Konten dari Pengguna

Generasi Strawberry Mudah Tersinggung: Solusi Pendidikan dari Duo Guru Bangsa

Yusuf Fathyr

Yusuf Fathyr

Saya Yusuf Setyaji, saya pendidik muda asal Sragen dan guru Tafsir Al-Qur'an di Pondok Pesantren Ibnu Abbas. Lulusan Universitas Muhammadiyah Surakarta ini fokus pada pendidikan Islam, karakter, dan nilai-nilai Al-Qur'an dalam kehidupan modern

·waktu baca 8 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yusuf Fathyr tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Bullying : Sumber ( https://idn.freepik.com/foto-gratis/pesan-bahasa-spanyol-menentang-perundungan-di-tangan-anak-anak_2533058.htm#fromView=search&page=1&position=8&uuid=39eeaa8e-96e7-4f26-be48-36a1c2b4d3e9&query=bully )
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Bullying : Sumber ( https://idn.freepik.com/foto-gratis/pesan-bahasa-spanyol-menentang-perundungan-di-tangan-anak-anak_2533058.htm#fromView=search&page=1&position=8&uuid=39eeaa8e-96e7-4f26-be48-36a1c2b4d3e9&query=bully )

Generasi Strawberry menjadi perhatian serius dalam diskursus pendidikan karena menunjukkan gejala rapuhnya karakter dan meningkatnya intoleransi di sekolah. Pernahkah Anda melihat strawberry? Buah yang cantik dan merah merona, tetapi mudah memar saat tersentuh sedikit keras. Istilah “generasi strawberry” kini viral untuk menggambarkan anak muda zaman sekarang yang mudah tersinggung, gampang baper, dan cepat merasa terancam ketika pendapatnya dibantah

Cukup mengamati dinamika di platform digital, kita akan menyaksikan berbagai konflik interpersonal: hubungan pertemanan yang putus karena perbedaan preferensi politik, pemblokiran kontak akibat pandangan keagamaan yang tak sejalan, bahkan intimidasi digital terhadap individu yang dianggap menyinggung kepekaan tertentu. Situasi ini makin mengkhawatirkan ketika merembes ke ranah akademis. Riset yang dilakukan PPIM UIN Jakarta pada 2018 mengungkap fakta mengejutkan: hampir tujuh dari sepuluh tenaga pendidik menunjukkan kecenderungan sikap tidak toleran, sementara hampir separuh dari populasi pelajar dan mahasiswa memiliki pandangan yang kurang inklusif terhadap kelompok minoritas.

Bukankah institusi pendidikan seharusnya menjadi ruang pembelajaran untuk menghargai keragaman? Mengapa justru menjadi tempat tumbuhnya sikap eksklusif?

Diagnosis Generasi Strawberry: Pendidikan yang Kehilangan Jiwanya

Persoalan mendasarnya cukup gamblang namun krusial: sistem pembelajaran kita terlampau berorientasi pada memorisasi dan prosedur formal, namun mengabaikan makna substantif. Mata pelajaran keagamaan, sebagai contoh, lebih menekankan aspek ritual dan doktrin, tetapi kurang menyentuh prinsip-prinsip humanis seperti sikap toleran, kemampuan berempati, dan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Firman Allah dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 dengan tegas mengingatkan:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa."

Ayat ini memberikan petunjuk eksplisit: keberagaman merupakan ketetapan ilahi, bukan sebuah anomali. Tujuan penciptaan yang beragam bukan untuk kompetisi supremasi atau arogansi keyakinan, melainkan untuk membangun pemahaman mutual (lita'arafu). Sayangnya, praktik pendidikan kita sering mengabaikan filosofi mulia ini.

Konsekuensinya? Terlahir generasi yang secara intelektual cakap—mampu menghafal kitab suci, menguasai sains, fasih berbahasa asing—namun rapuh dalam dimensi emosional dan sosial. Mereka tidak terbiasa menghadapi perbedaan perspektif, tidak terlatih berdialog konstruktif dengan pandangan alternatif, sehingga mudah merasa terancam saat berhadapan dengan pluralitas.

Solusi dari Dua Pemikir Terkemuka Bangsa

Beruntung, kita mewarisi khazanah pemikiran dari dua intelektual Islam Indonesia yang brilian: KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Nurcholish Madjid (Cak Nur). Meskipun memiliki pendekatan yang berbeda, keduanya menawarkan jawaban yang sangat aplikatif untuk mengatasi krisis pendidikan kontemporer.

