Jogja Gelut Day: Tempat Tobat Para Pelaku Klitih, dari Pecundang Jadi Jagoan MMA
·waktu baca 4 menit

Sesungguhnya Yogya punya banyak potensi atlet bela diri. Sayangnya, mereka lebih banyak berlaga sebagai pecundang di jalanan daripada bertarung sebagai seorang jagoan di dalam ring.
Hal itu disampaikan oleh Koordinator Organizer Jogja Gelut Day, Yuda Mahesa.
Tentu mereka tidak dengan senang hati menjadi pecundang dengan membuat onar di jalanan. Banyak faktor yang pada akhirnya menjadikan jalanan sebagai satu-satunya tempat mereka bisa merasakan jadi jagoan.
“Salah satunya karena minimnya ruang bagi mereka untuk berekspresi, untuk menunjukkan diri sebagai jagoan yang sebenarnya,” kata Yuda Mahesa saat ditemui di sela event One Pride MMA 69 Jogja Istimewa, Sabtu (10/6).
Dari keresahan itulah, Jogja Gelut Day, sebuah ajang tarung atlet-atlet amatir Mix Martial Art (MMA) di Yogya yang diinisiasi oleh seniman Erix Soekamti lahir. Tahun ini, Jogja Gelut Day memasuki tahun kedua dan telah digelar di GOR Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada Jumat (9/6).
Setelah dua kali digelar, Yuda melihat banyak jagoan-jagoan muda di Yogya yang salah arah. Mereka yang biasa berlaga dalam duel tawuran antargeng pelajar maupun sebagai perusuh dengan melakukan aksi kejahatan jalanan klitih, banyak yang mendaftarkan diri untuk bertarung di dalam ring Jogja Gelut Day.
“Mereka mendaftar secara mandiri, tidak punya klub, tidak punya bidang bela diri tertentu yang dikuasai, hanya merasa jago berkelahi, banyak yang mendaftar,” ujarnya.
“Termasuk yang biasa tawuran atau jadi pelaku kejahatan jalanan,” kata dia.
Dalam Dua Pekan, 220 Peserta Mendaftar
Klaim Yuda bukan tanpa alasan. Tahun ini, peserta yang mendaftar dan mengikuti audisi Jogja Gelut Day mencapai 220 orang. Padahal pendaftaran hanya dibuka selama dua pekan karena menyesuaikan jadwal One Pride MMA yang tahun ini berkolaborasi dengan Jogja Gelut Day.
Tahun lalu, jumlah peserta Jogja Gelut Day pertama juga tidak kalah banyak. Dalam waktu dua bulan, total ada 660 peserta atlet amatir yang berpartisipasi.
Dari 220 peserta yang mengikuti Jogja Gelut Day tahun ini kemudian diaudisi menjadi 40 orang. Mereka berlaga dalam babak final Jogja Gelut Day yang dibagi dalam 12 kelas berat badan untuk tiga kategori: pelajar, putri umum, dan putra umum.
“Sampai semalam (9/6) itu masih banyak yang coba daftar masuk ke website kami, dan itu banyak banget,” kata Yuda.
Karena sejak awal memang menyasar anak-anak muda di Yogya, sebagian besar peserta mendaftar juga berasal dari Yogya. Sekitar 80 persen peserta yang mengikuti ajang Jogja Gelut Day tahun ini menurut dia berasal dari Yogya maupun yang berdomisili di Yogya, sisanya berasal dari kota sekitar seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur.
“Dari awal tujuan kami memang untuk kasih ruang ke teman-teman muda Jogja khususnya untuk mengaplikasikan skill dan nyali mereka. Daripada diaplikasikan di jalan dan akhirnya menjadi tren kejahatan jalanan, ya mending di ring sekalian,” ujarnya.
Jumlah pelajar yang ikut serta dalam Jogja Gelut Day selama dua tahun ini menurut dia juga sangat banyak, terutama pada tahun pertama. Di tahun kedua ini, dari 220 pendaftar, ada sekitar 30 peserta dari kategori pelajar.
Tahun ini, penyelenggara memang sengaja membatasi jumlah pelajar yang bisa menjadi peserta. Pasalnya, selain waktu yang terbatas, idealnya mereka juga butuh waktu minimal 3 bulan sebelum bisa berlaga di ring MMA.
“Kalau yang tahun lalu banyak banget, karena kita kan mandiri dan waktunya lebih panjang,” ujarnya.
Tumbuhnya Ekosistem MMA di Yogya
Jogja Gelut Day menurut dia juga mulai menghidupkan ekosistem MMA di Yogya. Hal itu terutama terlihat dari semakin banyaknya camp latihan yang aktif di Yogya. Sampai saat ini, ada sekitar 20 camp latihan MMA di Yogya yang berpartisipasi di Jogja Gelut Day.
“Karena banyak anak-anak muda yang tidak punya skill bela diri terus datang ke camp atau sasana untuk latihan karena mau ikut Jogja Gelut Day,” kata Yuda.
Hal itu juga dilihat dari makin terorganisirnya peserta di Jogja Gelut Day #2 tahun ini. Pada gelaran pertama tahun lalu, banyak sekali peserta-peserta mandiri yang tidak mendaftar melalui camp, namun saat ini sebagian besar sudah bergabung dengan camp.
Selain camp latihan yang semakin aktif, toko-toko penyedia alat latihan MMA juga mulai laris.
“Dari yang paling sederhana, pelindung gigi, kan mereka wajib pakai, dan mau enggak mau kan harus beli,” lanjutnya.
Saat ini, Jogja Gelut Day punya mimpi untuk menjadi festival tahunan di Yogya sehingga bisa memberikan dampak ekonomi yang lebih besar melalui sport tourism. Misalnya dengan menggelarnya di destinasi-destinasi wisata. Dengan begitu, wisatawan dari luar Yogya semakin punya banyak alternatif untuk berwisata.
Dan yang paling utama, Jogja Gelut Day dapat mengambil peran penting sebagai salah satu solusi masalah kejahatan jalanan di Yogya yang banyak dilakukan oleh anak-anak muda yang tak memiliki ruang berekspresi.
“Kami ingin menjadi ruang bagi mereka. Ibaratnya menjadi tempat mereka bertobat sehingga bisa benar-benar jadi jagoan di dalam ekosistem yang jauh lebih sehat,” kata Yuda Mahesa.
