan harga yang sesuai bisa saja memiliki pelanggan setia meskipun tidak selalu muncul di linimasa.
Tren Boleh Berganti, Selera Tetap Punya Pilihan
Perjalanan tren makanan memperlihatkan bahwa kebiasaan konsumsi masyarakat tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan untuk makan. Ada unsur hiburan, rasa penasaran, pengalaman sosial, dan pengaruh lingkungan digital yang ikut membentuk pilihan.
Matcha mungkin menarik perhatian karena variasi rasanya, sementara salt bread menawarkan pengalaman berbeda melalui tekstur dan cita rasanya. Keduanya menunjukkan bagaimana sebuah produk dapat menjadi perbincangan ketika memiliki daya tarik yang mudah dibagikan kepada orang lain.
Namun, tidak semua tren harus diikuti. Kita tetap bisa menikmati makanan yang sedang populer tanpa merasa wajib membelinya hanya karena orang lain sudah mencobanya.
Pada akhirnya, tren kuliner akan terus bergerak. Akan selalu ada makanan baru yang menarik perhatian, kemudian digantikan oleh sesuatu yang berbeda. Yang menarik bukan hanya menebak makanan apa yang akan viral berikutnya, tetapi juga memahami bagaimana media sosial, perilaku konsumen, dan kreativitas pelaku usaha membentuk perjalanan tren tersebut.
Jadi, kalau besok muncul makanan baru yang memenuhi linimasa, mungkin kita bisa bertanya sebentar sebelum ikut membelinya: apakah memang ingin mencoba rasanya, atau hanya penasaran karena semua orang sedang membicarakannya?
