Perubahan Peta Politik Timur Tengah Setelah Runtuhnya Kekhalifaan Utsmaniyah

International Relations Student of Sriwijaya University
·waktu baca 9 menit
Tulisan dari Sarah Al Humairoh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jika ada satu momen dalam sejarah yang bisa menjelaskan mengapa Timur Tengah hari ini penuh dengan konflik dan ketegangan, jawabannya ada pada tahun 1922. Saat itu, Kekhalifahan Utsmaniyah yang telah berdiri selama 600 tahun akhirnya runtuh setelah kalah dalam Perang Dunia I (Gingeras, 2016). Banyak orang melihat kejadian ini sebagai akhir dari sebuah dinasti tua yang memang sudah waktunya pergi. Namun sebenarnya, ini adalah awal dari segala masalah yang disaksikan sampai hari ini.
Kekhalifahan Utsmaniyah memang bukan surga. Ada penindasan, ada korupsi, ada diskriminasi. Tapi sistem ini punya satu keunggulan yang diabaikan banyak sejarawan modern. Mereka berhasil membuat berbagai kelompok etnis dan agama hidup dalam satu payung kekuasaan tanpa perang besar-besaran selama berabad-abad. Orang Arab, Turki, Kurdi, Yahudi, Kristen, dan Muslim dari berbagai aliran bisa hidup berdampingan dengan konflik yang relatif terkendali.
Saat sistem ini runtuh, tidak ada yang menggantikannya. Pada 1 November 1922, Majelis Nasional Agung Turki secara resmi menghapuskan Kesultanan Ottoman, mengakhiri dinasti yang telah berkuasa sejak 1299 (Hanedar et al., 2018). Yang muncul justru kehampaan politik yang sangat berbahaya. Kekosongan inilah yang kemudian diisi oleh kepentingan asing dan memicu rangkaian konflik berkepanjangan.
Kedatangan Bangsa Barat
Inilah bagian yang paling menyakitkan. Setelah Perang Dunia I berakhir, Inggris dan Prancis duduk di meja perundingan dan membagi-bagi wilayah Timur Tengah seperti membagi kue. Mereka menciptakan negara-negara baru dengan menarik garis lurus di peta tanpa peduli siapa yang tinggal di sana.
Perjanjian Sykes-Picot adalah bukti nyata arogansi kolonial. Negosiasi antara diplomat Inggris Mark Sykes dan diplomat Prancis François Georges-Picot dimulai pada November 1915, dan kesepakatan akhir diratifikasi oleh pemerintah masing-masing pada 9 dan 16 Mei 1916 (Barr, 2011). Dua diplomat ini menentukan masa depan jutaan orang di Timur Tengah tanpa pernah bertanya pada mereka. Hasilnya adalah negara-negara buatan seperti Irak dan Suriah yang menggabungkan kelompok-kelompok yang sebenarnya tidak ingin disatukan.
Ambil contoh Irak. Negara ini diciptakan dengan menggabungkan tiga provinsi Ottoman yang berbeda. Di utara ada Kurdi, di tengah ada Sunni Arab, di selatan ada Syiah Arab. Tiga kelompok dengan sejarah, budaya, dan kepentingan yang berbeda dipaksa hidup dalam satu negara. Apakah mengejutkan bahwa Irak sampai hari ini terus bergejolak dengan konflik antar kelompok? Sama sekali tidak.
Pembagian wilayah ini bukan hanya salah, tapi juga bodoh. Perbatasan yang ditarik tidak mengikuti realitas demografis, budaya, atau sejarah. Hasilnya adalah negara-negara yang sejak lahir sudah mengandung benih perpecahan.
Nasionalisme Arab yang Terkhianati
Salah satu tragedi terbesar dari kejatuhan Utsmaniyah adalah pengkhianatan terhadap gerakan nasionalisme Arab. Selama Perang Dunia I, pemimpin Arab seperti Syarif Hussein dari Mekah memberontak melawan Utsmaniyah dengan janji dari Inggris bahwa mereka akan mendapat negara Arab yang merdeka dan bersatu.
Dalam korespondensi Hussein-McMahon yang berlangsung dari Juli 1915 hingga Maret 1916, Komisaris Tinggi Inggris di Mesir Sir Henry McMahon menjanjikan dukungan untuk kemerdekaan Arab sebagai imbalan untuk pemberontakan melawan Ottoman (Britannica, 2024) Berdasarkan janji ini, pemberontakan Arab secara resmi dimulai di Mekah pada 10 Juni 1916 (Rogan, 2015).
Apa yang mereka dapat? Pecahan-pecahan kecil wilayah yang dikuasai oleh Inggris dan Prancis sebagai mandat Liga Bangsa-Bangsa. Bukan kemerdekaan, tapi bentuk kolonialisme baru dengan nama yang lebih halus. Pengkhianatan ini menciptakan rasa tidak percaya yang mendalam terhadap Barat dan memicu sentimen anti-Barat yang masih kuat sampai sekarang.
