Kumparan Logo
Konten Media Partner

Mereka yang Celaka dan Trauma di Jalur Lambat Ringroad Utara Yogya

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 6 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Lubang drainase di jalur lambat ringroad utara Yogya banyak dikeluhkan pengguna jalan. Foto: Widi Erha Pradana
zoom-in-whitePerbesar
Lubang drainase di jalur lambat ringroad utara Yogya banyak dikeluhkan pengguna jalan. Foto: Widi Erha Pradana

Dua tahun lebih Rizki Rahma, 23 tahun, tak pernah berkendara lewat Ringroad Utara Jogja lagi. Padahal, itu adalah rute paling dekat menuju kampusnya, UGM, dari rumahnya di daerah Murangan, Triharjo, Sleman.

Dia tak ingat pasti tanggal dan bulannya, yang jelas Rabu pagi di tahun 2019. Sekitar pukul setengah tujuh, dia berangkat dari rumahnya mengendarai sepeda motor Honda Beat kesayangannya. Dia tak punya firasat buruk apapun, hingga ketika sampai di simpang empat ringroad Jombor dia berbelok ke kiri menuju simpang empat Monumen Jogja Kembali (Monjali).

Acha, sapaan akrabnya, masuk ke jalur lambat, seperti biasanya. Saat mulai masuk ke jalur lambat itulah perasaannya mulai tak nyaman entah karena apa. Pikirannya mulai tak konsentrasi karena sibuk menangkal semua kegelisahan. Padahal, jalanan yang dia lalui mulai tak nyaman.

“Jalur lambatnya licin karena banyak pasir, tidak rata juga karena banyak lubang drainase,” kata Acha ketika dihubungi, Kamis (23/12).

kumparan post embed

Beberapa kali, Acha menabrak lubang drainase bawah tanah yang tidak rata. Membuatnya sedikit kehilangan keseimbangan. Tapi petaka yang sesungguhnya dimulai ketika dia masuk ke jalur lambat dari simpang empat Monjali menuju simpang empat Kentungan. Sebuah sepeda motor N-Max di depannya tiba-tiba mengerem mendadak. Acha kaget. Kedua tangannya refleks menekan handle rem. Selain licin, lagi-lagi ban sepeda motornya menginjak lubang drainase yang cukup dalam. Dalam hitungan detik, Acha sudah terpelanting di atas aspal.

“Kejadiannya cepat banget, saya inget banget kejadiannya pas sama drainase yang ditutupin besi itu, sebelah kanan jalan ada pasir-pasir gitu jadi makin licin,” lanjutnya.

Semuanya terjadi sangat cepat, ketika Acha kemudian baru menyadari bahwa tubuhnya sudah tergeletak di atas aspal dengan kaki yang tertindih sepeda motornya. Acha panik, apalagi tepat di belakangnya ada mobil CRV yang melaju dengan kecepatan sedang. Beruntung, mobil di belakangnya bisa mengerem dan berhenti di waktu yang tepat.

Tak ada siapapun yang menolong Acha pagi itu. Jalanan masih cukup sepi. Polisi yang biasa bertugas mengatur lalu lintas juga tak ada. Yang ada di pikiran Acha hanyalah bangun secepat mungkin lalu mengamankan diri ke tepi jalan. Kakinya mulai terasa nyeri luar biasa, celana jin yang dia pakai sampai sobek karena beradu dengan aspal.

“Saya berusaha berdiri sendiri, benar-benar enggak ada yang nolongin. Saya angkat motor sekuat tenaga terus saya pinggirkan sendiri,” ujarnya.

Dalam kondisi yang kalut, Acha mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Dengan jari-jari yang masih gemetar dan harus menahan nyeri yang makin menjadi di kedua kakinya, Acha menghubungi temannya untuk menjemput. Sekitar lima belas menit, temannya akhirnya datang menjemputnya, Acha sedikit lega.

Dua Kali Terjatuh, Trauma Sampai Dua Tahun

Jalur lambat ring road utara Jogja. Foto: Tangkapan layar twitter JogjaUpdate

Hari buruk Acha belum berakhir. Teman yang menjemputnya ternyata datang sendiri dengan sepeda motor. Mau tak mau, Acha kembali harus mengendarai sepeda motornya sendiri menuju kampus, dengan kondisi kaki yang pincang.

Ternyata masalahnya bukan hanya nyeri di kakinya. Kecelakaan di jalur lambat ringroad utara membuat motornya bermasalah: stangnya oleng, berat sebelah. Acha makin sulit mengendalikan sepeda motornya.

