Model Kurikulum Hilda Taba: Konsep, Karier, dan Penerapannya dalam Pendidikan
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perkembangan pendidikan tidak lepas dari kontribusi para tokoh yang menghadirkan inovasi dalam penyusunan kurikulum. Salah satu nama penting dalam dunia pendidikan adalah Hilda Taba, yang modelnya kerap menjadi rujukan dalam merancang pembelajaran yang relevan dan adaptif.
Siapa Hilda Taba?
Hilda Taba dikenal sebagai sosok yang membawa perubahan besar dalam pengembangan kurikulum. Menurut Yu'timaalahuyatazaka dalam artikel jurnalnya berjudul Model Pengembangan Kurikulum Hilda Taba dan Identifikasinya Dalam Kurikulum Pendidikan Islam, Hilda Taba (1902–1967) menganggap fakta sebagai hal yang paling penting untuk mendasari ide dan generalisasi peserta didik. Karakteristik pemikiran pengembangan kurikulum Taba bersifat induktif, dalam arti memberikan peluang sebesar-besarnya kepada guru untuk ikut serta dalam merancang kurikulum.
Profil Singkat dan Karier Hilda Taba
Pada awal kariernya, Hilda Taba banyak terlibat dalam pelatihan guru dan penelitian pendidikan. Taba terpengaruh oleh John Dewey dan William Kilpatrick, pemimpin terkemuka dari proyek nyata bagi pembelajaran dan integrasi subyek mata pelajaran. Berdasarkan Yu'timaalahuyatazaka (2016) , kontribusinya muncul ke permukaan khususnya dalam:
kebutuhan akan metode untuk menilai pembelajaran bermakna yang melampaui ujian;
perencanaan kurikulum yang terkoordinasi dengan kelompok organisasi; dan
guru berkolaborasi dalam menghubungkan mata pelajaran sekolah dengan aktivitas untuk menyepakati tema-tema yang canggih.
Model Kurikulum Hilda Taba
Model kurikulum ini menjadi acuan bagi banyak sekolah karena diyakini mampu menghasilkan kurikulum yang lebih kontekstual.
Konsep dan Tahapan Model Kurikulum Taba
Model pengembangan kurikulum Hilda Taba sering disebut sebagai model terbalik — dikatakan terbalik karena model ini merupakan cara yang lazim ditempuh secara deduktif sehingga model ini sifatnya lebih induktif. Model ini dimulai dengan melaksanakan eksperimen, diteorikan, kemudian diimplementasikan; hal ini dilakukan untuk menyesuaikan antara teori dan praktik, serta menghilangkan sifat keumuman dan keabstrakan kurikulum (Yu'timaalahuyatazaka, 2016).
Hilda Taba (dalam Yu'timaalahuyatazaka, 2016) mengembangkan lima langkah dalam kurikulum secara berurutan:
kelompok guru menghasilkan unit-unit kurikulum melalui diagnosis kebutuhan, perumusan tujuan, pemilihan dan pengorganisasian materi, pemilihan pengalaman belajar, dan evaluasi;
uji coba unit-unit eksperimen;
revisi dan konsolidasi unit;
pengembangan kerangka kerja teoritis; dan
sosialisasi hasil melalui seminar, penataran, dan lokakarya.
Ciri Khas dan Keunggulan Model Taba
Dalam mengkonstruk dan mengembangkan kurikulum diperlukan kebijakan lokal agar lebih sesuai dengan kebutuhan; karena guru adalah orang yang paling mengerti kebutuhan peserta didik di masing-masing daerah.
Penerapan Model Hilda Taba dalam Kurikulum Pendidikan Islam
Berdasarkan model Hilda Taba, perumusan kurikulum pendidikan Islam ditentukan terlebih dahulu tujuan umum, mengklasifikasi tujuan-tujuan, merinci tujuan-tujuan berupa pengetahuan (fakta, ide, konsep), berpikir, nilai-nilai dan sikap, emosi dan perasaan, keterampilan, dan merumuskan tujuan dalam bentuk yang spesifik (Yu'timaalahuyatazaka, 2016).
Identifikasi Model Taba pada Kurikulum Pendidikan Islam
Merinci tujuan-tujuan berupa pengetahuan, berpikir, nilai-nilai, sikap, emosi, perasaan, dan keterampilan sebagaimana yang disarankan oleh Hilda Taba sangat urgen bagi pengembangan model kurikulum pendidikan Islam di Madrasah (Yu'timaalahuyatazaka, 2016). Tantangan yang sering muncul adalah keterbatasan sumber daya dan perlunya penyesuaian dengan kebijakan pendidikan yang berlaku.
Kesimpulan
Model kurikulum Hilda Taba menawarkan pendekatan yang sistematis dan induktif dalam pengembangan pembelajaran. Dengan menempatkan guru sebagai perancang aktif kurikulum dan kebutuhan siswa sebagai pusat, model ini mendorong kurikulum yang kontekstual dan adaptif. Penerapan model Taba di lingkungan pendidikan Islam membuktikan bahwa kurikulum yang relevan dan adaptif dapat dicapai melalui strategi yang tepat.