Konten dari Pengguna

Kognitivisme: Teori dan Aplikasinya dalam Pembelajaran

R

Ruang Psikologi

Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kognitivisme. Gambar: Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kognitivisme. Gambar: Unsplash.

Kognitivisme telah menjadi salah satu teori utama dalam dunia pendidikan. Teori ini menekankan pentingnya proses mental dalam memahami dan mengolah informasi.

Pengertian dan Dasar Teori Kognitivisme

Dalam jurnal berjudul Teori Kognitivisme serta Aplikasinya dalam Pembelajaran (dalam Nurhadi, 2020), Teori belajar kognitivisme lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar itu sendiri. Tidak seperti model belajar behavioristik, kognitivisme melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks.

Kognisi adalah suatu "pusat" penggerak berbagai kegiatan kita: mengenali lingkungan, melihat berbagai masalah, menganalisis berbagai masalah, mencari informasi baru, menarik simpulan, dan sebagainya (Nurhadi, 2020).

Tokoh-tokoh Penting Kognitivisme

Tokoh-tokoh kognitivisme menurut Nurhadi (2020) adalah Jean Piaget, Jerome Bruner, Ausubel, dan Robert M. Gagne.

Jean Piaget

Menurut Piaget, belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik (Nurhadi, 2020). Piaget membagi proses belajar ke dalam tiga tahapan: asimilasi (pengintegrasian informasi baru ke struktur kognitif yang sudah ada), akomodasi (penyesuaian struktur kognitif ke situasi baru), dan equilibrasi (penyeimbang kesinambungan keduanya) (Nurhadi, 2020).

Jerome Bruner

Cara belajar yang terbaik menurut Bruner adalah dengan memahami konsep, arti, dan hubungan melalui proses intuitif sehingga dapat dihasilkan suatu kesimpulan — yang dikenal sebagai Free Discovery Learning, atau belajar dengan menemukan (Nurhadi, 2020). Bruner juga mengembangkan kurikulum spiral, di mana materi pelajaran yang sama dapat diberikan mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, disesuaikan dengan tingkat perkembangan kognitif (Nurhadi, 2020).

Ausubel

Menurut Ausubel, siswa akan belajar dengan baik jika isi pelajaran didefinisikan dan dipresentasikan dengan baik kepada siswa melalui Advanced Organizer — konsep atau informasi umum yang mewadahi seluruh isi pelajaran yang akan dipelajari (Nurhadi, 2020).

Prinsip-Prinsip Utama dalam Teori Kognitivisme

Teori ini berpandangan bahwa belajar merupakan suatu proses internal yang mencakup ingatan, retensi, pengolahan informasi, emosi, dan aspek-aspek kejiwaan lainnya (Nurhadi, 2020). Pengalaman belajar dipengaruhi oleh persepsi, pemahaman, dan interpretasi individu terhadap materi yang dipelajari.

Aplikasi Kognitivisme dalam Proses Pembelajaran

Hakekat belajar menurut teori kognitif dijelaskan sebagai suatu aktivitas belajar yang berkaitan dengan penataan informasi, reorganisasi perceptual, dan proses internal. Kebebasan dan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar amat diperhitungkan, agar belajar lebih bermakna bagi siswa (Nurhadi, 2020). Belajar memahami akan lebih bermakna daripada belajar menghafal (Nurhadi, 2020).

Dalam praktik di kelas, penerapan kognitivisme melibatkan teknik seperti Free Discovery Learning di mana siswa didorong menemukan konsep sendiri, serta pengorganisasian informasi ke dalam kategori yang mempunyai arti dan mudah diingat (Nurhadi, 2020).

Kesimpulan

Kognitivisme menempatkan proses mental sebagai inti pembelajaran. Teori ini lebih mengarah pada bagaimana memahami struktur kognitif siswa, karena dengan memahami struktur kognitif siswa, maka dengan tepat pembelajaran dapat disesuaikan sejauh mana kemampuan siswanya.