Konten dari Pengguna

Perubahan Mental pada Anak Laki-laki dan Perempuan yang Memasuki Masa Puber

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi bagaimana perubahan mental pada anak laki-laki dan perempuan yang memasuki masa puber. Unsplash.com/Eliott Reyna
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bagaimana perubahan mental pada anak laki-laki dan perempuan yang memasuki masa puber. Unsplash.com/Eliott Reyna

Banyak orang tua yang kebingungan menghadapi perubahan pada putra putrinya saat memasuki masa pubertas. Para orang tua pun menanyakan bagaimana perubahan mental pada anak laki-laki dan perempuan yang memasuki masa puber?

Mengutip penjelasan halaman ayosehat.kemkes.go.id, masa pubertas menjadi periode penting kehidupan remaja. Di masa ini remaja mengalami banyak perubahan secara fisik, emosional, perilaku, sosial, cara berpikir, dan mental.

Semua perubahan tersebut dapat terjadi pada anak laki-laki ataupun perempuan. Setiap remaja dapat mengalami periode ini dengan cara yang berbeda.

Bagaimana Perubahan Mental pada Anak Laki-laki dan Perempuan yang Memasuki Masa Puber

Ilustrasi bagaimana perubahan mental pada anak laki-laki dan perempuan yang memasuki masa puber. Unsplash.com/Eliott Reyna

Memasuki masa pubertas, banyak anak mulai mengalami perkembangan menuju masa remaja. Lalu bagaimana perubahan mental pada anak laki-laki dan perempuan yang memasuki masa puber?

Berbagai perubahan hormon dan tuntutan lingkungan dapat membuat emosi remaja menjadi lebih kuat dan terkadang sulit dikendalikan. Remaja baru dapat menjadi lebih sensitif, mudah tersinggung, mudah marah, hingga mengalami kesedihan yang sebelumnya tak terlihat.

Baik remaja laki-laki maupun perempuan, keduanya mulai memiliki kebutuhan yang lebih besar untuk mandiri. Keduanya mungkin mulai mempertanyakan aturan orang tua, ingin menentukan pilihan sendiri, dan lebih memperhatikan pendapat teman sebayanya.

Pada kondisi tertentu, hal ini dapat tampak sebagai sikap membantah atau memberontak. Namun, perubahan tersebut tidaklah secara otomatis berarti anak mengalami gangguan mental.

Perubahan lain yang masih terbilang umum adalah meningkatnya perhatian pada diri sendiri dan penampilan. Remaja mulai membandingkan dirinya dengan teman-temannya.

Anak remaja baru juga dapat menjadi lebih sensitif terhadap komentar mengenai tubuh, wajah, kemampuan, maupun prestasinya. Terlebih apabila rasa percaya dirinya rendah, remaja dapat merasa dirinya tidak berharga atau terlalu menyalahkan diri sendiri.

1. Perubahan Hubungan Sosial

Di masa pubertas, teman sebaya bagi remaja semakin penting. Remaja mulai mencari penerimaan dari kelompoknya dan ingin merasa diterima oleh lingkungannya.

Sebab itu, perilaku perundungan, penolakan sosial, konflik pertemanan, dan tekanan dari teman dapat memberikan dampak dan pengaruh amat besar terhadap kondisi mentalnya.

Remaja yang mengalami masalah kesehatan mental dapat mulai menarik diri dari lingkungan sosialnya, sering merasa cemas ketika berada di antara orang lain, dan takut mendapatkan penolakan.

2. Bentuk Perubahan yang Perlu Diwaspadai Orang Tua

Hal yang perlu diingat pada masa pubertas remaja bagi orang tua adalah, tidak semua perubahan emosi saat pubertas merupakan gangguan mental.

Orang tua perlu lebih bersikap waspada apabila perubahan tersebut berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu kehidupan anak. Beberapa tanda yang perlu diperhatikan oleh orang tua yaitu:

  • Emosi anak yang sangat sulit dikendalikan

  • Anak mudah marah atau sedih secara berlebihan

  • Perubahan perilaku anak yang amat drastis

  • Anak kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai

  • Anak mulai menarik diri dari keluarga dan temannya

  • Anak kehilangan rasa percaya dirinya

  • Prestasi sekolah mulai menurun

  • Pola tidur anak berubah secara signifikan

  • Pola makan yang ikut berubah

  • Anak sering mengeluhkan sakit kepala, sakit perut, nyeri otot, atau tubuh terasa tidak bertenaga

Sebaiknya, orang tua tidak langsung menganggap perubahan perilaku sebagai kenakalan remaja atau sekadar “memang sedang puber”. Anak membutuhkan komunikasi yang terbuka, kasih sayang, perhatian, dan dukungan.

Memberikan kesempatan kepada anak untuk bercerita tanpa langsung menghakimi adalah cara efektif. Pujilah usaha dan pencapaian anak agar rasa percaya dirinya berkembang.

Apabila perubahan mental anak terlihat berat, menetap, atau mengganggu aktivitas sehari-harinya, maka orang tua sebaiknya mencari bantuan tenaga kesehatan profesional seperti psikolog atau psikiater.

Perubahan mental pada anak laki-laki dan perempuan yang memasuki masa puber dapat berbeda sesuai kondisi lingkungannya. Hal ini adalah proses perkembangan yang perlu dipahami oleh orang tua, karena lingkungan yang aman membantu remaja melewati masa ini dengan mental sehat dan percaya diri. (Win)

Baca juga: Mengenal Penyebab Sikap Diskriminasi dalam Diri Seseorang