Mahasiswa UMY yang Bunuh Diri Sudah Dijadwalkan Bertemu Psikolog dan Konselor
·waktu baca 3 menit

Pimpinan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) merespons kasus dugaan bunuh diri yang dialami oleh salah seorang mahasiswanya, SMQ, 18 tahun, pada Senin (2/10) pagi.
SMQ adalah mahasiswi kelas internasional semester 1 Ilmu Komunikasi UMY yang baru dua pekan mengikuti pembelajaran di kampus.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Al-Islam Kemuhammadiyahan UMY, Faris Al-Fadhat, mengatakan bahwa sebelum korban meninggal dunia, Lembaga Pengembangan Kemahasiswaan dan Alumni (LPKA) UMY telah mendata korban sebagai mahasiswa baru yang perlu mendapatkan pendampingan khusus.
“Mengingat riwayat kesehatan almarhumah sebelum masuk menjadi mahasiswa UMY,” kata Faris Al-Fadhat dalam keterangan resmi, Senin (2/10).
“Tim psikolog dibantu Konselor Sebaya yang ditugaskan telah melakukan pendampingan dan rujukan untuk berkonsultasi lanjutan,” lanjutnya.
Hari Senin (2/10), sebelum korban meninggal dunia, LPKA UMY juga telah menjadwalkan korban untuk bertemu lagi dengan psikolog dan konselor untuk diberikan pendampingan dan konseling lanjutan.
“Pada hari ini, Senin 2 Oktober 2023, almarhumah sudah dijadwalkan untuk melakukan pendampingan dan sesi konseling lanjutan bersama psikolog dan konselor sebaya LPKA, yang merupakan kakak pendampingnya,” jelasnya.
Pihak kampus juga telah menghubungi orang tua korban dan menyampaikan duka cita yang sangat mendalam. Sore ini, 2 Oktober 2023, ayah korban juga telah sampai di Jogja.
UMY menurutnya akan memfasilitasi seluruh proses penanganan dan biaya rumah sakit, serta pemberian santunan kematian, termasuk memfasilitasi kepulangan jenazah hingga sampai di kampung halaman.
“UMY melalui LPKA berkomitmen kuat dan akan terus melakukan bimbingan dan pendampingan kepada teman-teman dekat almarhumah yang membutuhkan pendampingan psikologis setelah mengetahui kejadian tersebut,” kata Faris Al-Fadhat.
Diberitakan sebelumnya, SMQ diduga menjadi korban bunuh diri setelah melompat dari gedung asrama University Residence (Unires) Putri UMY pada Senin (2/10) pagi sekitar pukul 06.15 WIB.
Kasi Humas Polres Bantul, Iptu I Nengah Jeffry Prana Widnyana, mengungkapkan bahwa pada malam harinya korban juga sempat melakukan percobaan bunuh diri dengan cara meminum obat generik dalam jumlah banyak sekaligus.
Saat itu, korban sempat dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat perawatan medis sehingga obat yang dia telah berhasil dimuntahkan lagi.
Sebelumnya, korban juga pernah menyampaikan kepada temannya untuk mengakhiri hidupnya. Dari keterangan para saksi tersebut, polisi menduga korban bunuh diri karena depresi.
“Sehingga dugaan korban bunuh diri karena depresi,” ujar Jeffry.
***
KONTAK BANTUAN
Bunuh diri bisa terjadi saat seseorang depresi dan tak mendapat bantuan. Jika Anda memiliki permasalahan yang sama, jangan menyerah dan jangan memutuskan mengakhiri hidup. Anda tidak sendiri.
Layanan konseling bisa menjadi pilihan Anda untuk meringankan keresahan. Untuk mendapat layanan kesehatan jiwa atau berbagai alternatif lainnya, Anda bisa mengecek website Into the Light Indonesia di bawah ini:
https://www.intothelightid.org/tentang-bunuh-diri/hotline-dan-konseling/
