Pesan SBY di Dies Natalis ke-68 FISIP Unpad

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden Indonesia ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menghadiri acara Orasi Ilmiah dalam rangka Dies Natalis FISIP Unpad ke-68 di kampus UNPAD Jatinagor, Rabu (14/10/2026). Foto: YouTube/ Humas FISIP UNPAD
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Indonesia ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menghadiri acara Orasi Ilmiah dalam rangka Dies Natalis FISIP Unpad ke-68 di kampus UNPAD Jatinagor, Rabu (14/10/2026). Foto: YouTube/ Humas FISIP UNPAD

Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan orasi ilmiah dalam Dies Natalis ke-68 FISIP Universitas Padjadjaran (Unpad), Selasa (13/10). Ia menyampaikan sejumlah pesan dalam pidatonya.

SBY membicarakan soal target Indonesia Emas 2045, perkembangan kecerdasan buatan (AI), hingga posisinya yang kini menjadi seniman.

Berikut rangkuman pesan SBY:

Prabowo Batuk, Nilai Tukar Rupiah dan Saham Bisa Jatuh

SBY melontarkan candaan saat akan memulai orasi ilmiahnya. Ia yang datang dalam kondisi batuk meminta hadirin untuk maklum. Menurutnya, kondisi batuk-batuk pada dirinya tak akan menjadi masalah karena dirinya tak lagi menjabat presiden, melainkan sudah banting setir sebagai seniman.

SBY pun berseloroh, bila yang batuk adalah Presiden Prabowo Subianto, maka publik harus berhati-hati karena batuknya yang terlalu keras bisa menyebabkan nilai tukar rupiah hingga saham anjlok.

video from internal kumparan
kumparan post embed

Indonesia Emas 2045

Dalam kesempatan tersebut, SBY berbagi pengalaman selama memimpin Indonesia selama dua periode, sekaligus menyampaikan pandangannya mengenai tantangan bangsa menuju 2045.

SBY mengaku cenderung berhati-hati dalam memandang target Indonesia Emas 2045. Ia menilai optimisme terhadap masa depan bangsa perlu disertai keyakinan bahwa target yang ditetapkan benar-benar dapat dicapai.

“Banyak yang mengatakan tahun 2045 kita akan mengalami Indonesia Emas. Saya agak konservatif, tambahkan insyaallah,” kata SBY.

Menurutnya, penetapan tujuan jangka panjang tidak cukup hanya dengan menetapkan target besar. Pemerintah dan para pemimpin perlu memperhitungkan rentang waktu, sumber daya, serta kondisi perkembangan Indonesia agar cita-cita tersebut dapat diwujudkan.

“Kalau menetapkan goal atau tujuan itu harus diyakini realistis, do-able, dan achievable,” ujarnya.

kumparan post embed

Sekarang Seniman, Tak Lagi Aktif Politik Praktis

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melukis di tepi Sungai Mississippi, Minnesota, Amerika Serikat. Foto: YouTube/ Susilo Bambang Yudhoyono

SBY menyebut dirinya kini telah jauh dari politik praktis dan tengah menekuni dunia seni serta olahraga. Ia mengaku sedang menjalani fase kehidupan baru setelah melewati perjalanan panjang di dunia militer dan pemerintahan.

"Saya sekarang seniman, tidak lagi aktif di politik praktis, politik kekuasaan, apalagi day-to-day politics," kata SBY.

"Sudah ada generasi yang lebih muda. Orang tua, mentor, hanya memberikan dorongan, restu, blessing, agar mereka sukses dalam menjalankan misi politik," sambungnya.

kumparan post embed

Khawatir dengan AI

Ilustrasi belajar AI. Foto: Digineer Station/Shutterstock

SBY mengungkapkan kekhawatirannya terhadap perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang semakin pesat. Dia menilai, kemajuan teknologi tersebut perlu diimbangi dengan kemampuan manusia untuk mengendalikan arah perkembangannya.

SBY mengatakan, kegelisahan terhadap perkembangan AI juga mulai dirasakan oleh berbagai kalangan di dunia, termasuk para insinyur yang terlibat langsung dalam pengembangan teknologi tersebut.

"Saya rada cemas dengan AI, dan cemas itu hak saya, jangan dimarahi," kata SBY.

Dia mengaku mengikuti diskusi mengenai perkembangan AI di sejumlah negara, termasuk Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang. Dari pembahasan tersebut, SBY menangkap adanya kekhawatiran mengenai arah pengembangan teknologi kecerdasan buatan di masa depan.

