Fakta Geologis Menarik Gunung Sirung: Gunung Api Paling Timur di NTT

Mempercepat Edukasi Vulkanologi di Indonesia - Dosen Teknologi Geologi Politeknik Energi dan Pertambangan Bandung
Tulisan dari Roni Marudut Situmorang (Geologi Gunung Api) tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sejarah, Geologi, dan Aktivitas Terkini Kompleks Gunung Api Sirung
Selamat memperingati keanekaragaman Hayati Dunia Sobat Gunung! Sabtu (22/5) ini Sobat Gunung akan diajak untuk mengenal Gunung api paling Timur di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Kira-kira di mana lokasi Gunungnya ya Sobat Gunung!

Secara keseluruhan, Provinsi Nusa Tenggara Timur memiliki 26 Gunung api. 26 Gunung api ini, terdiri dari 18 Gunung api Aktif, 5 Gunung Kala Pleistosen, dan 3 Gunung Bawah Laut yang baru didaftarkan Badan Informasi Geospasial. Gunung api paling barat di Provinsi NTT, yaitu Gunung Doro Otata yang terletak di Pulau Komodo. Gunung Doro Otata merupakan Gunung api Kala Pleistosen. Gunung ai Kala Holosen di Provinsi NTT terletak di Pulau Flores Bagian Barat, tepatnya Gunung Wai Sano.
Persebaran 18 Gunung api Kala Holosen di Provinsi NTT terpusat di Pulau Flores dengan 11 Gunung Api Aktif. Gunung Rokatenda atau Gunung Paluweh berada di Pulau terisolasi di Utara Pulau Flores, Sedangkan, 6 lainnya terletak di Timur Pulau Flores.
Persebaran Gunung api di Provinsi NTT terdiri dari 6 Gunung api Aktif Kala Holosen, dan 3 Gunung Bawah Laut Usulan BIG. Gunung Iliboleng terletak di Pulau Adonara, Tiga Gunung Api berada di Pulau Lembata, Gunung Batu Tara terletak di Pulau Komba, Utara Pulau Lembata. Gunung Bawah Laut Barona Komba, Abang Komba dan Ibu Komba memanjang kearah tenggara Gunung Batu Tara. Sedangkan, Gunung api Paling Timur, di Provinsi Nusa Tenggara Timur yaitu Gunung Sirung di Pulau Pantar, Kepulauan Alor.
Gunung api Sirung adalah satu-satunya gunungapi aktif yang terletak di Pulau Pantar bagian Selatan. Gunung api ini memiliki puncak tertinggi 862 mdpal. Gunung api Sirung merupakan Kompleks Gunung Api, yang setidaknya memiliki tiga kawah utama, yaitu Kawah A, Kawah B, dan Kawah D. Apabila Sobat Gunung melihat Citra Satelit di atas, Kompleks Gunung api di Pulau Pantar dimulai dari barat daya, yaitu Gunung api dengan Kerucut Strato (Gunung Taupekki) dan terdapat Kubah Lava di atasnya, hingga timur laut, yaitu daratan kaki Gunung api Sirung.
Pusat Erupsi Gunung api Sirung yaitu sebuah Kaldera dengan beberapa kawah, yang berada di tengah-tengah dari Kompleks Gunung Api ini. Lebar Kaldera Gunung Sirung yaitu sekitar ±2 km, di dasar Kalderanya terisi air dengan kedalaman dangkal. Warna air Kaldera Sirung terkadang berubah-ubah. Warna air Kaldera yang terbentuk di Gunung Sirung adalah hijau tosca, hijau mint, hijau kebiruan, dan hijau keabuan. Nampak pinggiran Kaldera Sirung masih kering dan datar. Sobat Gunung dapat menuruni Kaldera Sirung, namun jangan mendekati sumber gas Solfatara. Jika Sobat Gunung sampai di puncak kaldera, Sobat Gunung akan melihat pemandangan pantai yang indah di arah Selatan Kaldera Sirung.
Sejarah pengamatan Gunung api Sirung telah tercatat sebanyak 13 kali, sejak tahun 1852. Sejak pencatatannya, erupsi Gunung Sirung pada abad ke-19 terjadi dua kali, yaitu 1855 dan 1899, adapun kedua periode erupsi tersebut merupakan tipe erupsi freatik dari kawah utama dengan Skala 2 VEI.
Erupsi Gunung Sirung pada abad ke-20, tercatat sebanyak 7 periode erupsi. 7 Periode erupsi ini yaitu erupsi tahun 1927, 1934, 1947, 1953, 1960, 1975, dan 1998. Ketujuh periode tersebut merupakan tipe erupsi Freatik dengan rentang Skala 1-2 VEI.
Erupsi Kawah B terjadi pada tanggal 13 Maret 1960, terjadi sejak Pukul 18:00 WITA hingga malam hari. Erupsi Kawah B ini menghasilkan kekuatan erupsi Skala 2 VEI.
Erupsi freatik dari Kawah A terjadi pada tanggal 18 Mei 1998. Abu erupsi mengendap ke arah utara sejauh ± 100 m dari bibir kawah (masih di dalam kaldera). Pada tanggal 26 Maret 2004 terjadi erupsi freatik kecil dari Kawah D, tepatnya Pukul 08:05 WITA.
Periode erupsi Gunung Sirung yang terakhir terjadi pada tanggal 8-13 Mei 2012., ketika itu menurut PVMBG, aktivitas Gunung Sirung mulai meningkat sejak 8 Mei malam yakni terjadi erupsi abu selama tiga jam disertai dentuman dan sinar api setinggi 10 meter di atas kawah.
