Konten dari Pengguna

Keynes dan Kebiasaan Belanja Kita: Mengapa Konsumsi Penting bagi Ekonomi?

nur ikhtifal03

nur ikhtifal03

mahasiswa universitas pamulang 2026

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari nur ikhtifal03 tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kita berpikir bahwa keputusan sederhana seperti membeli makanan, naik transportasi, berbelanja di marketplace, atau nongkrong di kafe ternyata memiliki hubungan dengan kondisi ekonomi secara keseluruhan?

Bagi seseorang, membeli secangkir kopi mungkin hanya berarti mengeluarkan uang untuk memenuhi keinginan. Bagi penjual, pembelian tersebut merupakan pendapatan. Bagi pekerja di kedai, aktivitas itu berkaitan dengan pekerjaan dan penghasilan. Sementara bagi pemasok bahan baku, ada permintaan yang ikut bergerak.

Dari satu transaksi kecil, ternyata terdapat rangkaian kegiatan ekonomi yang saling berhubungan.

Gagasan mengenai pentingnya konsumsi dalam perekonomian salah satunya dikembangkan oleh ekonom Inggris, John Maynard Keynes. Pemikirannya menjadi sangat berpengaruh setelah terbitnya The General Theory of Employment, Interest and Money pada 1936. Keynes memberikan perhatian besar pada permintaan agregat dan bagaimana pengeluaran dalam perekonomian dapat memengaruhi produksi serta kesempatan kerja.

Ketika Belanja Bukan Sekadar Belanja

Dalam kehidupan sehari-hari, konsumsi sering dianggap sebagai urusan pribadi. Kita mendapatkan uang, kemudian menggunakannya untuk membeli barang atau jasa yang dibutuhkan.

Namun, Keynes melihat konsumsi dalam konteks yang lebih luas.

Ketika masyarakat membeli barang dan jasa, terdapat permintaan terhadap produk tersebut. Perusahaan kemudian memiliki alasan untuk mempertahankan atau meningkatkan produksinya. Jika kegiatan produksi meningkat, kebutuhan terhadap tenaga kerja dan bahan baku juga dapat ikut meningkat.

Bayangkan sebuah warung makan yang biasanya melayani 50 pembeli sehari. Kemudian jumlah pelanggan meningkat menjadi 100 orang. Pemilik warung mungkin perlu membeli lebih banyak bahan makanan, menambah jam kerja, atau bahkan mempekerjakan orang tambahan.

Artinya, uang yang dikeluarkan konsumen tidak berhenti di tangan penjual. Uang tersebut dapat kembali berputar melalui pembelian bahan baku, pembayaran upah, transportasi, dan berbagai transaksi lainnya.

Keynes dan Hubungan Pendapatan dengan Konsumsi

Salah satu gagasan penting Keynes adalah bahwa konsumsi berkaitan dengan pendapatan. Ketika pendapatan seseorang meningkat, biasanya pengeluarannya juga meningkat, meskipun tidak seluruh tambahan pendapatan tersebut dibelanjakan.

Misalnya, seseorang mendapatkan tambahan uang Rp500 ribu. Sebagian mungkin digunakan untuk membeli makanan atau kebutuhan lain, sementara sebagian lagi disimpan.

Hal ini berkaitan dengan konsep marginal propensity to consume (MPC), yaitu kecenderungan seseorang untuk membelanjakan sebagian tambahan pendapatannya.

Konsep tersebut membantu menjelaskan mengapa perubahan pendapatan masyarakat dapat memengaruhi tingkat konsumsi. Keynes juga menggunakan gagasan tentang kecenderungan mengonsumsi dalam pembahasannya mengenai bagaimana pengeluaran dapat memberikan dampak yang lebih luas terhadap kegiatan ekonomi.

Kalau Semua Orang Menahan Uang, Apa yang Terjadi?

Sekarang bayangkan situasi sebaliknya.

Masyarakat menjadi sangat berhati-hati dan mengurangi pembelian. Mereka menunda makan di luar, mengurangi perjalanan, tidak membeli barang baru, dan menunda berbagai keperluan yang sebenarnya masih bisa dilakukan.

Bagi setiap orang, keputusan tersebut mungkin masuk akal karena ingin menghemat uang.

