Konten Media Partner

2 Anak Asal Bantul Meninggal karena Gagal Ginjal, Dinkes Bentuk Tim Khusus

Tugu Jogjaverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Dinas Kesehatan Bantul berikan tanggapan usai ada 2 anak dari daerah mereka meninggal karena gagal ginjal, Kamis (20/10/2022). Foto: erfanto/Tugu Jogja
zoom-in-whitePerbesar
Dinas Kesehatan Bantul berikan tanggapan usai ada 2 anak dari daerah mereka meninggal karena gagal ginjal, Kamis (20/10/2022). Foto: erfanto/Tugu Jogja

Bayi berumur 7 dan 11 bulan asal Kapanewon Piyungan dan Sedayu Kabupaten Bantul meninggal karena gagal ginjal akut. Dua anak tersebut sempat menjalani perawatan di RSUP Dr Sardjito.

Kadinkes Bantul, Agus Budi Rahardjo menuturkan terkait dengan kasus Gangguan Ginjal Akut pada anak atau yang sering disebut AKI. Pada hakikatnya ternyata pihaknya baru mendapat notifikasi Rabu (19/10/2022) sore.

Dengan demikian Dinas Kesehatan belum mengetahui riwayat penyakit atau konsumsi obat dari dua balita tersebut. Karena mereka baru melakukan pencermatan dengan verifikasi ke kediaman dua balita tersebut.

"Kami mendapat notifikasi kemarin (Rabu) sore otomatis kami bekerja Kamis pagi, petugas kami mendatangi lokasi kediaman yang bersangkutan," kata dia, Kamis (20/10/3022)

Verifikasi tersebut sangat penting untuk mengetahui riwayat anak tersebut. Mereka juga akan melakukan penyelidikan apa pun terkait epidemiologi kedua anak itu.

Hasil pemeriksaan dan verifikasi ini akan mereka sampaikan ke Dinas Kesehatan DIY dan diteruskan ke Kemenkes untuk diambil kesimpulan penyebabnya. Karena sampai saat ini penyebab Gangguan Ginjal Akut pada anak memang masih misterius.

"Kasus ini menjadi marak belakangan ini," kata dia.

Dan sesuai dengan apa yang diketahui gejala utama adalah pengurangan atau penurunan jumlah buang air kecil atau tidak bisa sama sekali. Sehingga masyarakat yang memiliki anak kecil harus melakukan pemantauan secara ketat.

kumparan post embed

Ia mengimbau kepada masyarakat menemukan gejala penurunan frekuensi atau jumlah air kecil atau sama sekali tidak bisa buang air kecil pada anaknya, maka untuk segera periksakan ke faskes. Tujuannya agar mendapat penanganan semestinya dan tidak terlambat.

"Minimal ke Faskes yang punya alat PICU," kata dia.

Agus menambahkan, gejala yang muncul tersebut perlu kewaspadaan lebih terutama untuk mereka yang berada di umur sampai 18 tahun. Namun mayoritas memang masih dialami di bawah usia 5 tahun.

Di mana pasien-pasien ini mengalami penurunan urine. Padahal sebelumnya tidak pernah mengalami kelainan masalah ginjal. Namun demikian penyakit ini bisa ditunjukkan dengan demam gejala infeksi lain seperti diare, ataupun gejala panas yang ada.

"Kami membentuk tim, tetapi bukan satgas," ujar dia.

Pihaknya selalu mengimbau kepada masyarakat yang memiliki anak kecil ketika mengalami gejala pengurangan jumlah urine atau bahkan tidak bisa sama sekali maka harus segera dibawa ke rumah sakit. Untuk gejala awal bisa dibawa Puskesmas dan kemudian merujuk ke rumah sakit sesuai ketentuan Kemenkes.

"Kami baru akan menentukan rumah sakit rujukan," tambahnya.