Menurutnya, salah satu hal yang menarik adalah munculnya kegelisahan dari para pengembang AI sendiri. Mereka dinilai mulai mempertanyakan sejauh mana teknologi tersebut akan berkembang dan bagaimana dampaknya terhadap kehidupan manusia

SBY juga menyinggung adanya pemimpin perusahaan teknologi AI yang mulai menyerukan agar laju pengembangannya diperlambat. Menurut dia, hal tersebut menjadi sinyal bahwa perkembangan AI perlu dibicarakan secara serius, bukan semata-mata dijadikan ajang perlombaan teknologi.

Dia mengingatkan, jika manusia tidak mampu mengendalikan perkembangan AI, bukan tidak mungkin teknologi tersebut justru mengambil alih kendali atas kehidupan manusia.

Karena itu, SBY mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan negara-negara besar, terutama Amerika Serikat dan China, untuk membangun kesepakatan bersama mengenai batas-batas pengembangan AI.

Dia menilai persaingan kedua negara untuk menjadi pemimpin dalam penguasaan teknologi kecerdasan buatan tidak boleh berlangsung tanpa kendali. Sebab, dampak dari perlombaan tersebut berpotensi dirasakan oleh negara-negara lain yang tidak terlibat langsung dalam persaingan.

"Harus ada konvensi, harus ada protokol, harus ada konsensus, how far should AI go, menurut saya," kata SBY.

Meski menyampaikan kekhawatiran, SBY tidak menampik bahwa AI dapat memberikan manfaat besar bagi Indonesia. Menurut dia, teknologi tersebut tetap perlu dikembangkan dan dimanfaatkan untuk mendukung berbagai sektor strategis, mulai dari pendidikan, pertahanan, hingga perekonomian.

kumparan post embed

Statesman Tak Harus Mantan Presiden

video from internal kumparan

SBY bicara soal sikap negarawan. Menurutnya, seorang negarawan harus mampu menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi maupun partai politik.

Ia menegaskan bahwa negarawan tidak selalu identik dengan seseorang yang pernah menjabat sebagai presiden. Menurutnya, kualitas kenegarawanan ditentukan oleh cara seseorang memandang dan memperjuangkan kepentingan bangsa.

“Statesman, statesmen itu tidak harus mantan presiden. Bukan semua bisa menjadi negarawan, kalau memikirkan kepentingan bangsa dan negaranya,” ujarnya.

SBY menggarisbawahi prinsip country over party sebagai salah satu pegangan penting dalam kehidupan politik. Ia mengingatkan agar partai politik tidak menjadi tujuan utama hingga mengesampingkan kepentingan negara.

“Country over party. Country first. Jangan dibalik. Jangan partai politik yang diutamakan, negaranya belakangan. Wrong,” tegasnya.

kumparan post embed

Minta Kampus Tetap Kritis

Presiden Indonesia ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menghadiri acara Orasi Ilmiah dalam rangka Dies Natalis FISIP Unpad ke-68 di kampus UNPAD Jatinagor, Rabu (14/10/2026). Foto: YouTube/ Humas FISIP UNPAD

SBY meminta perguruan tinggi tetap menjadi ruang bagi pemikiran yang cerdas, kritis, dan independen. Menurutnya, kampus tidak cukup hanya melahirkan orang-orang pintar, tetapi juga harus membentuk pribadi yang bijaksana dan berkarakter.

SBY menegaskan, civitas academica tidak perlu takut menyampaikan kebenaran selama didasarkan pada ilmu pengetahuan. Dia menilai, pandangan akademisi dan para ahli perlu mendapat tempat dalam proses pengambilan kebijakan, termasuk ketika berhadapan dengan kepentingan politik.

"Teruslah menjadi rumah bagi pemikiran yang cerdas, kritis dan independen, jangan takut. Jangan takut menyampaikan kebenaran berdasarkan ilmu pengetahuan," kata SBY.

Dia mencontohkan persoalan perubahan iklim yang kini berkembang menjadi krisis iklim. Menurutnya, pandangan para ahli, ilmuwan, dan inovator terkadang justru terbayangi oleh pemikiran para politisi atau pemimpin politik.

Dalam persoalan yang membutuhkan keahlian khusus, SBY menekankan pentingnya menempatkan ilmu pengetahuan sebagai dasar pengambilan keputusan. Dia meminta para pemimpin politik bersedia mendengarkan masukan dari kalangan ilmiah.

"Kalau urusan itu serahkan pada ahlinya, politician must listen to scientists. Politics must follow science," ujarnya.

kumparan post embed