Abu erupsi dilaporkan mencapai jarak 3.5 km dari titik letusan ke arah utara dan endapan abu mencapai ketebalan 4 milimeter. Hembusan asap putih tipis masih terus keluar hingga ketinggian 50 meter di atas bibir kawah.
Setelah erupsi tersebut, sempat muncul isu erupsi Gunung Sirung pada 7-8 Juli 2015, yang disampaikan warga sekitar dan dikonfirmasi oleh Camat Pantar Tengah. Namun, menurut Agustinus, Pengamat PGA Sirung Saat itu, kabut yang keluar dari kawah gunung Sirung sangat jelas dari kaki gunung dan dari ibu kota Kecamatan Pantar Tengah. Hingga saat ini kabut di atas gunung masih tebal, tetapi mengarah ke selatan gunung atau ke Selat Ombai. Dengan demikian, kabut yang berada di sekitar Gunung Sirung pada tanggal 8 Juli 2015 tersebut bukan berasal dari aktivitas Gunung Sirung.
Dari sejarah 13 erupsi terakhir Gunung api Sirung, dapat disimpulkan sifat erupsi berupa erupsi-erupsi freatik yang menghasilkan abu, lumpur, dan batu (bom-bom vulkanik). Karakter dari setiap erupsi hampir sama atau tidak berubah.
Batuan yang menyusun Kompleks Gunung api Sirung secara umum didominasi oleh aliran lava yang kemudian terbongkar oleh erupsi besar yang menghasilkan endapan piroklastik dan diakhiri oleh erupsi freatik yang menghasilkan endapan freatik. Produk lava ini menyebar sampai sejauh lebih dari 5 km sehingga lerengnya tampak seperti perisai.
Bagian lereng timur yang mempunyai bentuk agak landai seperti perisai dibentuk oleh dominasi aliran lava encer bersifat basaltik yang keluar berulang-ulang. Lereng bagian barat mempunyai banyak kerucut-kerucut gunungapi yang telah padam seperti Puncak Delaaki (938 m dpl), Puncak Taupekki (1344 m dpl), Puncak Boyali (1080 m dpl), dan Puncak Mauta (1023 m dpl). Kerucut-kerucut ini dibangun oleh produk lava dan piroklastik.
Endapan-endapan di sekitar Gunung Sirung dapat dikelompokkan menjadi 4 bagian, yaitu endapan vulkanik tua yang berumur Kuarter Bawah, endapan gunungapi Pra Kaldera Sirung, Pembentukan Kaldera Sirung dan Paska Kaldera Sirung.
Kawasan Rawan Bencana Gunung Sirung terbagi menjadi tiga kawasan, yaitu:
Kawasan Rawan Bencana III, ditandai dengan warna merah transparan mencakup keseluruhan Kaldera Gunung Sirung. KRB III Gunung Sirung merupakan kawasan yang sangat berpotensi terlanda aliran awan panas, aliran lava, dan gas beracun
Kawasan Rawan Bencana II, ditandai dengan warna merah jambu mengarah ke barat laut Gunung Sirung mengikuti aliran sungai yang bermuara di arah Barat dari Gunung api Sirung. KRB II Gunung Sirung merupakan kawasan yang berpotensi terlanda aliran awan panas dan aliran lava
Kawasan Rawan Bencana I, ditandai dengan warna kuning transparan, mengalir ke mengikuti arah aliran sungai yang berhulu di Kaldera Gunung Sirung. KRB I Gunung Sirung merupakan kawasan yang berpotensi terlanda aliran lahar hujan dan perluasan awan panas.
Sekarang ini, Gunung api Sirung berstatus Normal. PVMBG merekomendasikan agar masyarakat di sekitar Gunung Sirung dan wisatawan agar membatasi aktivitas dan tidak berlama-lama berada di sekitar kawah, tidak mendekati danau kawah yang bersifat asam, tidak bermalam di area kawah aktif, dan tidak mendekati lubang tembusan gas untuk menghindari potensi bahaya gas beracun.
Terima kasih buat Sobat Gunung yang selalu membaca sumber terpercaya ini yaa!
Referensi
Bani, P., Alfianti, H., Aiuppa, A., Oppenheimer, C., Sitinjak, P., Tsanev, V. and Saing, U.B., 2017. First study of the heat and gas budget for Sirung volcano, Indonesia. Bulletin of Volcanology, 79(8), pp.1-16.
Global Volcanism Program, 2013. Sirung (264270) in Volcanoes of the World, v. 4.10.0 (14 May 2021). Venzke, E (ed.). Smithsonian Institution. Downloaded 22 May 2021 (https://volcano.si.edu/volcano.cfm?vn=264270).
Kusumadinata K, 1979. Data Dasar Gunungapi Indonesia. Bandung: Volc Surv Indonesia, 820 p.
Neumann van Padang M, 1951. Indonesia. Catalog of Active Volcanoes of the World and Solfatara Fields, Rome: IAVCEI, 1: 1-271.
PVMBG, 2014. G. Sirung. Sumber URL: https://vsi.esdm.go.id/index.php/gunungapi/data-dasar-gunungapi/494-g-sirung
PVMBG, 2021. Magma Indonesia: Laporan Aktivita G. Sirung 19 Mei 2021. Sumber URL: https://magma.esdm.go.id/v1/gunung-api/laporan/162340?signature=b51ee48501b272a6fc233bce95f9671ddd5aaef8259d78e6f21126bf857c1e1e
Varekamp J C, van Bergen M J, Vroon P Z, Poorter R P E, Wirakusumah A D, Erfan R, Suharyono K, Sriwana T, 1989. Volcanism and tectoinics in the eastern Sunda arc, Indonesia. Netherlands J Sea Res, 24: 303-312.
