Di Kelas, Korban Bunuh Diri UMY Dikenal Ceria, Tak Ada Tanda Depresi
·waktu baca 3 menit

Ratusan mahasiswa Universitas Mahasiswa Yogyakarta (UMY) menggelar doa bersama pada Senin (2/10) sekitar pukul 18.30 WIB. Doa bersama itu bertujuan untuk mendoakan salah seorang mahasiswi UMY, SMQ, 18 tahun, yang menjadi korban bunuh diri pada Senin (2/10) pagi.
SMQ adalah mahasiswi semester 1 kelas internasional Ilmu Komunikasi UMY yang baru dua pekan ini mengikuti pembelajaran di kampus.
Teman sekelas yang juga ketua kelas korban, Aria Shandy, mengatakan bahwa dia dan teman-temannya sangat kaget dan syok dengan berita tersebut. Pasalnya, setiap hari korban dikenal sebagai pribadi yang ceria dan suka bercanda.
“Dia ceria, kita tetap ketawa-ketawa, tetap cerita-cerita. Saya juga sebagai teman sering becandain dia,” kata Aria Shandy, usai doa bersama di UMY, Senin (2/10) malam.
“Makanya saya juga pagi ini kaget, syok, kok teman sekelas saya bisa kayak gini,” kata dia.
Dalam setiap pembelajaran di kelas, korban juga dikenal sebagai mahasiswa yang aktif dan tak menunjukkan tanda-tanda mengalami depresi.
“Saya tidak melihat sedikitpun adanya kelihatan dia depresi, karena selayaknya teman kita tetap bercanda,” ujarnya.
Pada malam hari sebelum kejadian, Aria juga mendapat kabar bahwa korban sempat dibawa ke rumah sakit karena sakit. Namun, dia dan teman-temannya mengira korban hanya mengalami sakit biasa.
“Saya berharap dengan kejadian ini kita lebih care dengan teman kita, kita lebih care satu sama lain, kita bisa tahu ternyata orang yang tertawa di luar, mempunyai luka yang ada di dalam,” kata Aria.
Diberitakan sebelumnya, SMQ diduga menjadi korban bunuh diri setelah melompat dari gedung asrama University Residence (Unires) Putri UMY pada Senin (2/10) pagi sekitar pukul 06.15 WIB.
Kasi Humas Polres Bantul, Iptu I Nengah Jeffry Prana Widnyana, mengungkapkan bahwa pada malam harinya korban juga sempat melakukan percobaan bunuh diri dengan cara meminum obat generik dalam jumlah banyak sekaligus.
Saat itu, korban sempat dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat perawatan medis sehingga obat yang dia telah berhasil dimuntahkan lagi.
Sebelumnya, korban juga pernah menyampaikan kepada temannya untuk mengakhiri hidupnya. Dari keterangan para saksi tersebut, polisi menduga korban bunuh diri karena depresi.
“Sehingga dugaan korban bunuh diri karena depresi,” ujar Jeffry.
*
KONTAK BANTUAN
Bunuh diri bisa terjadi saat seseorang depresi dan tak mendapat bantuan. Jika Anda memiliki permasalahan yang sama, jangan menyerah dan jangan memutuskan mengakhiri hidup. Anda tidak sendiri.
Layanan konseling bisa menjadi pilihan Anda untuk meringankan keresahan. Untuk mendapat layanan kesehatan jiwa atau berbagai alternatif lainnya, Anda bisa mengecek website Into the Light Indonesia di bawah ini:
https://www.intothelightid.org/tentang-bunuh-diri/hotline-dan-konseling/
