Konten dari Pengguna
Menjaga Rasa, Menjaga Gizi: Kunci Sukses MBG
28 Agustus 2025 16:21 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Menjaga Rasa, Menjaga Gizi: Kunci Sukses MBG
Program MBG bukan hanya soal gizi, tapi juga soal rasa. Tanpa rasa lezat, gizi tak akan terserap maksimal
Sigid Mulyadi
Tulisan dari Sigid Mulyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Sudah menjadi rahasia umum bahwa lidah masyarakat Indonesia, termasuk anak-anak, sangat akrab dengan penyedap rasa. Dari dapur rumah tangga hingga warung pinggir jalan, micin atau bumbu instan hampir selalu hadir. Hasilnya memang instan: makanan terasa lebih gurih, lebih sedap, dan lebih mudah diterima.
ADVERTISEMENT
Namun, ada konsekuensi. Para ahli gizi mengingatkan bahwa penggunaan penyedap secara berlebihan tidak baik bagi kesehatan jangka panjang. Meski tidak berbahaya bila dipakai dalam batas wajar, konsumsi rutin dalam jumlah besar dikaitkan dengan peningkatan risiko hipertensi, obesitas, hingga gangguan metabolisme.
Masalahnya, lidah kita sudah telanjur terbiasa. Akibatnya, ketika dihadapkan pada makanan tanpa penyedap rasa, komentar yang muncul hampir selalu sama: “kurang enak” atau “tidak ada rasanya.”
Tantangan pada Program MBG
Fenomena ini juga mulai terasa pada pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah sekolah. Ada anak-anak yang menolak menu MBG karena dianggap hambar. Jika jumlahnya sedikit, mungkin bisa dimaklumi. Tetapi jika banyak, persoalan ini bisa mengganggu tujuan besar program: memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan gizi seimbang untuk mendukung pertumbuhan dan kecerdasan mereka.
ADVERTISEMENT
Hal ini menegaskan fakta penting: gizi tidak akan sampai bila tidak dimakan. Menu sehat hanya bermanfaat jika benar-benar dikonsumsi dengan lahap.
Mengapa Rasa Begitu Penting?
Anak-anak lebih memilih makanan yang familiar di lidah mereka. Sementara itu, budaya konsumsi masyarakat kita masih sangat dipengaruhi oleh rasa gurih, asin, dan manis. Tak heran bila makanan bergizi sering dianggap kalah menarik dibandingkan mi instan, gorengan, atau jajanan.
Dalam kondisi ini, MBG menghadapi tantangan ganda: menyediakan makanan bergizi sekaligus memastikan rasanya bisa diterima anak-anak.
Pertanyaannya: bagaimana menghadirkan menu sehat tanpa kehilangan daya tarik rasa?
Di sinilah perlu ada inovasi. Tentu bukan penulis yang paling tahu cara teknisnya, melainkan para ahli gizi, pakar pangan, dan praktisi kuliner sehat. Tetapi secara umum, Indonesia memiliki modal besar: kekayaan rempah, sayur, dan bahan pangan lokal yang bisa dikembangkan menjadi alternatif penguat rasa yang lebih sehat.
ADVERTISEMENT
Kaldu jamur, ekstrak rumput laut, fermentasi kedelai, atau racikan rempah Nusantara bisa menjadi inspirasi. Namun, ide ini perlu ditindaklanjuti lewat riset serius, standardisasi, dan dukungan dari Badan Gizi Nasional (BGN). Jika upaya itu dilakukan, bukan tidak mungkin Indonesia kelak memiliki “penyedap sehat nasional” yang praktis, terjangkau, dan aman digunakan di dapur MBG maupun rumah tangga.
Tantangan Dapur Besar
Selain soal bumbu, ada faktor teknis yang tak kalah penting: kemampuan memasak dalam skala besar.
Mengolah makanan untuk ratusan anak jelas berbeda dengan memasak untuk keluarga. Kesalahan kecil dalam takaran, cara mengolah, atau lama memasak bisa membuat cita rasa hilang. Jangan-jangan, keluhan “kurang enak” dari sebagian anak sebenarnya bukan karena ketiadaan penyedap, tetapi karena dapur MBG masih beradaptasi dengan sistem masak massal.
ADVERTISEMENT
Karena itu, SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) bersama BGN perlu memperkuat pelatihan teknis, panduan memasak massal, hingga quality control. Dengan begitu, standar rasa dan kualitas bisa lebih konsisten di seluruh sekolah penerima MBG.
Selain aspek teknis, ada tantangan kultural. Literasi gizi masyarakat kita masih rendah. Banyak yang beranggapan makanan enak identik dengan gorengan atau makanan berminyak. Padahal, makanan sehat pun bisa enak bila diolah dengan tepat.
Di sini, MBG punya peluang menjadi sarana edukasi rasa. Anak-anak bisa diajak mencicipi variasi menu sehat, belajar tentang rempah, bahkan terlibat dalam kegiatan memasak sederhana. Dengan cara itu, mereka perlahan memahami bahwa “enak” tidak harus berarti “instan.”
Festival Menu MBG
Sebagai langkah kreatif, BGN dapat menginisiasi "Festival Inovasi Menu MBG”. Dapur MBG atau SPPG bisa berkompetisi menghadirkan menu bergizi yang enak, menarik, dan sesuai selera anak-anak.
ADVERTISEMENT
Kreasi terbaik bisa dibagikan sebagai standar menu nasional. Dapur lain bisa belajar dari inovasi tersebut, sehingga kualitas rasa meningkat tanpa harus mengorbankan gizi.
Program Makan Bergizi Gratis adalah investasi besar untuk masa depan bangsa. Namun, keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh banyaknya sekolah penerima atau jumlah dapur yang dibangun. Keberhasilan sejati MBG ada di piring anak-anak: apakah mereka mau makan dengan lahap dan bahagia.
Karena itu, rasa tidak boleh dianggap sepele. Ia adalah jembatan agar gizi benar-benar terserap. Dengan inovasi penguat rasa alami yang dikembangkan para ahli, perbaikan teknik masak massal, kontrol mutu yang ketat, dan edukasi rasa sejak dini, MBG bisa menjadi program yang bukan hanya sehat di atas kertas, tetapi juga lezat di lidah dan hati anak-anak Indonesia.
ADVERTISEMENT
Jika gizi adalah tujuan, maka rasa adalah jalannya. Dan jalan itu harus kuat agar generasi mendatang tumbuh lebih sehat, cerdas, dan tangguh.