Kekecewaan ini menjadi benih bagi gerakan radikal yang muncul di kemudian hari. Ketika jalur politik konvensional terasa sia-sia karena dikendalikan kekuatan asing, orang-orang mulai mencari alternatif ekstrem. Tidak heran jika gerakan-gerakan radikal di Timur Tengah sering menggunakan narasi anti-kolonial dan anti-Barat sebagai daya tarik utama mereka.
Masalah Palestina yang Tak Kunjung Selesai
Tidak bisa membahas perubahan peta politik Timur Tengah tanpa menyebut Palestina. Deklarasi Balfour yang dikeluarkan pada 2 November 1917 adalah produk langsung dari kejatuhan Utsmaniyah (Cohen, 2013). Dalam surat dari Menteri Luar Negeri Inggris Arthur Balfour kepada Lord Rothschild, pemerintah Inggris menyatakan dukungan untuk pembentukan di Palestina sebagai tanah air nasional bagi bangsa Yahudi (Yale Law School, 2025).
Dalam sistem Ottoman, orang Yahudi, Kristen, dan Muslim hidup di Palestina dengan konflik yang minimal. Memang ada ketegangan sesekali, tapi tidak ada yang membayangkan bahwa suatu hari nanti wilayah ini akan menjadi salah satu zona konflik paling panas di dunia.
Inggris membuat janji yang bertentangan. Mereka berjanji pada Arab bahwa Palestina akan menjadi bagian dari negara Arab merdeka. Di saat yang sama, mereka juga berjanji pada gerakan Zionis untuk mendukung pembentukan negara Yahudi di tanah yang sama. Kontradiksi ini menciptakan bom waktu yang meledak pada 1948 dan dampaknya masih terasa sampai hari ini.
Konflik Palestina-Israel bukan hanya masalah lokal. Ini adalah simbol dari seluruh kekacauan yang diciptakan oleh pembagian wilayah pasca-Utsmaniyah. Setiap kali ada eskalasi di Palestina, seluruh Timur Tengah ikut bergejolak. Ini membuktikan betapa dalamnya luka yang ditinggalkan oleh keputusan-keputusan kolonial seratus tahun lalu.
Munculnya Rezim-Rezim Otoriter
Negara-negara baru yang lahir dari reruntuhan Utsmaniyah menghadapi krisis keabsahan yang serius. Mereka bukan terbentuk dari kehendak rakyat atau perjuangan kemerdekaan yang organik. Mereka adalah ciptaan kolonial dengan garis perbatasan yang tidak masuk akal.
Untuk menjaga negara-negara buatan ini tetap utuh, muncul rezim-rezim otoriter yang mengandalkan kekuatan militer dan penindasan. Dari rezim Baath di Irak dan Suriah hingga monarki yang didukung Barat di Teluk, pola yang sama terulang. Kekuasaan harus dipertahankan dengan kekerasan karena tidak ada keabsahan historis atau sosial yang kuat.
Inilah warisan paling beracun dari kejatuhan Utsmaniyah. Bukan hanya peta yang berubah, tapi seluruh budaya politik di wilayah itu menjadi otoriter dan represif. Demokrasi tidak pernah punya kesempatan untuk tumbuh karena negara-negara ini sejak awal dirancang untuk dikontrol, bukan untuk melayani rakyat.
Ketika Arab Spring meletus pada 2011, banyak yang berharap ini adalah momen pembebasan. Tapi yang terjadi justru kekacauan lebih besar. Mengapa? Karena struktur negara yang rapuh dan buatan membuat transisi demokratis hampir mustahil. Suriah hancur dalam perang saudara. Libya terpecah-pecah. Mesir kembali ke pemerintahan militer. Hanya Tunisia yang relatif berhasil, dan itu pun dengan banyak gejolak.
Identitas yang Terpecah-Pecah
Sebelum 1922, jika seseorang di Damaskus ditanya tentang identitasnya, dia mungkin akan menjawab sebagai Muslim, atau orang Damaskus, atau rakyat Ottoman. Konsep identitas nasional seperti "Suriah" atau "Irak" hampir tidak ada.
Kejatuhan Utsmaniyah memaksa jutaan orang untuk mengadopsi identitas nasional baru yang buatan. Proses ini sangat traumatis dan tidak pernah benar-benar selesai. Sampai hari ini, banyak orang di Timur Tengah masih bingung dengan identitas nasional mereka karena identitas itu diciptakan dari luar, bukan tumbuh dari dalam.
Terpecahnya identitas ini menciptakan konflik internal yang tak berkesudahan. Orang Kurdi tidak merasa menjadi bagian dari Turki, Irak, atau Suriah. Orang Syiah di Irak merasa lebih dekat dengan Iran dibanding dengan sesama warga Irak yang Sunni. Identitas lokal, berdasarkan sekte agama, dan suku sering kali lebih kuat dari identitas nasional.