1. Pemikiran Gus Dur: Pendidikan yang Merangkul Keberagaman

Gus Dur konsisten mengadvokasi bahwa pendidikan Islam harus bersifat inklusif dan menghargai multikulturalisme. Dalam pandangannya, esensi Islam bukan semata praktik ibadah ritual, melainkan bagaimana kita berinteraksi dengan sesama makhluk dengan penuh kasih tanpa diskriminasi berdasarkan agama, etnis, maupun ras.

Beliau sering merujuk pada hadis Rasulullah yang diriwayatkan Imam Muslim:

"الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ"

"Seorang muslim (sejati) adalah orang yang kaum muslimin lain selamat dari (gangguan) lisan dan tangannya." (HR. Muslim)

Bahkan dalam riwayat berbeda, konsep ini diperluas mencakup seluruh manusia, bukan eksklusif untuk sesama muslim. Inilah hakikat pendidikan Islam menurut Gus Dur: menciptakan atmosfer keamanan dan ketentraman bagi semua umat manusia.

Bayangkan bila sejak usia dini, anak-anak diajarkan: "Kalian boleh tak sependapat dengan teman, namun wajib tetap menghormatinya." Atau: "Teman sekelas yang berbeda keyakinan bukanlah lawan, melainkan bagian dari keluarga besar Indonesia."

Allah juga menegaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 256:

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ

"Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama."

Ayat ini mengajarkan prinsip kebebasan beragama dan berkeyakinan. Pendidikan yang otentik seharusnya menanamkan nilai ini, bukan justru menumbuhkan sikap memaksa dan eksklusif.

Menurut Gus Dur, tujuan sejati pendidikan Islam bukan sekadar mencetak penghafal Al-Qur'an, tetapi membentuk karakter mulia individu yang berempati tinggi, toleran, dan mampu hidup harmonis dalam keberagaman.

2. Pemikiran Cak Nur: Pendidikan untuk Berpikir Kritis

Cak Nur memiliki pendekatan yang berbeda namun komplementer. Beliau menekankan urgensi pendidikan yang mengajarkan pluralisme sebagai realitas yang tidak dapat dihindari. Bagi Cak Nur, keberagaman bukan ancaman, melainkan anugerah yang patut disyukuri dan dijaga.

Cak Nur kerap mengacu pada Surah Al-Ma'idah ayat 48:

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

"Dan sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi (Dia hendak) menguji kamu terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah dalam kebaikan."

Ayat ini luar biasa signifikan! Allah dengan kemahakuasaan-Nya dapat menjadikan seluruh manusia uniform satu agama, satu pemikiran. Namun Dia tidak melakukannya. Alasannya? Karena perbedaan adalah bentuk ujian sekaligus rahmat. Yang dituntut dari kita bukanlah saling melemahkan, melainkan berkompetisi dalam kebajikan (fastabiqul khairat).

Beliau juga mengkritik sistem pendidikan yang terlalu doktriner dan tekstualis. Menurutnya, generasi muda perlu dilatih untuk berpikir kritis, bersikap terbuka, dan tidak rigid (kaku). Bukan hanya menghafal teks suci, tetapi memahami konteksnya, menangkap nilai universalnya, dan mengaplikasikannya dalam realitas kehidupan.

Cak Nur juga memperkenalkan konsep "kalimatun sawa" yang bersumber dari Surah Ali Imran ayat 64:

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ

"Katakanlah (Muhammad), 'Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu.'"

Ini bukan bermakna mencampuradukkan akidah, tetapi menemukan nilai-nilai universal yang dapat menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat. Di sini Pancasila menjadi relevan sebagai platform bersama untuk memelihara kebhinekaan.

Keteladanan Rasulullah sebagai Pendidik Multikultural

Penting dicatat bahwa Rasulullah ﷺ adalah model ideal pendidik multikultural. Saat membangun masyarakat Madinah, beliau tidak memaksakan Islam pada seluruh penduduk. Justru beliau menyusun Piagam Madinah, sebuah konstitusi yang menjamin hak-hak semua warga, termasuk komunitas Yahudi.

Dalam salah satu pasal Piagam Madinah tertulis:

"Komunitas Yahudi dari Bani 'Auf merupakan satu kesatuan dengan komunitas muslim. Kaum Yahudi berhak atas agama mereka, dan kaum muslim atas agama mereka."

Ini adalah bukti konkret bahwa Islam mengajarkan toleransi dan respek terhadap perbedaan sejak 14 abad silam!

Rasulullah juga bersabda dalam hadis riwayat Imam Ahmad:

"النَّاسُ سَوَاءٌ كَأَسْنَانِ الْمُشْطِ"

"Manusia itu sama seperti gigi sisir." (HR. Ahmad)

Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Semua sama kedudukannya sebagai makhluk Allah. Yang membedakan hanya ketakwaan.