“Sampai di deket FH UGM, ada mobil depan saya ngerem mendadak lagi, saya kaget, langsung ikut ngerem mendadak, oleng dan jatuh lagi,” kata Acha.

kumparan post embed

Dagunya cukup keras menghantam jalan. Acha ingin menangis. Sakit di kakinya belum hilang, kini ditambah sakit di dagunya. Beruntung saat itu ada beberapa satpam kampus yang menolongnya. Acha dibawa ke klinik terdekat untuk segera mendapatkan pertolongan pertama.

Dagunya harus dijahit. Sedangkan kakinya, selain lecet juga mengalami luka di bagian dalam yang membuatnya tak bisa berjalan selama seminggu.

Tapi, Rabu pagi yang kelabu itu tak hanya menyisakan luka fisik di dagu dan kakinya. Dua kali kecelakaan dalam sehari, menyisakan trauma. Sejak saat itu, Acha tak pernah lagi mengendarai motor lewat jalur lambat ringroad utara, khususnya dari Monjali sampai simpang empat Kentungan, sampai saat ini.

“Jadi kalau mau ke arah Condongcatur, Kalasan, atau ke arah kampus, pasti muter lewat Jalan Magelang dulu, ke arah Selokan Mataram yang Kutu Asem (Mlati, Sleman),” kata Acha.

Lewat Ringroad Utara sudah Seperti Ujian SIM

Lubang drainase di jalur lambat ringroad utara Yogya banyak dikeluhkan pengguna jalan. Foto: Widi Erha Pradana

Pengalaman yang sama, disampaikan oleh Hernawan Nugroho atau biasa dipanggil Wawan, 25 tahun. Wawan ingat benar, siang di tahun 2017 adalah hari yang berat untuknya.

Saat itu, dia adalah mahasiswa semester 7 di sebuah perguruan tinggi di Yogyakarta. Dia sedang menjalani praktik mengajar di sebuah SMK di Nanggulan, Kulon Progo. Jarak yang cukup jauh jika ditempuh dari kosnya yang berada di daerah Condongcatur.

Tapi, Wawan memang dikenal sebagai ‘pembalap’. Condongcatur sampai Nanggulan yang normalnya ditempuh sekitar satu jam, Wawan hanya butuh waktu setengah jam. Setiap hari, dia bolak-balik Condongcatur—Nanggulan, sepanjang praktik mengajar selama dua bulan.

Siang itu Wawan rasanya sangat mengantuk, semalam dia begadang untuk menonton Chelsea, klub bola kesayangannya, bertanding di Liga Inggris. Ketika bel berbunyi, yang ada di pikirannya hanyalah segera berkemas, dan sampai kamar kos secepat mungkin.

Seperti biasa, Wawan, yang kini sudah bekerja sebagai seorang guru di Jawa Barat, memacu sepeda motor bebeknya dengan kecepatan tinggi. Semua berjalan normal. Sampai dia memasuki jalur lambat ringroad utara, jalur yang memang paling dia benci setiap berangkat maupun pulang mengajar.

“Jalannya enggak rata, banyak lubang drainase, bikin rusak motor. Tapi mau lewat jalur cepat nanti ditilang,” kata Wawan, Senin (27/12).

kumparan post embed

Di tengah jalan yang dipenuhi dengan ‘ranjau’ itu, tiba-tiba sebuah motor di depannya tiba-tiba banting setir karena menghindari lubang drainase. Wawan yang konsentrasinya sudah cukup terkuras, kaget. Dia sudah menginjak rem, supaya tak menabrak motor di depannya. Namun jarak yang terlalu dekat membuat remnya tak bisa diandalkan.

“Aku refleks banting setir ke kanan, karena di kiri juga ada motor. Karena terlalu ke kanan, aku nabrak pembatas jalan, ya udah jatuh,” lanjutnya.

Wawan terpelanting ke aspal. Beruntung kendaraan-kendaraan di belakangnya cukup sigap sehingga tak sampai menabraknya. Celananya sobek, lututnya dan sikunya luka cukup parah.

“Enggak sampai ke rumah sakit, tapi ya jadi cukup trauma aja,” ujarnya.

Sejak saat itu, setiap melewati jalur lambat di ringroad utara Yogya, Wawan selalu membatasi kecepatannya tak sampai 60 km/jam. Melihat lubang-lubang drainase bawah tanah di jalur lambat ringroad utara itu, membuatnya selalu teringat kejadian empat tahun silam, yang bisa saja merenggut nyawanya mengingat lalu lintas siang itu cukup ramai.

“Lubang drainasenya itu benar-benar kayak rintangan pas bikin SIM. Sejak saat itu mending pelan sih, yang penting selamat aja,” kata Wawan. (Widi Erha Pradana / YK-1)