Namun, jika dilakukan secara bersamaan oleh banyak orang, permintaan terhadap barang dan jasa dapat melemah. Pedagang bisa mengalami penurunan penjualan. Perusahaan dapat mengurangi produksi. Pada akhirnya, pendapatan pelaku usaha dan pekerja juga dapat terdampak.

Inilah salah satu alasan Keynes memberikan perhatian besar pada permintaan dalam perekonomian.

Namun, bukan berarti Keynes mengajarkan bahwa masyarakat harus terus berbelanja tanpa batas. Konsumsi tetap dipengaruhi oleh pendapatan, kebutuhan, tingkat keyakinan terhadap kondisi ekonomi, serta berbagai faktor lainnya.

Indonesia: Konsumsi Masih Menjadi Bagian Penting

Gagasan tersebut masih relevan untuk melihat perekonomian Indonesia saat ini.

Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada triwulan I 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. BPS juga menyebut konsumsi masyarakat tetap menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan, dengan konsumsi rumah tangga menjadi sumber pertumbuhan tertinggi dari sisi pengeluaran.

Contoh yang lebih dekat dapat dilihat di Jakarta. Pada triwulan II 2026, konsumsi rumah tangga menjadi komponen terbesar dalam struktur pengeluaran ekonomi Jakarta, dengan kontribusi 63,24 persen terhadap PDRB. Pada periode yang sama, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh 9,52 persen secara tahunan.

Ilustri gambar dari ChatGPT/AI

Angka tersebut menunjukkan bahwa aktivitas yang terlihat sederhana—seperti makan di restoran, membeli barang, menggunakan jasa transportasi, atau berbelanja—berhubungan dengan aktivitas ekonomi yang jauh lebih besar.

Tapi Apakah Berbelanja Selalu Baik?

Tidak sesederhana itu.

Konsumsi memang penting bagi perekonomian, tetapi bukan berarti semakin banyak seseorang berbelanja, semakin baik pula kondisi ekonominya.

Konsumen tetap memiliki keterbatasan pendapatan. Jika seluruh uang digunakan untuk konsumsi tanpa mempertimbangkan kebutuhan masa depan, seseorang dapat kesulitan memenuhi kebutuhan lain atau membangun tabungan.

Karena itu, ilmu ekonomi mengajarkan adanya pilihan. Setiap keputusan menggunakan uang memiliki opportunity cost, yaitu manfaat dari pilihan lain yang harus dikorbankan.

Ketika seseorang memilih membeli barang tertentu, misalnya, ia mungkin kehilangan kesempatan untuk menggunakan uang tersebut untuk menabung, pendidikan, transportasi, atau kebutuhan lainnya.

Dari Kebiasaan Pribadi Menjadi Fenomena Ekonomi

Pada akhirnya, pemikiran Keynes membantu kita melihat bahwa kebiasaan belanja bukan hanya persoalan pribadi.

Ketika seseorang membeli makanan, ada penjual yang menerima pendapatan. Penjual membeli bahan baku dari pemasok. Pemasok membayar pekerja dan menggunakan jasa transportasi. Para pekerja kemudian menggunakan pendapatannya untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Satu transaksi tidak berdiri sendiri. Ada aktivitas ekonomi lain yang dapat muncul di belakangnya.

Namun, konsumsi juga bukan satu-satunya penentu pertumbuhan ekonomi. Investasi, pengeluaran pemerintah, dan perdagangan dengan negara lain juga memiliki peran. Karena itu, melihat ekonomi hanya dari seberapa banyak masyarakat berbelanja tentu terlalu sederhana.

Pemikiran Keynes justru membantu kita memahami hubungan antara pendapatan, konsumsi, permintaan, produksi, dan kesempatan kerja.

Jadi, ketika kita membeli makanan atau melakukan transaksi kecil lainnya hari ini, sebenarnya kita sedang menjadi bagian dari aktivitas ekonomi yang lebih besar.

Mungkin kita tidak bisa melihat seluruh rantainya. Tetapi dari sudut pandang ekonomi, keputusan kecil setiap konsumen dapat menjadi bagian dari pergerakan ekonomi secara keseluruhan.