Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mengungkap informasi intelijen soal dugaan perekrutan WNI untuk dijadikan tentara oleh negara pihak ketiga.
Menurut Dasco, para WNI itu awalnya ditawari lowongan sebagai satuan pengamanan atau tenaga administrasi dengan iming-iming gaji besar. Namun, setelah mendaftar, mereka justru dikirim untuk menjadi tentara.
"Nah, para WNI ini kemudian mendaftar, lalu kemudian dari situ akhirnya dikirim untuk menjadi tentara. Begitu informasi yang kami dapat," kata Dasco di DPR, Senayan, Selasa (1/9).
Dasco mengatakan, otoritas intelijen dan Kementerian Luar Negeri telah melakukan antisipasi dan berkoordinasi terkait informasi tersebut.
Pemerintah juga telah mengirimkan utusan ke negara-negara terkait untuk menindaklanjuti persoalan perekrutan WNI tersebut.
Sebelumnya, 8 WNI disebut direkrut untuk bergabung dengan militer Rusia dan dikirim berperang di Ukraina.
Badan intelijen Ukraina menyebut, perekrutan dilakukan dengan iming-iming gaji tinggi, pekerjaan non-tempur, kewarganegaraan Rusia yang dipercepat, hingga berbagai fasilitas sosial.
Namun, sejumlah warga asing yang direkrut Rusia sebelumnya justru berakhir di garis depan tanpa pelatihan memadai. Beberapa di antaranya dilaporkan tewas dalam hitungan minggu.
Jubri Kemlu Yvonne Mewengkang menyebut, mereka tengah mencermati informasi yang disampaikan otoritas Ukraina mengenai dugaan keterlibatan sejumlah WNI dalam angkatan bersenjata Federasi Rusia.