Konten dari Pengguna

Mengapa Beberapa Gedung Tanpa Lantai 4? Simak Faktanya di Sini

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Mengapa beberapa gedung tanpa lantai 4?. Foto: Unsplash/Derrick Treadwell
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Mengapa beberapa gedung tanpa lantai 4?. Foto: Unsplash/Derrick Treadwell

Mengapa beberapa gedung tanpa lantai 4? Hal tersebut bisa diketahui ketika memasuki hotel, apartemen, rumah sakit, atau gedung bertingkat lainnya.

Pada panel lift, angka setelah lantai 3 bisa langsung menunjukkan angka 5. Ada pula gedung yang menggunakan label seperti 3A atau F sebagai pengganti angka 4. Kondisi tersebut tentu dapat menimbulkan kesan bahwa lantai tertentu sengaja tidak dibuat.

Padahal, penomoran lantai pada sebuah gedung tidak selalu menggambarkan jumlah tingkat bangunan secara sebenarnya. Ada faktor budaya dan kepercayaan yang turut memengaruhi cara suatu gedung diberi nomor.

Mengapa Beberapa Gedung Tanpa Lantai 4, Mitos atau Fakta?

Ilustrasi Mengapa beberapa gedung tanpa lantai 4?. Foto: Unsplash//Bagzhan Sadvakassov

Mengapa beberapa gedung tanpa lantai 4? Dikutip dari laman rri.co.id, anggapan bahwa gedung tinggi benar-benar tidak memiliki lantai 4 merupakan mitos.

Beberapa gedung memang sengaja tidak mencantumkan angka 4 dalam penomoran lantainya, terutama di sejumlah wilayah Asia Timur. Praktik tersebut tidak berkaitan dengan struktur bangunan atau alasan keselamatan, melainkan dipengaruhi oleh kepercayaan terhadap angka 4.

Dalam budaya Tionghoa, angka 4 memiliki pelafalan yang mirip dengan kata yang berarti kematian. Kemiripan bunyi tersebut membuat angka 4 dianggap kurang baik atau membawa kesialan oleh sebagian masyarakat.

Kepercayaan semacam ini dikenal sebagai tetraphobia, yaitu ketakutan atau keengganan terhadap angka empat. Karena itu, pengembang properti terkadang menghindari penggunaan angka tersebut agar calon penghuni atau tamu yang memiliki kepercayaan tersebut tetap merasa nyaman.

Praktik menghilangkan angka 4 dapat ditemukan di beberapa negara dan wilayah seperti Tiongkok, Taiwan, Hong Kong, serta Singapura. Cara yang digunakan tidak selalu sama.

Ada gedung yang melewati angka 4 sehingga setelah lantai 3 langsung menuju lantai 5. Ada pula yang menggunakan label berbeda, misalnya 3A atau huruf tertentu, untuk menunjukkan tingkat bangunan yang secara fisik berada setelah lantai 3.

Dengan demikian, jika lift tidak menampilkan tombol angka 4, bukan berarti tingkat tersebut tidak ada. Lantai secara fisik tetap dapat berada di posisi yang seharusnya menjadi lantai keempat, tetapi penamaannya dibuat berbeda.

Cara tersebut lebih berkaitan dengan sistem penomoran daripada perubahan pada struktur bangunan. Fenomena serupa juga dapat ditemukan pada angka tertentu lainnya yang dianggap kurang baik dalam budaya tertentu.

Penggunaan nomor lantai merupakan pilihan pengelola atau pengembang gedung. Tidak semua bangunan menerapkan aturan tersebut.

Dikutip dari laman rri.co.id, mencatat bahwa di banyak negara, termasuk Indonesia, Amerika Serikat, dan negara-negara Eropa, lantai 4 tetap digunakan dalam penomoran gedung. Tidak ada bukti ilmiah bahwa lantai 4 lebih berbahaya dibandingkan lantai lainnya.(Fifah)

Baca juga: Kenapa Pintu Lift Tidak Boleh Ditahan? Ini Alasannya Secara Teknis