Konten Media Partner

Bus Padati Pantai Parangtritis, Modusnya Datang Dini Hari hingga Lakukan Baksos

Tugu Jogjaverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kawasan Pantai Parangtritis. Foto: Erfanto/Tugu Jogja
zoom-in-whitePerbesar
Kawasan Pantai Parangtritis. Foto: Erfanto/Tugu Jogja

Meskipun ada penyekatan petugas gabungan di pintu masuk, namun kemungkinan masih banyak wisatawan yang bisa masuk ke Pantai Parangtritis. Banyak bus pariwisata terpantau terparkir di kawasan pantai Parangtritis pada Minggu (12/9/2021) kemarin.

Sebuah video cukup banyak bus pariwisata yang parkir di kawasan pantai Parangtritis hari Minggu (11/9/2021) kemarin beredar luas melalui aplikasi pesan WhatsApp. Dari video berdurasi singkat tersebut memperlihatkan bus-bus pariwisata terpakir berjajar hanya menyisakan sela (lorong) sempit.

kumparan post embed

Sejak video beredar, muncul pertanyaan bagaimana bus-bus pariwisata tersebut bisa masuk ke kawasan Pantai Parangtritis. Pasalnya pemerintah belum mencabut Pemberlakuan Pengetatan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 3 dan wisata masih ditutup.

Penyekatan di pintu-pintu masuk kawasan Parangtritis terutama di depan Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) baik yang utama ataupun yang berada di kawasan Pantai Depok dilakukan oleh petugas gabungan mulai dari TNI/Polri, Sat Pol PP, Dinas Perhubungan dan juga petugas TPR itu sendiri.

Ketika dikonfirmasi ternyata warga Parangtritis tak menampik perihal video tersebut. Mereka mengakui memang banyak wisatawan yang berhasil masuk ke kawasan pantai Parangtritis. Bahkan hari Minggu (12/9/2021) kemarin jumlahnya bisa mencapai puluhan.

Salah seorang pemilik warung makan di pantai Parangtritis yang enggan disebutkan namanya tak menampik adanya puluhan bus pariwisata yang masuk ke Pantai Parangtritis. Ia sendiri menerima puluhan trip rombongan bus pariwisata di hari Minggu kemarin.

"Saya sendiri ada 40 trip dari Jawa Timur," ujar dia, Senin (12/9/2021).

Masuknya bus-bus pariwisata tersebut sebenarnya sudah kerjasama antara perusahaan otobus dengan para pedagang di pantai tersebut. Meski sudah mengetahui jika PPKM level 3 belum dicabut namun mereka tetap nekat memasukkan wisatawan.

Aksi nekat tersebut mereka lakukan karena alasan yang kuat. Mereka selama 2 tahun ini sudah tidak menerima wisatawan. Terlebih selama PPKM berlangsung, hidup mereka sudah kian terjepit. Harta mereka sudah berkurang karena banyak yang menjual asetnya.

"Kami sudah 2 tahun tidak menerima tamu. Kami harus makan, kalau ndak kucing-kucingan ya gimana lagi. Ngapusi (bohong) sedikit ndak papa," papar dia.

kumparan post embed

Selama ini, wisatawan akan menuruti anjuran dari warga Parangtritis jika memang ingin berwisata di Pantai terkemuka ini. Salah satunya adalah wisatawan datang ke pantai ketika masih dinihari. Karena saat itu, petugas gabungan belum melaksanakan penyekatan.

Wisatawan bahkan rela datang jam 2 pagi untuk datang ke pantai. Pasalnya ketika wisatawan datang dinihari, maka mereka tidak akan terkena penyekatan di TPR. Karena saat dinihari tidak ada petugas gabungan yang melakukan penyekatan.

"Petugas yang melakukan penyekatan tidak mungkin meminta mereka putar balik ketika keluar dari pantai melalui TPR yang dijaga," ujarnya.

Warga Parangtritis yang lain, Agus juga mengakui hal tersebut. Selama ini memang sudah banyak wisatawan yang datang ke pantai parangtritis. Tidak hanya Minggu kemarin, namun akhir pekan sebelumnya puluhan bus wisatawan berhasil masuk ke kawasan pantai Parangtritis.

Suasana bus yang memadati Pantai Parangtritis Yogyakarta. Foto: istimewa.

"Modusnyapun cukup unik agar mereka bisa leluasa untuk masuk ke kawasan Parangtritis. Mereka itu banyak yang dari Jawa Timur. Dari sana mereka membawa paket sembako dan dibagikan ke warga di sini. Jadi modusnya itu bhakti sosial," tambahnya.

Di sela bagi-bagi sembako sebagian dari penumpang bus tersebut bermain-main di pantai. Setelah puas bermain air di pantai, mereka langsung melanjutkan perjalanan ke pusat oleh-oleh yang ada di seputaran kawasan Malioboro. Di pusat oleh-oleh itu juga mereka diturunkan untuk bagi-bagi paket sembako dan berwisata di kawasan Malioboro.

kumparan post embed

"Tujuannya cuma Parangtritis, Malioboro dan pusat oleh-oleh. Langsung pulang," ungkapnya.

Untuk paket ini, pengusaha bus pariwisata tidak mematok tinggi tarif busnya hanya sekedar uang solar. Namun untuk upah kru, mereka akan mendapatkan dari pusat oleh-oleh yang sebelumnya didatangi. Info yang ia terima, untuk berwisata ke DIY mereka hanya membayar Rp 100 ribu.