Realisasi Rumah Subsidi di DIY Hanya 200 Unit, Padahal Jabar Capai 18.000 Unit
·waktu baca 2 menit

Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Ilham Muhammad Nur, mengatakan bahwa sulit menyuplai rumah subsidi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). TIngginya harga tanah di DIY membuat biaya produksi rumah di DIY semakin tinggi, pasalnya tanah adalah komponen utama dalam produksi rumah.
Padahal, berdasarkan aturan Menteri Keuangan, syarat rumah bisa disubsidi maksimal harganya adalah Rp 150.500.000.
“Dengan harga tanah di DIY sekarang, sangat sulit bisa membuat rumah dengan harga Rp 150.500.000,” kata Ilham Muhammad Nur saat dihubungi Pandangan Jogja @Kumparan, pekan lalu.
Akibatnya, suplai rumah subsidi di DIY menjadi sangat minim. Pada tahun 2021 saja realisasi rumah subsidi di DIY menurut Ilham hanya sekitar 200 unit saja. Padahal, di provinsi lain, misalnya di Jawa Barat, realisasi rumah subsidinya mencapai 18.000 unit.
“Itu yang dikerjakan oleh anggota REI saja, belum sama asosiasi lain. Kan jauh sekali sama Jogja selisihnya,” ujarnya.
Padahal, anggaran yang digelontorkan oleh pemerintah untuk penyediaan rumah subsidi sebenarnya sangat besar. Dalam setahun saja, anggota REI menurut Ilham bisa merealisasikan rumah subsidi sebanyak 240.000 unit di seluruh Indonesia.
“Jadi anggarannya sangat besar, tapi sayangnya masyarakat Yogya hanya mendapatkan sangat sedikit,” kata dia.
Supaya bisa membangun rumah subsidi, paling tidak pengembang bisa mendapatkan tanah dengan harga maksimal Rp 250.000 per meter. Dengan harga Rp 250.000 per meter, maka pengembang bisa membangun rumah subsidi dengan luas tanah 60 meter persegi.
“Tapi di mana sekarang di Jogja bisa dapat tanah seharga Rp 250.000? Sudah keluar ringroad agak jauh saja masih sangat sulit,” ujarnya.
Padahal, rumah subsidi saat ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat DIY. Pasalnya, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019, masih ada sekitar 260.000 keluarga di DIY yang belum punya rumah, mereka masih tinggal di rumah sewaan atau kontrakan.
“Jadi pasar untuk rumah subsidi sebenarnya sangat besar, hanya saja suplainya sangat kecil,” kata Ilham Muhammad Nur.