Akibatnya, negara-negara di Timur Tengah sulit membangun rasa kebangsaan yang sejati. Rakyat tidak merasa terikat dengan negara mereka. Loyalitas lebih diberikan pada kelompok etnis, agama, atau suku. Ini membuat negara-negara tersebut sangat rentan terhadap perpecahan dan konflik internal.
Warisan yang Masih Membara
Hari ini, ketika konflik di Suriah disaksikan, ketidakstabilan di Irak, masalah Kurdi yang tak kunjung selesai, dan konflik Israel-Palestina yang berkepanjangan, sebenarnya yang disaksikan adalah konsekuensi jangka panjang dari kejatuhan Utsmaniyah.
Kekhalifahan Utsmaniyah bukan sistem yang sempurna atau harus dikembalikan. Itu absurd dan tidak mungkin. Tapi perlu diakui secara jujur bahwa cara wilayah itu dibagi setelah kejatuhan Utsmaniyah adalah bencana yang menciptakan masalah mendasar yang hampir tidak mungkin diselesaikan.
Perubahan peta politik yang terjadi bukan hanya soal garis-garis di peta. Ini adalah tentang hancurnya sistem yang sudah mapan dan digantikan dengan struktur buatan yang tidak mencerminkan realitas sosial dan sejarah masyarakat di sana. Ini adalah tentang janji-janji yang dikhianati dan identitas yang dipaksakan.
Setiap kali ada upaya untuk mereformasi atau menstabilkan Timur Tengah, upaya tersebut selalu terhambat oleh struktur dasar yang cacat sejak awal. Perbatasan yang tidak masuk akal, kelompok-kelompok yang dipaksa bersatu, identitas nasional yang dipaksakan, semua ini adalah warisan langsung dari cara Barat membagi-bagi wilayah bekas Utsmaniyah.
Pelajaran yang Terabaikan
Jika ada satu pelajaran yang bisa diambil dari sejarah ini, adalah bahwa negara tidak bisa diciptakan hanya dengan menggambar garis di peta. Negara yang stabil dan sejahtera harus tumbuh dari realitas sosial, budaya, dan sejarah masyarakatnya.
Kejatuhan Kekhalifahan Utsmaniyah mengubah peta politik Timur Tengah secara fundamental bukan karena satu kekaisaran digantikan oleh sistem lain. Tapi karena perubahan itu dilakukan dengan cara yang brutal, arogan, dan sama sekali mengabaikan kehendak dan realitas masyarakat lokal.
Kekacauan yang dilihat hari ini di Timur Tengah adalah cerminan dari kekacauan yang diciptakan seratus tahun lalu. Dan sampai kesalahan-kesalahan masa lalu itu diakui dan dipahami, sulit membayangkan wilayah tersebut bisa menemukan kedamaian sejati.
Yang lebih menyedihkan, pola yang sama terus berulang. Intervensi asing di Irak tahun 2003, campur tangan di Libya tahun 2011, semuanya mengulangi kesalahan yang sama dengan percaya bahwa perubahan rezim dan pembentukan institusi baru bisa menciptakan stabilitas tanpa mempertimbangkan realitas lokal yang kompleks.
Timur Tengah hari ini adalah bukti hidup bahwa keputusan politik yang dibuat seratus tahun lalu masih punya dampak nyata dan mematikan. Peta yang digambar dengan penggaris dan ambisi kolonial telah menciptakan wilayah yang tampaknya ditakdirkan untuk terus bergejolak. Dan inilah harga yang harus dibayar ketika sejarah, budaya, dan kehendak rakyat diabaikan demi kepentingan geopolitik kekuatan besar.
Referensi:
Barr, J. (2011). A line in the sand: Britain, France and the struggle that shaped the Middle East. Simon & Schuster
Britannica Editors (2024, October 15). Hussein-McMahon correspondence. Encyclopedia Britannica. https://www.britannica.com/topic/Husayn-McMahon-correspondence
Cohen, M. J. (2013). The Balfour Declaration and the Palestine Mandate, 1917-1923: British imperialist imperatives. British Journal of Middle Eastern Studies, 40(3), 231-251. https://doi.org/10.1080/13530194.2013.791133
Gingeras, R. (2016). Fall of the sultanate: The Great War and the end of the Ottoman Empire 1908-1922. Oxford University Press
Hanedar, A. Ö., Hanedar, E. Y., Torun, E., & Ertuğrul, H. M. (2018). Dissolution of an Empire: Insights from the İstanbul Bourse and the Ottoman War Bond. Defence and Peace Economics, 29(5), 557–575. https://doi.org/10.1080/10242694.2016.1239319
Rogan, E. (2015). The fall of the Ottomans: The Great War in the Middle East. Basic Books.
Yale Law School. (2025). The Balfour Declaration 1917. The Avalon Project. https://avalon.law.yale.edu/20th_century/balfour.asp