Implementasi Praktis: Langkah-Langkah Konkret

Teori memang esensial, tetapi bagaimana penerapannya? Berikut beberapa strategi aplikatif yang dapat diimplementasikan di institusi pendidikan:

1. Reformasi Kurikulum PAI dan PKn

Integrasikan secara eksplisit nilai-nilai multikulturalisme, toleransi, empati, dan dialog antariman yang berbasis Al-Qur'an dan hadis. Jangan hanya teoretis, tetapi sajikan kasus nyata dan fasilitasi diskusi siswa. Ajarkan bahwa Surah Al-Hujurat ayat 13 bukan sekadar teks hafalan, melainkan panduan hidup.

2. Pengembangan Kapasitas Pendidik

Ingat data PPIM? Hampir 70% pendidik menunjukkan kecenderungan intoleran! Ini sinyal bahaya. Para guru memerlukan pelatihan komprehensif tentang pendidikan inklusif dan multikultural berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah. Bila pendidiknya sendiri tidak toleran, bagaimana dapat membentuk peserta didik yang toleran?

3. Pembelajaran Eksperiensial

Fasilitasi siswa untuk mengunjungi tempat ibadah berbagai agama (dengan tetap menghormati keyakinan masing-masing), berpartisipasi dalam aktivitas sosial lintas agama, atau menghadiri diskusi panel dengan narasumber dari beragam latar belakang. Biarkan mereka mengalami langsung keindahan keberagaman, sebagaimana Rasulullah mempraktikkan toleransi di Madinah.

4.Literasi Digital dan Media Sosial

Generasi Z dan milenial menghabiskan waktu signifikan di platform digital. Ajarkan mereka literasi digital berbasis akhlak Islam. Ingatkan hadis Nabi:

"مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ"

"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari & Muslim)

Hadis ini sangat relevan untuk mengatasi hate speech dan cyberbullying yang merajalela di media sosial.

5. Prioritas pada Pembentukan Karakter

Nabi ﷺ bersabda:

"إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ"

"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Ahmad)

Jika misi utama Rasulullah adalah menyempurnakan akhlak, mengapa pendidikan kita lebih fokus pada nilai ujian daripada pembentukan karakter? Saatnya kembali ke prioritas yang benar.

Penutup: Transformasi Generasi Sensitif menjadi Generasi Tangguh

Generasi yang sensitif bukan berarti generasi yang gagal. Mereka cerdas, kreatif, dan memiliki akses informasi yang sangat luas. Yang mereka perlukan hanya pendidikan yang tepat—pendidikan yang tidak hanya memenuhi pikiran mereka dengan informasi, tetapi juga memenuhi hati mereka dengan empati dan kearifan, sebagaimana diajarkan Al-Qur'an dan dicontohkan Rasulullah.

Allah ﷻ berfirman dalam Surah Al-Anbiya ayat 107:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam."

Inilah hakikat Islam: rahmatan lil 'alamin rahmat bagi semua alam. Bukan eksklusif untuk muslim, tetapi untuk seluruh makhluk. Sistem pendidikan kita harus merefleksikan nilai ini.

Gus Dur dan Cak Nur telah memberikan kerangka kerja dengan landasan Al-Qur'an dan Sunnah. Sekarang giliran kita para pendidik, orang tua, dan pembuat kebijakan untuk merealisasikannya. Karena masa depan Indonesia yang harmonis dan makmur bergantung pada kualitas pendidikan yang kita berikan kepada generasi hari ini.

Ingatlah: buah strawberry memang lembut, tetapi bila dirawat dengan tepat, akan menghasilkan rasa yang manis dan menyegarkan. Demikian pula generasi muda kita. Dengan pendidikan Islam yang autentik yang inklusif, toleran, dan penuh kasih sayang sebagaimana diajarkan Al-Qur'an mereka akan menjadi generasi yang tangguh, bijaksana, dan menjadi berkah bagi bangsa dan dunia.

Wallahu a'lam bishawab.

Ingat: strawberry memang lembut, tapi kalau dirawat dengan benar, rasanya manis dan menyegarkan. Begitu pula dengan generasi muda kita. Dengan pendidikan Islam yang benar yang inklusif, toleran, dan penuh kasih sayang sebagaimana diajarkan Al-Qur'an mereka akan menjadi generasi yang kuat, bijaksana, dan menjadi rahmat bagi bangsa dan dunia.

Wallahu a'lam bishawab

Penulis: [Yusuf Setyaji]

Mahasiswa Pascasarjana UIN Siber Syeikh Nurjati Cirebon