Puluhan nisan makam tak bertuan mulai bermunculan di Waduk Gajah Mungkur (WGM), Kecamatan Wuryantoro, Wonogiri, Jateng. Makam tua itu muncul saat debit air surut karena kemarau.
Makam itu dahulu menjadi bagian dari Desa Setono. Wilayah tersebut kemudian ditenggelamkan untuk pembangunan WGM pada 1976 yang merupakan proyek prioritas era Presiden Soeharto.
Terdapat 45 desa di enam kecamatan yang ditenggelamkan untuk pembangunan bendungan. Sekitar 41.000 warga Wonogiri direlokasi ke berbagai daerah dan pulau di Indonesia.
Sisa makam bermunculan tersebut kini menjadi saksi bisu menyimpan cerita sejarah. Ia menjadi penanda pernah adanya kehidupan di masa lampau di area WGM.
“Munculnya makam-makam kuno tersebut merupakan fenomena yang berulang setiap musim kemarau,” ujar Camat Wuryantoro, Soemardjono Fadjari, Selasa (8/9).
Dia mengatakan makam yang terlihat ini terhitung masih sedikit karena belum masuk puncak musim kemarau dan debit air WGM belum berkurang drastis.
“Tahun ini belum seluruh kompleks makam terlihat karena permukaan air WGM masih tergolong cukup tinggi. Setiap kemarau biasanya makam-makam itu mulai terlihat. Ini baru sebagian,” kata dia.
Dia mengatakan keberadaan makam itu sudah ada jauh sebelum proyek pembangunan WGM direalisasikan. Kemudian saat proyek WGM mulai berjalan, masyarakat yang bermukim di kawasan terdampak melakukan migrasi massal melalui program bedol desa atau transmigrasi.
“Dan makam dibiarkan tenggelam bersama desa sampai sekarang masih bisa disaksikan jejak kampung desa tenggelam karena WGM,” pungkasnya.