Bagaimana Galaksi Bisa Terbentuk? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Membagikan informasi dari berbagai topik.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah terpikir bagaimana galaksi bisa terbentuk hingga menjadi salah satu bagian penting dari alam semesta? Keberadaan galaksi memang menarik untuk dibahas, apalagi setiap galaksi memiliki ukuran, bentuk, dan karakteristik yang bisa berbeda-beda.
Proses di balik terbentuknya galaksi ternyata jadi salah satu topik menarik dalam kajian astronomi. Seperti apa perjalanan panjang yang terjadi hingga galaksi dapat muncul dan berkembang?
Bagaimana Galaksi Bisa Terbentuk di Alam Semesta?
Bagaimana galaksi bisa terbentuk? Mengutip situs https://science.nasa.gov, galaksi terbentuk melalui proses yang sangat panjang, dimulai dari wilayah di alam semesta yang memiliki kepadatan materi sedikit lebih tinggi dibandingkan sekitarnya.
Seiring waktu, gaya gravitasi menarik gas dan materi di wilayah tersebut, membuatnya semakin terkumpul dan menjadi cikal bakal galaksi.
Proses itu berlangsung selama miliaran tahun hingga terbentuk galaksi dengan berbagai ukuran dan bentuk seperti yang dapat diamati saat ini.
Para astronom memperkirakan bahwa galaksi-galaksi paling tua mulai terbentuk ketika usia alam semesta belum mencapai satu miliar tahun.
Benih awalnya kemungkinan berasal dari ketidakteraturan kecil dalam kepadatan alam semesta yang sudah muncul sejak masa awal setelah Big Bang.
Daerah yang sedikit lebih padat kemudian memiliki gravitasi lebih kuat sehingga mampu menarik semakin banyak materi di sekitarnya.
Ketika gas dan debu terus berkumpul, gravitasi membuat materi tersebut semakin rapat. Sebagian gas kemudian membentuk bintang-bintang baru.
Bintang yang terbentuk bersama gas, debu, serta materi lainnya akhirnya menjadi bagian dari sistem galaksi. Dari proses yang berlangsung terus-menerus inilah galaksi dapat tumbuh dan berkembang menjadi struktur yang jauh lebih besar.
Faktanya lainnya, para ilmuwan masih belum sepenuhnya mengetahui urutan pasti terbentuknya galaksi. Salah satu pertanyaan yang masih dipelajari adalah hubungan antara galaksi dan lubang hitam supermasif di pusatnya.
Hampir semua galaksi besar diketahui memiliki lubang hitam supermasif di bagian tengah. Di pusat Bima Sakti, misalnya, terdapat lubang hitam yang massanya diperkirakan sekitar empat juta kali massa Matahari.
Ada kemungkinan lubang hitam terbentuk lebih dahulu, kemudian galaksi berkembang di sekelilingnya.
Kemungkinan lainnya, galaksi terbentuk terlebih dahulu dan lubang hitam kecil di dalamnya kemudian tumbuh dengan menyerap gas, debu, serta bergabung dengan lubang hitam lainnya. Pertanyaan tersebut masih jadi salah satu hal yang terus diteliti para astronom.
Galaksi Terus Mengalami Perubahan
Setelah terbentuk, galaksi tidak berhenti berkembang. Bentuk dan ukurannya dapat berubah akibat pergerakan bintang, gas, debu, serta pengaruh gravitasi dari objek lain di sekitarnya.
Salah satu contohnya terlihat pada galaksi spiral berbatang, yang memiliki struktur seperti batang di bagian tengah dan terhubung dengan lengan spiral.
Struktur batang tersebut diperkirakan terbentuk ketika bintang, gas, dan debu berkumpul di bagian dalam lengan spiral sehingga menciptakan wilayah yang lebih padat.
Kondisi ini dapat membantu memicu pembentukan bintang-bintang baru. Struktur tersebut juga diyakini tidak selalu bersifat permanen dan dapat berubah seiring perkembangan galaksi.
Galaksi Bisa Bertabrakan
Pertumbuhan galaksi juga dapat terjadi melalui interaksi dengan galaksi lain. Galaksi dapat bertabrakan akibat tarikan gravitasi, meskipun tabrakan tersebut tidak berarti bintang-bintang di dalamnya saling menghantam.
Sebagian besar ruang dalam galaksi sebenarnya kosong sehingga kemungkinan dua bintang bertabrakan secara langsung relatif kecil.
Meski begitu, interaksi gravitasi antargalaksi dapat memberikan dampak besar. Tarikan tersebut dapat mengubah bentuk galaksi sekaligus menekan awan gas dan debu.
Tekanan ini kemudian dapat memicu pembentukan bintang dalam jumlah besar sehingga menghasilkan wilayah yang dipenuhi bintang-bintang muda.
Jika dua galaksi yang bertabrakan tidak memiliki cukup momentum untuk saling menjauh, keduanya dapat bergabung menjadi satu galaksi yang lebih besar.
Hasil penggabungan itu bisa memiliki bentuk yang berbeda dari galaksi asalnya. Misalnya, penggabungan galaksi spiral dengan galaksi elips dapat menghasilkan galaksi dengan bentuk yang tidak beraturan.
Penggabungan galaksi juga dapat menyebabkan sebagian gas, debu, dan bintang terdorong ke bagian luar. Material tersebut dapat membentuk struktur seperti cincin di sekitar galaksi baru dan menjadi tempat terbentuknya bintang-bintang baru.
Sementara itu, sebagian material lainnya dapat bergerak menuju pusat galaksi dan memasok bahan bagi lubang hitam supermasif.
Galaksi Besar Bisa Memakan Galaksi Kecil
Selain bertabrakan dan bergabung, galaksi besar juga dapat tumbuh dengan menarik dan menyerap material dari galaksi yang lebih kecil.
Proses ini sering disebut sebagai kanibalisme galaksi. Tarikan gravitasi galaksi yang lebih besar dapat mengambil gas, bintang, dan materi lain dari galaksi kecil yang berada di dekatnya.
Bima Sakti pun diperkirakan mengalami proses serupa. Galaksi kita diketahui berinteraksi dengan galaksi katai di sekitarnya, termasuk Awan Magellan Besar dan Awan Magellan Kecil.
Interaksi gravitasi tersebut dapat menyebabkan material, termasuk aliran hidrogen, tertarik ke arah Bima Sakti dan ikut mendukung pertumbuhannya.
Demikianlah gambaran bagaimana galaksi dapat terbentuk dan terus berkembang hingga menjadi bagian dari alam semesta yang kita kenal sekarang.
Sudah tahu kan kalau perjalanan galaksi ternyata begitu panjang dan penuh misteri? Jangan berhenti penasaran dengan berbagai fenomena menarik lainnya di alam semesta. (Fikah)
Baca juga: Mengapa Suara Petir Terdengar Belakangan? Ini Alasan Ilmiahnya